Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 48 : Hancur


__ADS_3

Butuh beberapa saat untuk Nara mencerna perkataan Ammar barusan. Sedang ada janin di dalam perutnya? Apakah itu yang membuat Ammar bersikap perhatian akhir-akhir ini?


"Aku tidak akan tertipu lagi oleh mu Ammar!" Todongan Nara tak bergeming dari dada bidang Ammar.


Ammar membuka ponselnya, lalu menunjukkan foto hasil pemeriksaan dan hasil USG yang tempo hari ia dapatkan dari rumah sakit tempat Nara dirawat.


"Aku tidak berbohong..." Ia tau pasti sulit untuk Nara menerima ini semua.


Nara melihat foto itu dengan seksama, tertulis nama dirinya disana. Rahangnya mengeras, ia sangat ingin percaya bahwa kali ini Ammar sedang menipunya lagi.


"Semula Aku berencana memberitahumu saat Kau mulai menyadari, namun Kau tak menunjukkan sesuatu." Ucap Ammar pelan, sudah memasuki 9 minggu usia kehamilan, tapi Nara tak menunjukkan gejala seperti mual dan lainnya. Ia pun sempat bingung soal itu.


"Kenapa Aku tak menyadarinya..?" lirih Nara monoton. Sorot matanya kini berubah menjadi bingung. Mungkin karena siklus menstruasi nya yang langka. Jika itu wanita lain, pasti langsung sadar saat mereka telat datang bulan.


Tangan Nara mulai bergetar, ia tak bisa menyangkal ucapan Ammar soal kehamilannya. Terlebih dia bukan lagi seorang gadis peraw4n. Ammar sudah pernah melakukan hal itu pada nya, sudah pasti benih yang tumbuh di rahimnya adalah hasil perbuatan Ammar malam itu.


"Kau tak perlu melindungi ku..!" Nara mengarahkan pistol ke kepalanya lalu tanpa ragu menarik pelatuk dengan penuh keputusasaan.


"NARA...!" Beruntung Ammar cepat mengarahkan tangan Nara ke atas hingga peluru menghujam ke plafon.


"Lepaskan Aku..! LEPASKAN! Aku tidak ingin hidup lagi! AKU INGIN MATI..!" teriaknya memberontak. Nara benar-benar kehilangan akalnya. Hidupnya sudah benar-benar hancur. Dan sekarang ia harus mengandung benih dari Pria gila yang menghancurkan hidupnya.


Ammar melempar pistol di tangan Nara, ia memegangi tubuh Nara yang memberontak dengan sekuat tenaga.


"Biarkan Aku mati..! Bunuh saja Aku..! Aku tidak ingin hidup lagi..!" ia meracau sambil menangis sejadi-jadinya.


"Nara... tenangkan dirimu!" bentak Ammar, ia mengunci kedua tangan Nara dalam genggamannya.


Nara tersentak kaget mendengar suara Ammar, ia perlahan tenang seperti tersadar, tatapannya kosong namun air mata tak berhenti mengalir. Isak nafasnya pun masih terdengar jelas. Deru nafas masih melaju membuat dadanya terasa sangat sesak.


"Maafkan Aku...." Lirih Ammar kemudian membawa Nara kedalam pelukannya. Bukan untuk bentakannya barusan ia mengucapkan maaf, melainkan untuk kesalahan yang telah ia lakukan malam itu. Andai saja dia bisa menahan diri malam itu. Pasti Nara tidak akan merasakan kehancuran ini.


"Maafkan Aku Nara... Maafkan Aku ..." diusap nya dengan lembut kepala wanita yang masih menangis sesenggukan itu.


Perlahan Nara mulai lemas, karena terlalu banyak terkejut dan meluapkan emosi tubuhnya perlahan kehilangan daya. Masih dalam posisi setengah sadar, ia merebahkan wajahnya di dada Ammar kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya terpejam.

__ADS_1


...~~~...


Tengah malam, Ammar kembali ke rumahnya seorang diri. Ia meninggalkan Nara di villa itu bersama dua orang kepercayaannya. Ia memerintahkan orang itu untuk mengawasi Nara. Bahkan Ammar memasangkan borgol di kedua tangan Nara untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.


Begitu Ammar memasuki rumah, Irene langsung berlari menghampirinya. Ia berharap Ammar menemukan keberadaan Nara.


"Kau menemukannya?"


"Belum.." Jawab Ammar datar. Isi kepalanya sedang berantakan. Memikirkan bagaimana caranya ia bisa melindungi Nara dari Irene. Ia tak bisa menyembunyikan Nara terus menerus.


Irene menggigit kuku nya, karena Nara sudah mengetahui isi ruang bawah tanah itu. Sudah pasti Nara mengetahui wajah asli mereka. Dan ia sangat takut Nara membeberkan itu ke publik.


Sementara Ammar bisa sedikit bernafas lega, untung saja ia segera menghapus rekaman CCTV hari itu.


"Kau sudah menyelidiki catatan penerbangan luar negeri?" tanya Ammar.


"Sudah, tidak ada catatan dia meninggalkan negara ini. Kemana tikus itu bersembunyi..!"


BRAAAK...! Irene menendang meja kaca untuk meluapkan emosinya.


"Tenanglah Irene, Aku akan mencarinya besok. Yang terpenting sampai saat ini dia belum membuat ulah."


Tiba-tiba Irene mendapatkan ide bagus, menghilangnya Nara dari rumah. Kenapa tidak sekalian saja ia membuat pengakuan pada media bahwa Nara melarikan diri, dengan begitu opini publik tentang pembunuhan itu akan menyudutkan Nara dengan sendirinya.


...~~...


Di kantor nya, Sandra menemukan rekaman dari jalanan. Ia mendapati mobil Ammar melewati jalan sepi dan memasuki simpang yang tidak ada CCTV.


"Ini mobil Ammar kan?" ia bertanya pada Sam untuk memastikan.


"Iya, itu mobilnya. Tapi kenapa dia ke jalan itu? Bukankah itu arah hutan lindung?" Sam mengamati peta. Tak ada rumah dan tanda-tanda kehidupan di hutan itu.


"Jangan-jangan dia membunuh Nara dan membuang jasadnya kesana?" ucap Sandra panik sendiri.


Plak! Sam memukul kepala adiknya itu, mungkin otaknya sedikit bergeser karena insiden kemarin.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu..!"


Sandra meringis, ia mengangkat bibirnya dengan tatapan lebar.


"Itu kan hanya dugaan ku, bisa saja kan? Mereka pembunuh kelas kakap. Menyingkirkan Nara adalah hal yang mudah."


"Hei.. lihat ini..!" Galih datang dari lantai atas sambil berlari. Ia menunjukkan laman media sosial Irene yang menyatakan bahwa Nara melarikan diri.


Publik langsung menyoroti kesaksian Irene tersebut. Tak pelak tuduhan pembunuh berantai kembali menyeret Nara.


"wahh..! Mereka benar-benar gila! Ternyata ini tujuan mereka, setelah menyingkirkan Nara mereka malah menuduh Nara pelakunya."


Plak!! Pukulan kedua melayang pada kepala Galih. Lagi-lagi Sam tak terima mendengar ocehan mereka tentang Nara.


"Kenapa kalian berpikir sia sudah mati? Dia masih hidup dan Kita harus menemukannya!" ucapnya amat yakin.


Karena kesaksian Irene di sosial media, berita televisi kini marak membicarakan tentang kebenaran kasus yang tertutup kemarin. Tak ayal polisi pun mulai melakukan penyelidikan ulang. Masyarakat juga mengajukan komplain pada kantor kejaksaan dan mempertanyakan bagaimana Nara bisa lepas daru tuduhan itu kemarin.


...~~~...


Nara terbangun dari tidurnya, ia mendapati kedua tangannya di borgol pada ranjang besi di bawahnya.


"Pria baj!ngan itu..!" ia memaki sambil memberontak. Ia merasa tak butuh perlindungan dari Ammar. Akan lebih baik jika ia di bunuh dari pada melanjutkan kehidupan yang sudah tidak ada harapan ini.


Tak lama kemudian Ammar tiba di sana. Ia membuka pintu kamar tempat Nara di tahan. Ia membawakan makanan dan snack yang Nara sukai.


"Maaf karena memperlakukan mu seperti ini..." ia melepaskan borgol, pergelangan tangan Nara sedikit lecet akibat ia memberontak tadi.


Nara tak melihatnya sama sekali. Ia melemparkan tatapan kosong ke arah luar ruangan.


Ammar mengusap lembut kedua pergelangan Nara yang memerah. "Aku membawakan makanan kesukaan mu...."


BRRAAK...!


Nara menampik kotak makanan yang di berikan Ammar hingga berserakan di lantai.

__ADS_1


...************...


__ADS_2