
Setelah selesai mandi, Nara duduk di atas sofa berhadapan dengan sang Ayah. Ia menunduk bingung, hanya bisa memainkan jari-jarinya di depan perut.
Sementara Paka Arul, ia menatap tajam putrinya itu dengan wajah miris. Tak hanya menyalahkan Nara yang telah mengambil keputusan gila ini, ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa membimbing Nara.
"Kau begitu kekurangan uang sehingga mau menikah kontrak seperti ini?" ia bertanya pelan, dengan nada suara yang dalam.
Nara menitikkan air mata, ia tak tau entah emosi macam apa yang tengah menggerogoti benaknya. "Ayah.., Aku di penjara waktu itu. Ayah lihat sendiri kan? Tertulis jelas di sana hanya pernikahan ini yang bisa menyelamatkan ku!"
"Aku terlibat kasus pembunuhan Ayah, kematian Nenek menyudutkan ku. Ayah tau berapa lama hukumannya? Aku terancam di hukum seumur hidup. Akhirnya Aku mengambil keputusan bodoh untuk keluar dari jebakan itu." ia benar-benar tak bisa menahan air matanya.
Bagaimana tidak, dia benar-benar di jebak oleh satu orang yang memegang kendali atas pembunuhan maupun pernikahan itu, yakni Ammar. Pria yang saat ini menjadi Ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya.
"Lalu dari mana Kau mengenal Ammar di situasi seperti itu? Benarkah dia menikahi mu karena permintaan istri pertama nya? Ayah yakin semua yang Kau ceritakan tentang pernikahan mu adalah bohong."
Nara terdiam, ia bingung harus bagaimana. Ia tak mungkin memberitahu bahwa Ammar lah yang melakukan ini semua.
"Ammar... Aku.." ia terbata-bata, bingung hendak menjelaskan bagaimana.
"Aku dan Ammar..."
__ADS_1
"Kami pertama bertemu saat hari pernikahan." sahut Ammar yang baru memasuki rumah. Ia sudah tau situasinya, semua nya hampir terbongkar. Jujur ia ingin memberitahu yang sebenarnya, namun ia teringat akan mental Nara yang mungkin akan hancur jika semuanya terungkap sekarang. Ayahnya pasti tidak akan tinggal diam jika tau yang menikahi putrinya adalah seorang pembunuh.
"Irene.. istri pertama ku adalah anak yang di sembunyikan statusnya, ia menjadi kakak sulung ku karena kedua orang tua kami meninggal. Tak ada yang tau kalau ternyata kami bukan saudara, kami adalah pasangan suami istri. Sementara butuh status pernikahan asli agar warisan yang di tinggalkan orang tuaku bisa ku ambil, maka itu Irene mencarikan seorang gadis yang mau di ajak kerja sama. Dan dia membawakan Nara padaku. Tak lama kemudian dia meninggal..."
"Lalu sampai saat ini Kau tidak mencintainya? Dia bahkan sedang mengandung anakmu. Kenapa Kau membuat kesepakatan bercerai? Setelah merebut masa muda putriku Kau mau mencampakkan nya? Kau mau mengambil anak mu lalu menceraikan Ibu nya? Pantas saja Aku melihat hubungan kalian sangat hambar, ku kira kalian malu padaku, ternyata kalian menyembunyikan sesuatu." Oceh Pak Arul tanpa henti, ia tak terima Pria itu mengambil keuntungan secara egois.
"Nara mengandung anakku karena Aku melakukan kesalahan, Aku melanggar perjanjian untuk tidak menyentuhnya. Dia lah yang membuat surat kesepakatan itu, Aku menyetujuinya karena Aku merasa bersalah. Aku berjanji tidak akan mengikatnya dalam pernikahan kontrak ini setelah anak kami lahir."
Dari perasaan haru bercampur aduk, tiba-tiba Nara kesal mendengar penuturan Ammar barusan. Kok sepertinya Ammar sengaja melempar semua kesalahan padanya.
"Aku sudah mencintai Nara Ayah, Aku sudah memohon pada nya untuk membatalkan perjanjian kontrak itu. Tapi dia tidak mau, dia tetap ingin bercerai."
Benar saja, Nara jadi bersungut kesal karena Ammar membalikkan situasi menjadi berpihak padanya. Padahal ia sudah ketar ketir takut perbuatan Ammar terungkap, tapi ternyata Ammar malah membuat siasat baru.
"aiss..! dia benar-benar ahli siasat. dasar picik..!" umpat Nara menggerutu.
"Apa benar begitu Nara? Kau yang meminta bercerai?" tanya Pak Arul memastikan.
Nara memandangi Ammar dengan tatapan gelisah, namun Ammar malah mengedipkan sebelah matanya. Nakal sekali.
__ADS_1
"ee... benar." sahut Nara tanpa beban, padahal hatinya kuat menyuruh agar ia membicarakan siapa Ammar sebenarnya. Tapi mulutnya menolak, begitu pula dengan pikirannya.
Pak Arul tak bisa berkata-kata, ia mengusap kasar wajahnya. Ini soal perasaan anaknya, ia tak berkenan memaksa apalagi ini menyangkut masa depan dan kebahagiaan Nara. Tapi ia akan mempertimbangkan permintaan Ammar untuk membujuk jika saja Nara bisa membalas perasaan Ammar.
...~~~~...
"Kau sudah gila Ammar?! Kenapa Kau membalikkan keadaan? Kau sengaja memanfaatkan situasii ini kan?" hardik Nara sambil melemparkan bantal ke tubuh suaminya itu. Kedua bola matanya hampir keluar, ia benar-benar kesal sekarang.
Mendapat pukulan itu Ammar hanya tertawa kecil, namun tawa itu tetap saja terlihat bengis bagi Nara.
"Lalu Kau mau bagaimana hm..? Kau sendiri yang mengatakan, bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahu semuanya pada Ayahmu. Apa Kau ingin Aku mengakui semuanya sekarang? Aku tidak keberatan kalau itu keinginanmu."
"Oke, Aku tau kau bermaksud memahami ku, tapi untuk apa Kau mengatakan dan meminta pada Ayahku agar Aku mencintaimu? Kau sengaja ingin menambah kebohongan lagi? Saat kita benar-benar bercerai nanti kekecewaannya pasti berat sekali."
"Aku tidak berbohong soal itu, Aku memang sudah mencintaimu dan tak ingin melepaskanmu. Walaupun Kau tidak berniat melanjutkan pernikahan ini, Aku akan tetap berusaha selagi Aku bisa!" Tekan Ammar membuat Nara terdiam. Ia bahkan menandingi tajamnya tatapan Nara.
"ch.. Kau sedang menyatakan perasaan atau sedang membunuh?" tukas Nara, wajahnya seperti di tusuk oleh kedua netra legam milik Ammar.
...**************...
__ADS_1
Guyss.. maaf ya update nya dikit.🙏😁 otor belum bisa ngetik banyak2 karena ada beberapa kerjaan dunia nyata yang harus di selesaikan. harap maklum ya😅
love u😘