Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 29 : Tikus peliharaan


__ADS_3

Pukul 23:00...


Setelah bertengkar dengan Irene, Ammar belum keluar dari ruangannya. Ia duduk termenung sembari menenggak sebotol Wine.


Kehidupan seperti apa sebenarnya ini? Kenapa tak ada ketenangan, yang ada hanya kesunyian berbalut rasa bersalah. Dosa yang telah mereka lalukan takkan bisa terhapus walau mengatasnamakan kematian Orang tua nya. Memberi hukuman? tampaknya mereka lebih pantas menerima ketimbang memberi.


Setelah di rasa tenang, Ammar pulang ke rumah. Dua botol Wine sudah ia habiskan, melajukan mobil dalam keadaan setengah sadar dari kantor hingga sampai di rumah.


Sesampainya di rumah, ia tak melihat mobil Irene di sana. Kali ini sepertinya Irene benar-benar tersinggung dengan ucapannya tadi.


Ammar merasa bertambah kalut, ia hanya berusaha menyadarkan Irene. Namun mulutnya yang tak bisa bertutur halus itu malah membuat semua semakin kacau. Ia keluar dari mobil sempoyongan, menenggak lagi Wine di botol ketiga ini sampai habis. Kemudian melemparkannya ke patung air mancur.


Seperti biasa, rumah dalam keadaan gelap gulita. Dan seperti biasa pula Nara mencari ganjalan perut di dapur. Ia selalu saja lapar di jam-jam segini.


"Roti selai cokelat sepertinya enak.." gumamnya, ia mengoleskan selai cokelat sebanyak mungkin agar perutnya tak keroncongan lagi."


"Nara......" panggil Ammar, suara nya yang berat dan sayu di tambah muncul tiba-tiba. Membuat Nara terkejut hingga rotinya jatuh ke lantai.


Nara merinding, ia menoleh kebelakang. Di lihatnya Ammar berdiri tegak dengan penampilan amat kacau. Ini pertama kali ia mendengar Ammar menyebut nama nya. ia merogoh saku piyama, ada alat kejut listrik di sana. Sengaja di bawa untuk berjaga-jaga.


Ammar mendekat perlahan, langkahnya tertatih. Bukan karena tak berdaya, ia merasa kehilangan semangat nya bahkan untuk melangkah.


Di bawah sorot lampu bar, wajah mereka bertemu. Hanya ada kegelapan di sana selain lampu bar itu.


"Bisakah... Kau antarkan Aku ke kamar?" pinta Ammar, kepalanya agak terhuyung.

__ADS_1


Nara mencium aroma alkohol yang amat kuat. "Anda mabuk?"


Ammar tersenyum dan menggeleng seperti anak kecil. "Aku hanya ingin berolahraga..."


"Perkataannya melantur, apa namanya kalau bukan mabuk." lirih Nara menatap sinis, ternyata Pria batu itu masih memiliki saraf normal untuk tersenyum.


"Aku bukan mabuk.." ucap Ammar lagi, kali ini tubuhnya ikut terhuyung. Ia membayangkan ada kasur di sebelahnya. Berbaring setelah hari panjang dan melelahkan tampaknya sangat enak.


Karena kasihan pada tampang lelah Ammar, Nara pun menggandengnya menuju lift. "Kalau bukan mabuk kenapa tidak pergi sendiri." rutuknya kesal.


Setelah sampai di depan pintu kamar, Nara mengantarkan Ammar sampai ke dalam. Ia hendak membaringkan Ammar, namun Ammar menolak. Ia tetap berdiri tegak di sana.


Raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar dan dingin lagi. Tatapannya pun sangat tajam, mungkin itu efek mabuk. Ia melepaskan dasinya perlahan sambil terus menatap wajah Nara yang sedikit ketakutan.


"Pernahkah Kau merasa putus asa dan ingin mengakhiri semua nya?" Ammar merentangkan dasi nya tepat di depan leher Nara.


Apakah begini akhir hidupnya? Apakah dia akan tewas dengan lilitan dasi itu? Jika kecurigaan Sam benar, pasti mereka akan memanipulasi kematiannya sebagai gantung diri.


Semua hal mengerikan terbayang oleh Nara, tangannya bergetar saat berusaha merogoh saku piyama nya. Mencari alat kejut listrik untuk melawan Ammar. Saat sudah mendapatkan alat kejut listrik itu, kedua tangannya malah di tarik oleh Ammar hingga alat tersebut jatuh ke lantai. Ammar dengan cepat mengikat kedua tangan Nara dengan dasi hitam tersebut.


"Lepas!! Apa yang Kau lakukan?!" Nara berusaha memberontak, namun tenaga nya tak sebanding dengan Ammar yang sedang mabuk itu.


Setelah mengikat erat lengan Nara, Ammar membuka plaster yang menutupi lesung pipi nya. "Kau... tikus paling lincah yang pernah ku temui." ia menyentuh lesung pipi itu dengan ibu jarinya sembari tersenyum kecil.


Nara mengibaskan wajahnya dari tangan Ammar, ia mundur dengan cepat namun sial kaki nya malah menginjak alat kejut listrik yang ada di lantai.

__ADS_1


Menyalah lah alat itu, hingga seluruh tubuh Nara bergetar. "AAAAAAA~~~!" pekiknya berusaha menjauh. Ia berhasil melepaskan diri, untung saja aliran listrik nya tak terlalu tinggi. Tubuhnya hanya sedikit lemas dan bergetar.


"aiisss!! alat baj!ngan itu tak membantu!" rutuknya berusaha menjaga kesadaran. Ia sedikit terhuyung, dan Ammar yang tak sadarkan diri malah tersenyum melihat itu.


Ammar mengangkat tubuh Nara, lalu melemparnya pelan ke atas ranjang.


"AAAK..!" Nara sangat syok saat itu, otaknya yang konslet membuat ia terdiam sesaat.


Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangkit. "Jangan coba-coba menyentuhku Ammar! Kau telah melanggar kontrak kita!"


Lagi-lagi Ammar malah tersenyum, ia tak menghiraukan tatapan bengis Nara yang seperti ingin membunuhnya.


"yahh.. Aku menyentuhmu, bagaimana ini?" ucap Ammar sambil mengusap lesung pipi Nara. Ia berdiri di tepi ranjang, tepat di depan Nara.


"Aku akan membayar mu, Aku tidak pernah mengindari pinalti kontraknya kan..benar kan?" bisik nya membuat Nara semakin jengah. Ia menepis tangan Ammar dengan lengannya yang terikat.


"Kenapa Kau selalu seenaknya? Kau selalu menyentuhku semaumu. Kau pikir karena harus membayar penalti Kau bisa bebas memperlakukan ku seperti ini hah? Aku bukan pel4cur yang bisa Kau sentuh dan bayar seenaknya!"


Ammar mendekatkan wajahnya lagi, menatap lekat wajah gadis mungil yang terlihat sangat kesal itu. Tangannya bahkan sudah merayap menanggalkan kancing baju Nara saru persatu.


"Kalau begitu biarkan Aku menyentuhmu sebagai suami, agar Kau tak perlu merasa seperti itu."


"Jangan harap!!" tukas Nara, ia memberontak berusaha keluar dari kungkungan Ammar. Namun usahanya sia-sia, Ammar tak melepaskannya. Ia malah melemparkan Nara lagi ke atas ranjang dan langsung mengunci tubuhnya.


"Hentikan Ammar! Kau tidak boleh melakukannya!" teriak Nara, itu teriakan terakhirnya karena Ammar dengan cepat membungkam bibirnya dengan penuh hasrat.

__ADS_1


Perlawanannya semua sia-sia, Ammar benar-benar menjadi kucing liar malam itu. Memangsa tikus peliharaannya tanpa ampun. Tak memberikan ruang sedikit pun untuk Nara bisa melawan.


...************...


__ADS_2