
Sam dan Sandra berusaha menerka, kemungkinan apa yang paling masuk akal dengan guratan yang mereka lihat di bawah mesin jahit Neneknya Nara.
"Jika guratan itu sudah ada sebelum kejadian?" tanya Sandra, bisa saja guratan itu sudah ada sebelum Neneknya Nara meninggal.
"Kita harus menemukan gunting itu dulu, firasat ku mengatakan Nenek itu menggunakan gunting untuk melindungi dirinya." sahut Sam yakin.
"Hasil forensik menyatakan tidak ada tanda-tanda perlawanan dari Nenek, seperti cedera atau hal yang menunjukkan dia melawan pelaku." imbuh Galih membawa setumpuk berkas yang ia terima dari Pengacara Nara.
"Aku juga sudah mencocokkan guratan di mesin jahit itu, dan lihat lah. Itu benar-benar berasal dari gunting."
Galih juga menunjukkan hasil percobaan nya, ia mengguratkan gunting pada suatu meja berbahan kayu. dan hasilnya hampir sama.
"Aku sudah memikirkan, mungkin itu sudah ada sebelum Nenek nya meninggal. Tapi apa mungkin seorang Nenek tua bermain di bawah mesin jahit sambil mengguratkan gunting? di lihat dari tekstur yang tergurat itu cukup dalam, mungkin saja Nenek nya berusaha melindungi diri dengan menusuk pelaku pembunuhan itu." sambungnya sangat antusias.
Mereka semua berharap pembunuh berantai itu bisa tertangkap oleh tangan mereka lewat kasus ini.
"Karena posisinya di bawah, Aku berpikir Nenek sudah sekarat saat hendak melawan pembunuh itu. Kemungkinan ia merangkak menghunuskan gunting itu dan terpeleset ke sana." sahut Sandra pula.
"Dan mungkin Nenek itu berhasil melukai si pembunuh walaupun akhirnya terpeleset, itu sebabnya dia mencuri gunting itu yang bisa saja ada darahnya di sana." timpal Sam tak kalah antusias.
Untuk membersihkan seluruh TKP dari DNA nya, tentu membutuhkan waktu lama. Dan jika pun selesai dalam waktu singkat, berarti mereka berkomplot.
"Baiklah, setelah semua yang Kita punya, siapa tersangka utama yang paling kalian curigai?" tanya Sam.
"Ibu Mina, pemilik warung makan. Tempo hari Aku melihatnya mencekik seekor kucing yang sedang sakit, ia membunuh kucing itu tanpa rasa iba dan bersalah." Sandra menunjukkan video yang ia dapat saat menyelediki kediaman Nara kemarin.
"Kau? siapa tersangka utama menurutmu?" Sam lanjut bertanya kepada Galih.
"Direktur rumah sakit.." Galih juga telah mengumpulkan semua kemungkinan.
Setelah di selidiki, ternyata Direktur rumah sakit tempat Nara bekerja memiliki bisnis gelap. Ia mengedarkan obat obatan terlarang yang belum memiliki izin layak edar. Ia meracik sendiri obatnya di laboratorium dan saat ini ia tengah menciptakan obat baru.
Menurut keterangan Nara pula, satu minggu sebelum pembunuhan itu sang Nenek menyuruhnya untuk berhenti bekerja di sana. Ia mengatakan permainan di rumah sakit itu sangat kotor. Dulu sewaktu Nenek menjadi juru masak di sana, ada banyak rahasia kotor yang tersembunyi. Seperti mengelabui pasien dengan biaya tak masuk akal, serta menjual bebas obat-obatan racikan yang mereka kembangkan secara ilegal.
__ADS_1
Saat di beritahu tentang rahasia kotor, Nara berpikir Neneknya hanya mengada-ngada. Namun tak berselang lama Neneknya malah tewas mengenaskan. Ia juga di keluarkan padahal pandangan publik terhadap kasus yang menimpanya sudah mereda.
"Kita selidiki mereka semua, lakukan secara rapi dan perlahan. Kita semua tau pembunuh itu sangat lihai menghilangkan jejak." titah Sam. Di sahuti anggukan oleh Sandra dan Galih sebagai jawaban.
...~~~~...
Di kamarnya, Ammar tampak sedang bersiap untuk bekerja. Ia bersusah payah mengoleskan salep yang di berikan dokter. Ia bahkan membelakangi cermin agar bisa melihat punggungnya.
Karena Dokter mengatakan itu alergi yang timbul dari luar, Ammar sampai menyuruh semua pelayan untuk mensterilkan seluruh sudut dan ruangan yang ada di rumah itu.
tok..tok...
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Nara.
Nara yang masih mengantuk berjalan sempoyongan menuju pintu. "iya..?" sahutnya sambil mengusap mata.
"Permisi nyonya, Tuan Ammar menyuruh Kami membersihkan seluruh ruangan. Hanya tinggal kamar Anda yang belum Kami bersihkan."
"eh.. tidak usah, Aku bersihkan saja sendiri. Kalian lanjut saja keruangan lain." Nara menolak karena sungkan, bagaimanapun ia bukan siapa-siapa di rumah itu.
"Iya, nanti Ku bersihkan sendiri. Kalian tenang saja..."
BLAK..!
Tiba-tiba Ammar mendorong kuat pintu kamar Nara, hampir saja wajah Nara tertabrak pintu itu.
Kamar mewah itu tampak seperti tempat sampah di mata Ammar. Bungkus jajanan berserak di atas meja, gelas kopi bertumpuk di bawah meja, dan mangkuk mie instan tergeletak di lantai.
"Ternyata dari sini asal Virus nya!" tukas Ammar tampak jengah.
"Bersihkan semua nya..! semprot dengan cairan Dinsefektan seluruh kamar ini!" titah Ammar.
Para pelayan langsung bergegas masuk mengeksekusi kamar Nara.
__ADS_1
"eh..eh.. tunggu, itu semua masih bisa di makan. jangan di buang.." Nara mencegah pelayan yang memasukkan semua camilannya ke dalam tong sampah.
"Ammar...! bisa tidak jangan mengusikku!" pekik Nara, ia amat kesal. Di larang membuat makanan di dapur, di larang menimbulkan bau-bau menyengat. Nara mencoba mengerti, oleh karena itu ia melakukan sesukanya di dalam kamar. Tapi apa, sekarang Ammar malah melenyapkan itu semua karena di anggap virus.
Mendengar nada tinggi Nara membuat Ammar bertambah jengah. "Apa? Kau memanggilku apa barusan?" ia berbalik melangkahkan dan mendekati Nara.
Nara terdiam, ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. "jaga mulutmu Nara..!" batinnya.
"Jangan bersikap tidak sopan padaku!" ia menyentak Nara dengan suara dalam. Tatapan yang begitu legam membuat sekujur tubuh Nara merinding.
"Berani-beraninya tikus pembawa sial sepertimu memanggil nama ku." gerutu Ammar berbalik badan meninggalkan Nara.
Lagi-lagi Nara hanya bisa berdecit jengkel, ia memaki Ammar sekenanya di dalam hati. "Dasar manusia batu! Siapa dia bisa seenaknya menyebutku tikus pembawa sial? Bukankah seharusnya dia bersyukur Aku mau menikahinya? Kalau bukan karena Aku dia tidak akan bisa mengambil alih perusahaan nya! Kalau tidak bisa berterimakasih setidaknya jangan menjengkelkan!"
...~~...
Seperti biasa, Ammar pulang jam 9 malam. Rumah sudah gelap, namun ia terganggu dengan sorot lampu dapur yang belum di matikan.
Ammar berjalan memeriksa, apakah Nara di sana. Ternyata tak ada siapa-siapa, hanya ada bungkus makanan ringan yang sudah terbuka di atas meja.
"Tikus itu menebar sampah lagi.." gumam Ammar kesal, ia mengambil makanan ringan itu hendak membuangnya.
Namun sobekan di bagian atas kemasan yang lebar membuat isinya terpampang, itu seperti melambai-lambai pada Ammar. Isinya yang berwarna kuning cerah, tekstur yang tipis serta bumbu yang melimpah membuat Ammar menelan ludah.
Ia mengambil satu potong, benar saja. Begitu di sentuh bumbu penyedap langsung merekat di jari-jari Ammar. Ia pun mengunyahnya, gurih dan crispy menari-nari di lidah.
"mmm... rasa keju," lirihnya sambil menganggukkan kepala.
Kemudian ia mengambil lagi, kali ini ia bahkan menjilat ujung jari nya.
"Dari mana tikus itu dapat makanan seenak ini?" ia sampai memejamkan mata karena rasanya sangat memanjakan lidah. Gigitan demi gigitan di santap dengan lahap.
Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki Nara yang sedang menuju kesana. Kunyahan nya langsung terhenti, bagaimana reaksi Nara jika ia tau makanannya di lahap?
__ADS_1
Nara berjalan sambil bersenandung, ia biasa melakukan itu agar suasana rumah yang suram tak terlalu terasa. "Bisa-bisanya cemilan ku tertinggal, mana lengkap minum kopi tanpa snack."
...**********...