Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Nina kembali Sumedang


__ADS_3

Zulham pun coba mengikuti David untuk mencari tahu yang sebenarnya.


"Aku harus mengikutinya,"


David yang berhenti di sebuah stasiun kereta api coba meminta petugas kereta api untuk meminjam ponselnya.


"Maaf pak boleh saya pinjam ponselnya sebentar,ponsel saya mati,saya harus menghubungi seseorang"


Ucap David pada seorang masinis Yeng bernama Radit.


"Oh ya silahkan pak"


Masinis itu pun menyerahkan ponselnya pada David.


Zulham bingung mengapa David meminjam ponsel pada orang lain dan siapa yang akan dia hubungi.


***


Sebulan sudah Puspa dan Nina tinggal di rumah wa Hannah,


Mereka sudah bisa membaur dengan warga sekitar,semua sangat baik dan ramah padanya,


Madina yang lucu pun semakin besar,usianya genap 8 bulan,dia sudah mulai memahami apa yang Puspa katakan kepadanya,


Dia mulai mengenal siapa saja yang selalu bersamanya setiap hari,termasuk wa Hannah dan pak Harun.


Mereka begitu sangat menyayangi Madina,karena mereka merasa jika kehadiran Madina dan puspa di tengah-tengah mereka adlah takdir dari Allah agar mereka bisa merasakan betapa indahnya mengurus seorang bayi meski hanya sekedar membantu mengurus dan mengajaknya bermain,itu sudah menjadi sebuah rasa syukur untuk mereka.


"Madina cantik,Madina sayang,sekarang kita duduk di luar ya"


Ucap wa Hannah yang membantu Puspa menjaganya ketika Puspa sedang bersiap untuk menjajakan dagangannya di depan rumah.


Nina bicara pada Puspa dengan serius,


"Aisyah,kesini sebentar,aku ingin bicara sesuatu padamu"


Puspa yang penasaran karena mimik wajah Nina yang tidak terlihat seperti biasa merasa cemas,apa yang ingin dia bicarakan padanya dengan raut wajah yang serius.


"Ada apa Nina, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Sebenarnya ibu menghubungiku tadi,dia mengatakan jika ibumu sakit parah"


Puspa sangat terkejut mendengar keadaan ibunya yang sakit parah,batinnya menangis sedih mengingat dia tidak bisa menemui ibunya walau pun dia ingin.


Warga kampung sudah mengharamkan dirinya untuk kembali menginjakan kakinya di kampung halaman.


"Apa na, ibu sakit parah, sakit apa ibu dan bagaiman sekarang"

__ADS_1


Tanya Puspa sangat cemas dan khawatir.


Dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya,sehingga wa Hannah pun datang dan bertanya apa yang terjadi.


"Ibu nya Aisyah sakit parah wa"


Ucap Nina pada wa Hannah,


Wa Hannah yang mengetahui jika Aisyah sudah tidak mempunyai keluarga bertanya bukankah Aisyah hidup sendiri,tapi mengapa Nina mengatakan jika ibunya sedang sakit parah .


Keduanya pun kini tidak bisa menyembunyikan kebenarannya lagi,akhirnya Puspa dan Nina pun menceritakan kebenaran tentang semuanya jika Aisyah adalah Puspa anaknya Bu Siti dan pak Sudrajat.


"Ya Allah jadi kamu anaknya Bu Siti Fatimah?"


Tanya wa Hannah,


Ternyata wa Hannah mengenal ibu Puspa,karena sebenarnya wa Hannah berteman sangat baik dengan dirinya,


Mereka bersahabat sedari kecil sebelum hingga akhirnya dia menikah dengan pak Harun dan pergi dari sana.


"Ibu kamu mah sangat baik neng,geulis pinter lagi,makanya pak Sudrajat sangat mencintai dia,


Eh tapi Bu Siti sakit parah apa"


"Itulah yang saya tidak tahu wa"


Keduanya pun terdiam,Nina dan Puspa bingung hari Sjukur atau tidak untuk semua yang sudah terjadi.


Akhirnya tanpa ragu Puspa pun mengakui jika dirinya sudah di usir dari kampung halamannya karena di kira sudah menodai kampung mereka.


"Maksud neng Puspa apa?"


Wa Hannah tidak mengerti dengan semua yang Nina dan Puspa ucapkan.


Puspa pun mengakui jika dirinya sudah membuat sebuah kesalahan yang membuat fitnah untuk dirinya sendiri.


Puspa yang dengan niat baiknya ingin mengurus dan membesarkan Madina anak dari sahabatnya yang sudah tiada justru membuat fitnah besar untuk dirinya.


Warga kampung mengira jika Madina adalah anak haram hasil hubungan tidak sah Puspa dengan pria di singapura.


Puspa yang masih muda dan belum menikah pun di pertanyakan kesuciannya dengan semua caci dan maki warga yang mengusirnya.


"Astagfirullah,lalu bagaimana dengan ibumu nak"


Wa Hannah terkejut dengan semua kejujuran Puspa padanya.


"Jadi Madina bukan anak kandungmu,melainkan dia hanyalah seorang bayi yang kamu temui di Singapura yang ingin kamu rawat dan besarkan"

__ADS_1


Puspa mengangguk dengan raut wajah yang sedih akan kecemasan pada ibunya.


"Niatmu sudah baik nak,mungkin caramu salah,tapi sekarang biarlah wa akan membantu kamu mengurus Madina dengan tulus,"


Wa Hannah pun menyarankan agar Nina kembali ke Sumedang untuk melihat keadaan Bu Siti,


"Apa wa Hannah tidak menganggap aku wanita hina dan murahan sama seperti mereka?"


Tanya Puspa pada wa Hannah yang kembali takut pengusiran yang sudah terjadi padanya dulu.


"Untuk apa uwa menganggap kamu sepeti itu,di mata uwa kamu itu wanita yang hebat dan kuat,kamu mau menanggung resiko yang begitu besar demi membesarkan seorang anak yatim ini,semoga pahala untuk kamu nak"


Jawab wa Hannah yang membuat perasaan Puspa terasa sangat sejuk dan tenang,karena baru kali ini ada orang yang sepaham dan seakan mendukung dirinya dalam mengurus Madina.


Dan di hari itu juga Nina kembali pergi ke Sumedang untuk menjenguk Bu Siti dan memberitahu dirinya tentang keberadaan Puspa yang ada di rumah wa Hannah.


"Kalau begitu Nina pamit ya wa,Puspa,Nina titip Puspa dan Madina dulu wa"


Pamit Nina pada wa Hannah dan pak Harun.


"Hati-hati ya nak,salam buat Bu Siti dan keluarga kamu disana"


Ucap wa hannah menitip salam untuk semua kerabatnya di Sumedang.


Nina pun mengangguk dan akan menyampaikan pesannya pada semua kerabat di Sumedang.


Puspa pun meminta Nina untuk hati-hati,dan jangan sampai ada yang tahu jika dirinya kini berada di rumah wa Hannah,termasuk ibu dan bapaknya.


Puspa terlalu takut jika tragedi itu kembali terulang.


"Baik Puspa,aku mengerti,assalamualaikum"


Madina bayi kecil yang menggemaskan tersenyum melepas kepergian Nina kembali ke Sumedang.


"Dada bayi mungilnya aunty,sehat sehat disini ya sama wa Hannah sama kakek Harun,jangan nakal oke"


Ucap Nina pada Madina seolah mengira Madina mengerti akan semua yang dia ucapkan.


Puspa pun memeluk Nina dan melepaskannya pergi,


Meski berat hati melepas kepergian Nina,namun ini yang terbaik,Nina harus melihat kondisi sang ibu agar dirinya mengetahui keadaannya dan menitip pesan pada sang ibu agar dirinya cepat sembuh.


Nina pun pergi dengan senyum di wajahnya,namun Madina langsung menangis melihat Nina pergi meninggalkan dirinya.


Puspa pun menggendong Madina dan coba mendiamkannya.


Puspa menatap jauh angannya akan nasibnya kini.

__ADS_1


Haruskah dia bertahan membesarkan dan mengurus Madina,melepaskan semua cita dan cinta dihatinya yang belum pernah dia gapai indahnya sebuah cita.


__ADS_2