Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
fitnah pak haris


__ADS_3

Sementara itu di lain tempat,


Bu Siti dan pak Sudrajat menggelar pengajian seminggu kepergian Puspa, Madina, wa Hannah dan pak Harun yang menjadi korban tragedi longsor.


Bu Siti sangat terpukul sekali dengan kejadian itu, Nina pun meminta maaf karena tidak bisa menemukan jasad Puspa dan Madina,


Karena tim SAR mengatakan mungkin jasad mereka sudah menyatu dengan tanah, itu sebabnya jasad mereka tidak ditemukan.


Meski pernyataan tim SAR dirasa janggal, namun Bu Siti dan Nina coba menerima dengan ikhlas akan takdir Puspa dan Madina, dan berharap tidak ditemukan nya jasad mereka, ada sinar harapan jika mereka masih hidup.


"Jangan berlarut dalam kesedihan bu, Puspa dan Madina sekarang sudah bahagia di sisi Allah"


Nina memeluk Bu Siti dan berusaha membuatnya tegar.


Bu Siti pun berterimakasih pada Nina karena dia sudah sangat baik pada Puspa dan dirinya.


***


"Ia pak Zulham, jangan di ganti, besok saya akan berangkat lagi ke Jakarta"


Jawab Lilis pada Zulham yang menghubunginya untuk menanyakan kabar jika dirinya hendak kembali bekerja atau tidak.


Lilis tidak mau kehilangan pekerjaannya disana, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok.


Namun dia tidak akan merasa puas dan tenang jika belum berhasil mempermalukan Puspa terlebih dahulu.


Seperti biasa, para ibu dan anak yang sedang jajan di warung Bu Ina berkumpul untuk sekedar bicara kesana kemari, Lilis bergabung diantar mereka.


Sembari memakan kue buatan Puspa, Lilis pun kini melancarkan usahanya untuk menjatuhkan Puspa kembali.


Sementara di tempat lain pak Haris yang sakit hati karena pak Mamat menolak untuk membantunya mendekati Puspa berusaha sendiri mendekatinya dengan datang ke rumah Puspa sendirian.


Pak Haris datang berniat untuk mendekati Puspa dengan alasan ingin memesan kue untuk pengajian di tempatnya.


"Neng Puspa tidak sedang repot kan?"


Tanpa berucap salam, pak Haris langsung bertanya pada Puspa.


"Tidak pak Haris, memangnya ada yang bisa saya bantu?"


Pak Haris pun masuk kedalam rumah tanpa Puspa persilahkan, Puspa pun langsung merasa risih dengan sikapnya yang tidak sopan, meski kontrakan ini miliknya, namun pak Haris tidak bisa asal masuk begitu saja tanpa persetujuan dirinya.


"Maaf pak, saya tidak nyaman bicara di dalam, bisa kita bicara di luar saja, saya tidak ingin timbul fitnah"

__ADS_1


Ucap Puspa meminta pak Haris untuk bicara dengannya di luar rumah.


Namun pak Haris menolak, dia beralasan semua akan baik-baik saja, karena ada Madina diantara mereka, jadi tidak akan timbul fitnah.


Alasan yang cukup masuk akal di pikir Puspa, namun dia tetap merasa risih.


Mereka duduk di tikar yang sama meski saling berjauhan, sambil mengasuh Madina, Puspa coba mendengar apa yang pak Haris ingin bicarakan.


"Begini neng, besok malam saya ada pengajian, saya berniat ingin memesan kue yang banyak sama neng Puspa, apa neng Puspa bisa melayani saya?"


Dengan raut wajah yang sumringah Puspa merespon pesanan pak Haris dengan suka cita, tentunya sebagai pedagang, Puspa sangat bahagia jika ada yang memesan kuenya dalam jumlah yang banyak.


"Insyallh saya bisa pak, memangnya untuk acara pengajian apa pak?"


Seketika raut wajah Puspa pun berubah menjadi pucat kala mendengar jawaban sang pemesan kue jika malam besok akan ada acara tasyakur untuk pernikahan dirinya dan pak Haris.


"Maksud bapak apa? Pak Haris jangan macam-macam ya?"


Ucap Puspa berusaha menghindar dari pak Haris yang coba mendekatinya.


"Ia neng, besok kita akan menikah, sudah lama saya mengagumi neng Puspa, sejak pertama kali neng datang kesini dan tinggal disini, setiap hari saya selalu memperhatikan neng Puspa, saya ingin menikahi neng Puspa"


Sebuah kalimat yang membuat Puspa jijik mendengarnya.


Pak Haris hanya tertawa lebar mendengar ancaman kosong dari mulut Puspa.


"Teriak saja, tidak akan ada yang mau mendengar mu sekeras apapun kamu berteriak"


Tangis Madina pun membuat suasana rumah semakin mencekam,


Disaat langkah Puspa semakin mundur, disaat itu pula langkah pak Haris semakin mendekati Puspa.


"Tolong, tolong"


Teriak Puspa coba meminta pertolongan, namun tidak ada yang merespon karena di jam seperti ini, warga sedang sibuk bekerja dengan pekerjaannya masing-masing,


Suara mesin diesel padi yang berada tidak jauh dari kontrakan Puspa pun membuat teriakan Puspa tak terdengar.


Dan disaat yang bersamaan, Lilis dan para ibu-ibu datang ke kontrakan Puspa untuk memastikan apa yang Lilis ceritakan itu adalah benar.


Disaat itu pula, Puspa yang melihat ada Lilis dan ibu yang lain datang ke rumahnya langsung meminta tolong untuk mendobrak pintu yang sudah pak Haris kunci dari dalam.


"Tolong Bu, tolong saya "

__ADS_1


Seketika para ibu kaget dan cemas, apa yang sedang terjadi di rumah Puspa,


Mereka langsung mencari cara untuk membuka kunci yang sudah di kuncinya dari dalam.


Sedangkan pak Haris yang kaget dengan kedatangan banyak ibu ibu ke kontrakan Puspa coba mencari cara untuk bisa melarikan diri.


Dan akhirnya pintu rumah pun berhasil dibuka paksa oleh pak Mamat yang datang tepat pada waktunya,


Mereka semua terkejut melihat pak Haris tergeletak tak sadarkan diri dengan baju nya yang sedikit terbuka dan terkoyak.


"Astaga, apa yang sudah terjadi, kenapa pak Haris?"


Tanya Bu Aminah pada Puspa.


"Pak Haris ... Dia coba "


"Dia coba menganiaya saya "


Pak Haris coba menimpali semua ucapan Puspa untuk menyembunyikan alasan yang sebenarnya.


Puspa sangat terkejut dengan semua yang pak Haris katakan tentangnya.


"Tidak dia bohong, pak Haris coba menganiaya saya"


Ucap Puspa dengan menunjukan tangannya ke arah pak Haris.


Madina masih menangis histeris karena takut akan tingkah pak Haris yang hendak menganiaya Puspa.


Meski masih kecil, Indra perasa seorang Madina sudah bisa merasakan jika Puspa saat itu dalam bahaya, itu sebabnya dia menangis saat melihat pak Haris terus memaksa dirinya dan coba menganiaya Puspa.


Pak Haris terus menepis semua perkataan Puspa tentangnya,


Hingga datanglah sebuah pembelaan untuk dirinya.


"Pak Haris tidak mungkin melakukan semua yang Puspa tuduhkan, karena dia adalah pria baik, dia juga sudah beristri, untuk apa dia coba melecehkan Puspa yang tidak bersuami."


Ujar Lilis menyimpulkan jika pak Haris memang tidak bersalah.


Sadar jika fitnah akan kembali terjadi, Puspa pun angkat bicara tentang semua yang sebenarnya telah pak Haris lakukan kepadanya.


"Sudah Puspa kami tidak percaya padamu, kamu kan wanita murahan dari dulu, pasti kamu juga lakukan hal yang sama pada pak Haris"


Timpal Lilis pada Puspa.

__ADS_1


.


__ADS_2