
Hari demi hari Puspa dan Madina kini hidup tenang diantara warga yang baik kepada mereka, dengan lapang dada warga menerima kehadiran Puspa dan Madina tanpa mengetahui masa lalu mereka.
Hampir 4 hari juga Lilis berada di rumah orangtuanya, mereka mulai curiga dengan keberadaannya yang sudah cukup lama.
"Lis, ini sudah 4 hari memangnya majikan kamu tidak kerepotan kamu pulang terlalu lama kesini? dan Radit bagaimana kabarnya?"
Pertanyaan Bu Fatimah sangat membuat hati Lilis kesal.
"Apaan sih Bu, terserah Lilis atuh mau kesana sekarang atau lusa, itu urusan Lilis, ibu sudah tidak mau Lilis ada disini, oh ia sekarang ibu kan sudah punya Puspa anak baru ibu yang selalu ibu banggakan, sedangkan aku hanya anak yang suka merepotkan saja"
Lilis menjawab pertanyaan ibunya dengan kasar, dia tidak terima jika sang ibu bertanya seperti itu padanya, dia mengira jika orangtuanya sudah tidak menyayanginya setelah kehadiran Puspa dan Madina diantara mereka.
Bu Fatimah coba menepis semua yang Lilis katakan tentangnya, Bu Fatimah hanya menghawatirkan cucu dan pekerjaan Lilis disana.
Namun ternyata Lilis salah paham dengan semua pertanyaannya, Bu Fatimah pun mengalah, dia tidak mau berdebat dengan anak bungsunya itu, karena Lilis memang berwatak keras kepala dan egois dari dulu.
Saat Lilis keluar rumah untuk sekedar membeli shampo di warung tetangga, dia mendengar semua sedang membicarakan kue buatan Puspa yang selalu dia titip di setiap warung di sekitar kontrakannya.
"Kue buatan Puspa enak ya, pintar sekali dia buatnya, nanti kalau saya ada pengajian biar saya pesan sama Puspa saja lah"
Ucap salah satu ibu yang jajan di warung yang sama dengan Lilis.
Lilis tidak suka semua orang memuji masakan Puspa,
Dia mencari cara agar semua orang tidak lagi membeli kue nya.
Saat Lilis masuk kedalam warung, dia mencoba mendekati kue milik Puspa yang tertata di depan meja, dengan sengaja dia menempelkan sehelai rambut di kue Puspa.
"Enak apa nya Bu, kue tidak higienis begini disebut enak, lihat saja tuh ada rambut menempel di kue buatan Puspa"
Dengan tujuan menjatuhkan Puspa, Lilis memperlihatkan kue yang dia maksud pada ibu-ibu yang sedang membicarakan kelezatan kue Puspa.
"Ah yang benar lis, tadi saya lihat bersih ko, gak ada rambut ataupun yang lainnya"
Jawab Bu Ina si pemilik warung, sambil melihat kue yang di maksud Lilis.
__ADS_1
"Ia gak mungkin lis, Puspa kan berjilbab, mana mungkin rambutnya bisa jatuh di kuenya"
"Ia benar tuh Lis, mungkin itu rambut Bu Ina yang terbang ke kue itu, ya kan Bu Ina"
Timpal Bu Reti dengan nadanya yang sedikit bercanda kepada semuanya.
Semua tidak ada yang setuju dengan Lilis, karena faktanya warga sudah melihat dengan sendiri bagaimana sikap Puspa di dunia nyata,
Di Maya warga, Puspa adalah wanita yang baik dan sopan, dia juga ramah dan bersahaja dengan siapapun, dia juga wanita yang kuat Puspa berhasil menjelma sebagai singel mom yang super kuat membesarkan dan mengurus Madina seorang diri.
Dan akhirnya usaha Lilis pun tidak berhasil, dia pun pulang dengan perasaan yang sangat kesal pada Puspa karena tidak berhasil mempermalukannya.
Semenjak orangtuanya lebih dekat dengan Puspa dan Madina, dari sana kebencian nya pada Puspa mulai tumbuh.
"Aku harus melakukan sesuatu agar Puspa tidak lagi dekat dengan kedua orangtuaku, aku ingin dia pergi dari sini"
Sepanjang malam Lilis memikirkan cara untuk mengusir Lilis dari kehidupan kedua orangtuanya.
Sedangkan Puspa dan Madina sedang menikmati ketenangan hidupnya di sana dengan penuh rasa syukur karena di kelilingi orang yang baik.
"Alhamdulillah nak, kue kita di warung Bu Ina dan Bu Isma habis, nanti kita lihat kue di warung Bu Ade ya,"
Pak Mamat dan Bu Fatimah ikut merasa senang dengan kebahagiaan Puspa dengan semua yang dia kerjakan saat ini.
"Kamu memang wanita mandiri nak, kamu kerjakan semua ini sendirian meski Madina terus mengganggumu atau menangis ingin tidur denganmu, kau sangat sabar sekali mengurus Madina yang saat ini memang sedang dalam masa keemasannya"
Satu tahun sudah usia Madina sekarang, usia dimana seorang anak sedang pandai menyerap semua yang di dengar dan dia lihat.
Madina sudah mulai mengerti semua ucapan puspa ataupun orang lain padanya.
Bu Fatimah dan pak Mamat pun semakin menyayangi Madina akan tingkahnya yang lucu.
"Andai anak ibu bisa sebaik dirimu nak"
Kata Bu Fatimah terucap dengan sendirinya mengingat akan sikap Lilis yang selalu kasar padanya.
__ADS_1
"Lilis juga wanita yang sangat baik Bu Fatimah, coba saja ibu ajak bicara dari hati ke hati, mungkin ada satu beban dihatinya yang tidak bisa dia ceritakan hingga Lilis bersikap seperti itu"
Puspa selalu berpikir positif dan membela Lilis ketika Bu Fatimah terus mengeluh akan sikap anaknya itu.
Meski Lilis sering sekali berbicara kasar dan melukai hatinya, Puspa coba sabar dan menerima semuanya, tapi tidak dengan penghinaan nya kepada Madina dulu.
Meski dia sudah memaafkan penghinaan nya itu, namun Puspa akan tetap berusaha agar penghinaan tentang Madina tidak keluar lagi dari mulut Lilis atau siapapun.
***
Keesokan harinya, seperti biasa tiap pagi Puspa menitipkan kue nya sambil menggendong Madina yang juga sudah ikut terbangun di pagi hari.
Puspa juga selalu mengamalkan shodaqoh di pagi hari,
Puspa sengaja selalu membuat kue lebih untuk para jemaah yang pulang berjamaah subuh,
Mereka pun sudah tahu jika ada kue di dalam masjid, pasti itu dari Puspa.
Masyarakat pun menyukai sikap mulia Puspa dan selalu memuji kedermawanan nya itu.
Pak Mamat pun merasa bangga karena telah membawa Puspa tinggal bersamanya di kampung.
"Oh ya, apa nak Puspa tahu tentang bencana longsor yang terjadi di desanya saat dia ikut bersama denganku dulu, saya harus beritahu dia"
Pak Mamat langsung menuju rumah Puspa hendak memberitahu tentang bencana longsor yang terjadi seminggu lalu di Cimahi.
Dan di pertengahan jalan, langkahnya terhenti karena pak Haris si pemilik kontrakan memanggilnya,
Pak mamat pun bertanya mengapa pak Harun memanggilnya.
"Begini pak Mamat"
Pak Haris membisikan sesuatu di telinga pak Mamat yang membuatnya sangat terkejut.
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa membantu bapak, pak Haris sudah mempunyai istri, saya tidak mungkin mendekatkan Puspa dengan bapak"
__ADS_1
Jawab pak Mamat pada pak Haris yang ternyata meminta dia untuk menjodohkan Puspa dengan dirinya.
Pak Haris pun merasa kesal, karena pak Mamat menolak untuk membantunya mendekati Puspa.