
Dengan pengetahuannya, Nara membantu Ammar membenarkan posisi agar darahnya berhenti mengalir di selang infus. Ia juga mengatur posisi ranjang, bahkan mengatur kecepatan infus yang sempat terhenti karena Ammar banyak bergerak.
"Kau terlalu banyak bergerak." ketus Nara, jika Dokter yang menemukan Ammar seperti itu pasti sudah di marah.
"Kau benar-benar seorang perawat." sahut Ammar tersenyum tipis. Ia kagum melihat gerakan Nara yang gesit.
"Aku perawat yang sangat berprestasi. Sebelum Kau datang menghancurkan semuanya." Nara memamerkan masa gadis nya yang gemilang dengan separuh nada protes.
Ammar hanya diam, memang benar dia mengacaukan kehidupan Nara. Selain berusaha memperbaiki yang ada, sekarang Ammar tak bisa apa-apa. Ia takkan mampu mengembalikan masa emas yang begitu membekas di benak istrinya itu.
"Nara...? Apa yang terjadi hah? Kenapa Kau tidak memberitahu Ayah?" Pak Arul datang tergopoh-gopoh di temani oleh Sam. Ia sempat terkejut karena di datangi Polisi dan Detektif tengah malam.
"Ayah...?" Nara terkejut, ia lupa memberitahu Ayahnya soal insiden yang menimpa Ammar. Kalau bukan karena Sam, mungkin sampai pagi pun Pak Arul tidak tau kalau Nara dan Ammar tidak di rumah.
"Ya Tuhan... Apa yang terjadi dengan menantuku?" Pak Arul duduk di tepi ranjang dengan tatapan khawatir. Bagaimana bisa ia tenang melihat menantunya di balut perban dan penuh luka seperti itu.
Sementara Nara yang menyaksikan itu hanya mengangkat bibirnya. Tak pantas Ammar mendapat perhatian Ayahnya.
"Aku baik-baik saja.." sahut Ammar bernada datar. Ia masih belum bisa bersikap layaknya menantu pada Pak Arul.
"Baik-baik saja apa nya? Kau penuh luka begini. Bagaimana pelakunya? Apa Kau mengenalnya?"
"Pelakunya sudah di amankan." jawab Ammar tersenyum kecut. Ia merasa risih karena Mertuanya bersikap perhatian seperti itu.
Saat Pak Arul sedang sibuk dengan menantunya, Sam mendekat pada Nara dan berbisik. "Barang mu sudah sampai dengan aman?"
"Sudah, terimakasih dan maaf jadi merepotkan mu." balas Nara juga berbisik. Sam mengirimkan barang belanjaan Nara yang tertinggal memalui kurir. Barang yang kemarin di tinggalkan oleh Nara karena mendengar kabar Ayahnya datang.
Di atas ranjang, bukannya mendengarkan ucapan sang mertua. Ammar malah melirik tajam pada Nara dan Sam yang berbisik-bisik. Apalagi Nara tersenyum kecil pada Sam, membuat dada Ammar agak sesak terasa.
"Kalian harus lebih berhati-hati lain kali, Ayah mungkin tidak akan bisa tinggal dengan kalian terus." Ucap Pak Arul mengingatkan. Ia berniat pindah ke rumah Nenek dalam waktu dekat. Bagaimana pun ia merasa sungkan hidup menumpang dengan anak dan menantunya.
__ADS_1
"Memang nya Ayah mau kemana?" Nara sudah hendak merengek karena takut di tinggal Ayahnya lagi.
"Ayah tidak kemana-mana, Ayah akan tinggal di rumah Nenekmu."
"ohh.. Ku kira Ayah mau pergi jauh lagi." Nara merasa lega, itu artinya ia tak perlu bersikap seperti suami istri sungguhan lagi nantinya.
"Kapan Ayah mau pindah? Biar Aku menyuruh orang untuk membersihkan pekarangan."
"Saat Ammar sudah boleh pulang..."
"Jangan pergi... Ayah." Potong Ammar mencela pembicaraan mereka. Nara sampai melompong mendengar Ammar tiba-tiba memanggil Ayahnya begitu.
Sementara Sam yang menyadari pembicaraan ini menyangkut privasi keluarga, ia segera keluar meninggalkan ruangan itu.
"a..apa?" gugup Pak Arul, sejak pertemuan pertama mereka baru kali ini Ammar memanggilnya demikian.
"Kenapa Kau melarang Ayahku pergi?" Nara membulatkan mata. Ia bisa mengendus ada udang di balik tepung di sana.
"Siapa tau Ayah mau mengenang masa-masa saat bersama Nenek, iya kan Yah?" Nara tak memberikan celah untuk Ammar bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Ya Ayah tidak keberatan..." Pak Arul mengangguk, tadinya ia merasa segan dengan Ammar. Namun mendengar Ammar menginginkannya tinggal, rasa segan pun berubah menjadi rasa senang. Ia bisa melihat wajah putrinya setiap hari kini.
"Ayah setuju kan dengan ku?" Dari wajah cuek dan datar, Ammar jadi berusaha sok akrab. Jika dengan Nara tak berhasil, maka ia akan mulai dengan merebut hati sang Ayah mertua.
"Kalau Kau tidak keberatan tentunya.." Pak Arul menepuk lengan Ammar sambil tertawa.
"Kenapa Aku keberatan? Istriku akan sangat bahagia jika bisa bersama Ayahnya setelah sekian lama berpisah kan? Kebahagiaan Nara adalah tanggung jawabku."
"wahh.. Aku tidak menyangka kau sangat pengertian. Nara benar-benar tak salah memilih suami." Puji si Ayah mertua seraya memijat lembut lengan menantunya itu.
Sementara Nara yang melihat itu hanya bisa meludah dalam hati.
__ADS_1
cuihhh... cuihhh..cuihhh..! Seperti itu kiranya batin Nara. Ia benar-benar tak menyangka Ammar sangat ahli mengubah topeng dan memainkan perannya.
...~~~~~...
Karena Mertuanya akan tinggal bersama di rumahnya. Ammar menyuruh Bu Lila menyiapkan kamar dan keperluan untuk Pak Arul menetap. Ammar juga menyuruh Bu Lila dan beberapa pelayan lainnya untuk bersikap seolah mereka mengenal Ammar sebagai manusia biasa. Ammar melarang semua pelayannya membahas masalalu antara Nara, Irene dan dirinya.
"Ammar, Kau melakukan ini untuk maksud lain kan? Aku tau Kau berusaha mengubah perjanjian kita." Jengah Nara bersedekap, ia sedang duduk di atas kasurnya. Sementara dua orang pelayan tengah memindahkan barang-barang nya ke kamar Ammar.
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku, Kau berpisah dengan Nenekmu karena ulah kami. Maka dari itu Aku ingin Kau tetap dekat dengan keluargamu..."
"Lalu Kita harus tidur satu kamar mulai sekarang? Kau yakin tidak sedang merayuku kan?" tukas Nara memangkas penuturan Ammar.
"ch.. untuk apa Aku merayu mu. Aku bisa langsung mendapatkan apa yang ku mau kalau Aku bertindak." seloroh Ammar sambil beranjak menarik tali dari plafon. Sebuah tangga menjulur dan ada semacam lubang berukuran 80 Centi di atas sana.
"Apa maksudmu?!" Nara langsung merinding mendengarnya. Ia tak mau momen pemaksaan malam itu melintas lagi di otaknya.
"Aku akan tidur di atas, Kau bisa tidur di sini. Puas?" Ammar menunjuk lubang di atas plafon. Terdapat satu kamar tersembunyi di sana. Walaupun tak terlalu besar, tapi lumayan nyaman lah.
"wahh.. Kenapa Aku selalu terlibat dengan rumah yang ada ruangan rahasianya? Kau yakin itu sebuah kamar biasa? tidak ada pisau atau hal gila lainnya kan?" Nara memberondong Ammar dengan tatapan curiga.
"Kau jangan coba-coba naik ke atas!" tekan Ammar.
"Kenapa? Apa banyak hal tersembunyi di sana? Atau ada wanita lain yang kau sembunyikan?" sahut Nara memicingkan mata. Ia percaya akan dugaannya bahwa Ammar menyembunyikan banyak hal di sana.
"Kau sedang hamil, jangan coba coba naik ke sana karena kalau jatuh bisa berakibat fatal untukmu."
Ammar menaiki tangga kecil itu memasuki kamar nya. Cukup luas untuk tiduri seorang diri. Susunan nya sangat rapi sesuai dengan selera Ammar. Ada jendela kaca juga yang bisa mengatur sirkulasi udara.
Ammar mengeluarkan pistol dari saku jasnya, dan menaruhnya di bawah bantal. Lalu dia menelpon seseorang. "Temukan seseorang untukku."
...*****************...
__ADS_1