Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
keras kepala Lilis


__ADS_3

Pak Mamat yang kala itu coba menghentikan kepergian Lilis, terus memanggilnya dan bertanya hendak pergi kemana Lilis.


"Untuk apa bapak masih bertanya dan menghentikan aku, bukankah bapak senang jika aku pergi dari sini?"


Ujar Lilis dengan nada bicaranya yang keras.


Pak Mamat hanya ingin Lilis meminta maaf pada Puspa karena telah menuduhnya tidak baik, tapi Lilis tetap tidak mau.


Akhirnya Lilis pun pergi dari rumah meninggalkan pak Mamat tanpa berpamitan.


"Ya Allah dosa apa yang telah hamba perbuat, hingga anakku menjadi keras kepala seperti itu? Lindungilah setiap langkah anak hamba"


Ucap pak Mamat yang sedih akan sikap Lilis yang kurang ajar padanya.


...


Di puskesmas, Puspa mulai sadar, dia menanyakan keberadaan Madina pada suster.


"Dimana anak saya sus?"


Tanya Puspa kala tersadar, suster pun mengatakan jika Madina ada bersama neneknya, tapi dia tidak bisa masuk karena masih terlalu kecil untuk besuk ke dalam ruang pasien.


Puspa pun bertanya kapan dirinya bisa pulang, dia ingin segera pulang dan menemui anaknya,


Dokter pun datang bersama pak Ilham.


"Kamu sudah sadar?"


Tanya dr Ambar, dokter yang menangani luka di tangan Puspa,


Pak Ilham pun tersenyum dan merasa tenang karena Puspa akhirnya sadarkan diri.


"Syukurlah kau sudah sadarkan diri,"


Ucap sukur pak Ilham selaku kepala desa yang membawa pisau berobat.


Puspa berterima kasih kepada pak Ilham karena sudah mau menemaninya.


Keduanya pun saling membalas senyum masing-masing.


"Kapan saya bisa pulang dok?"


Puspa kembali bertanya pada sang dokter, dia seakan tidak sabar ingin segera pulang untuk menemui anaknya.


"Sore ini setelah hasil pemeriksaan nak Puspa keluar dan hasilnya bagus, nak Puspa bisa pulang"


Jawab dokter Ambar sedikit membuat perasaan Puspa jauh lebih tenang.

__ADS_1


***


Pak Mamat pun datang menyusul Bu Fatimah dan Madina ke puskesmas, dengan wajah yang sedih dan kecewa, Bu Fatimah pun merasa khawatir.


"Bapak kenapa pak?"


Tanya Bu Fatimah


Pak Mamat yang tertunduk, mulai sedikit tersenyum saat melihat Madina seakan memintanya untuk di gendong.


"Apa nak, mau di gendong kakek ya?"


Tanya pak Mamat tanpa menjawab pertanyaan Bu Fatimah.


Bu Fatimah sudah mengenal betul sikap suaminya itu, dia sudah bisa menebak jika sesuatu sudah terjadi padanya, tapi apa? Itu yang menjadi pertanyaannya sekarang.


Bu Fatimah tidak akan memaksa pak Mamat untuk bercerita saat ini, karena nanti pak Mamat pun pasti akan bicara kepadanya.


Pak Mamat pun masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Puspa.


Madina pun menangis ingin masuk kedalam bersama pak Mamat.


"Jangan ya nak, tunggu ya, kakak hanya sebentar saja"


Namun belum sempat pak Mamat masuk kedalam,


Mereka pun bersyukur karena akhirnya Puspa sudah bisa langsung pulang.


"Kamu tidak apa-apa nak?"


Bu Fatimah dan pak Mamat mencemaskan keadaan Puspa.


Puspa pun tersenyum tenang saat melihat Madina baik-baik saja.


"Anak mama belum tidur? Sini mama gendong yuk"


Saat Puspa menaikan lengan kirinya, rasa sakit pun terasa lagi.


"Ah..."


"Kau tidak apa-apa Puspa"


Dengan segera pak Ilham memegang tangan Puspa yang sakit,


"Tanganmu baru saja di jahit, jadi kamu tidak boleh banyak bergerak dulu untuk sementara waktu ini"


Ujar pak Ilham yang mencemaskan keadaan Puspa.

__ADS_1


Puspa pun menatap wajah pak Ilham yang terlihat sangat takut jika dirinya kesakitan,


"Apa ini? Mengapa dia?"


Semua pertanyaan itu terus bermunculan di pikirannya.


Puspa pun hanya diam dan mendengarkan semua yang dikatakan pak Ilham padanya.


Sedangkan pak Mamat dan Bu Fatimah memperhatikan semua yang terjadi di hadapannya.


Merekapun tidak menyangka jika pak Ilham bisa cemas itu pada Puspa.


Keduanya pun saling tersenyum menatap dengan satu pikiran yang sama.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, sekarang lebih baik kita pulang dan istirahat ya, "


Ucap Bu Fatimah memecah keheningan pasca pak Ilham menasihati Puspa dengan penuh kecemasan.


Pak Mamat pun meminta Puspa untuk pulang ke rumahnya, karena dia tidak akan aman jika pulang ke kontrakan rumah pak Haris, pak Ilham pun setuju dengan saran pak Mamat.


"Tapi bagaimana dengan Lilis?"


Tanya Puspa pada pak Mamat.


"Sudahlah, jangan pikirkan dia lagi, dia sudah tidak ada disini, dia sudah pergi"


Bu Fatimah pun lantas bertanya, mengapa suaminya bisa bicara seperti itu.


Dan akhirnya pak Mamat yang kesal pada Lilis mulai menceritakan yang sebenarnya kepada semua, jika saat ini Lilis sudah pergi entah kemana.


"Loh, memangnya Lilis pergi kemana pak?"


Tanya Bu Fatimah yang mulai mencemaskan keadaan sang anak.


Pak Mamat pun akhirnya menceritakan jika Lilis sudah pergi entah kemana, pak Mamat tidak bisa menghentikannya.


Bu Fatimah pun mulai mengira jika Lilis mungkin kembali ke Jakarta, karena kemana lagi dia akan pergi selain kesana.


Akhirnya Puspa pun tiba di depan rumah pak Mamat,


Puspa pun kembali merasa asing dengan rumah pak Mamat itu.


...


"Terimakasih nak Ilham "


Ucap pak Mamat berterimakasih pada pak Ilham karena telah mengantarkannya ke rumah..

__ADS_1


__ADS_2