
Beberapa jam sebelum nya.....
Ammar dan Irene tampak tengah berdebat di rumah. Ammar marah karena Irene menyerahkan bukti penting itu kepada Detektif Sam. ia menilai Irene terlalu ceroboh.
"Bagaimana Kalau dia menyalahgunakan bukti itu untuk keuntungannya sendiri?!"
"Ayah nya di penjara, Aku yakin dia pun ingin mencari siapa dalang sebenarnya."
"Jika Damar di usut, maka kematian para korban juga akan terungkap! Tidak kah Kau berpikir kesana?" Ammar benar-benar tak habis pikir. Irene selalu saja bertindak sesuai keinginannya.
"Setelah Damar tertangkap, Aku akan membuat Detektif itu menutup mulutnya."
"Kau akan membunuhnya juga?"
"Kau sungguh sangat memahami ku Ammar." senyum licik Irene terselip di antara tatapan mata tajamnya.
"Kapan Kau akan sadar Irene? Berhentilah membunuh orang yang tak bersalah! Aku muak membereskan semua tingkah laku mu! Kau bilang hanya membunuh orang yang terlibat dalam kecelakaan orang tua Kita. Tapi Kau mengingkarinya! Kau membunuh anak-anak tak berdosa, Kau membunuh seorang Nenek tua tak bersalah demi menjebak seseorang untuk menggantikan kejahatan mu!"
Hidup seorang gadis baik-baik di pertaruhkan demi menutupi kejahatannya. Menjebak Nara dalam kasus pembunuhan, menikahkannya dengan Ammar. Itu semua ia lakukan sepihak tanpa persetujuan Ammar. Ia yang mengendalikan hampir 90 persen jiwa Ammar.
"Terakhir Aku menyuruhmu untuk membungkam Direktur ED corporation, tapi Kau malah membunuhnya! Dan sekarang dengan bodohnya Kau serahkan bukti itu kepada Detektif, bisa saja kejahatan mu terungkap jika dia melakukan penyelidikan penuh!"
Lagi-lagi Irene hanya tersenyum, ia memang sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang.
"Tenang lah.. Aku bisa mengatasinya."
Ammar semakin merasa kesal, lagi-lagi Irene membuat rencana tanpa melibatkan nya. Ia mulai muak hidup sebagai boneka yang selalu di atur oleh Irene.
"Jika Kau tak memberitahu rencana mu, maka Aku juga akan membuat rencana sendiri."
__ADS_1
Ia pergi meninggalkan Irene di sana. Sekali saja, ia ingin Irene mengandalkannya. Sebagai Pria, bukan sebagai saudara. Namun Irene selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Ia benar-benar muak dengan sikap Irene.
Melihat Ammar pergi dengan keadaan marah, Irene hanya tertawa kecil. Ia sudah biasa menghadapi sikap dingin Ammar. Takkan bertahan lama, besok pasti Ammar akan kembali padanya dan menuruti nya lagi. Karena tanpa nya, Ammar hanyalah seorang Pria yang kehilangan arah.
...~~~...
Kembali kepada Nara yang memergoki Ammar di rumah Nenek nya. Nara mematung di tempat saat melihat kamarnya di buat berantakan oleh Ammar. Sepertinya ia habis mencari sesuatu di sana.
"Ammar!"
Ammar yang baru memejamkan matanya pun terkejut mendengar suara Nara. Satu jam yang lalu ia memantau pergerakan Nara, tampak di ponselnya Nara hendak pulang ke rumah. Namun kenapa sekarang Nara ada di sana?
"Apa yang Kau lakukan di sini?" tanya Ammar. Bukankah seharusnya pertanyaan itu di lontarkan Nara?
Dan anehnya malah Nara yang merasa takut, karena sebelumnya ia menyetujui akan memberitahu Ammar kemana saja ia pergi.
"Aku.. merindukan rumah ini. Anda sendiri sedang apa?" ia gugup karena tak memberitahu Ammar sebelumnya.
"Aku mencari barang bukti." Bukti yang sebisa mungkin ia gunakan agar Irene tak menjebak Nara ke dalam rencananya.
Ammar sudah tau, setelah urusan dendamnya dengan Damar selesai. Irene akan membuat Nara menanggung semua perbuatan nya. Ia akan membuat Nara hidup di penjara sebagai pembunuh berantai. Ia perlu umpan agar polisi tak lagi menyelidiki pembunuhan itu. Dan Nara lah yang ia pilih.
"Sam dan yang lainnya sudah mengambil semua barang yang bisa di jadikan bukti, kurasa tidak ada apa-apa lagi di sini."
"Ada.." Ammar sudah menemukannya, yakni buku jaminan hari tua yang di daftarkan Nara atas nama Neneknya. Mungkin itu tak seberapa, tapi itu bisa di jadikan pembuktian bahwa Nara sangat menyayangi Neneknya.
"Ayo kita pulang.." Ammar bersiap untuk pergi, namun Nara menolak.
"Bolehkah Aku menginap di sini, satu malam saja."
__ADS_1
"Tidak, di sini berbahaya."
"Tolong.. malam ini saja." Nara menatap nanar wajah Pria tanpa ekpresi itu. Ia hanya ingin melupakan semua yang terjadi, setidaknya malam ini saja.
"Baiklah..."
Nara merasa lega, akhirnya ia bisa kembali tidur di rumah itu. Tapi Ammar bukannya pergi, ia malah mengambil selimut dan menuju balkon. Ia berniat tidur di kursi santai yang dulu biasa di pakai Nara meminum kopi di sore hari.
"Anda mau kemana?" jangan bilang dia akan tidur di sana juga.
"Jika sesuatu terjadi padamu, jabatan ku bisa di lengserkan lagi karena belum satu tahun pernikahan."
Sedikit kecewa mendengarnya, Nara berpikir alasan Ammar ingin tetap di sana karena khawatir sesuatu akan terjadi padanya, bukan jabatannya. Entah kenapa suasana hati Nara saat ini sensitif sekali, hingga ia menginginkan perhatian dari seseorang.
"Tapi.. kenapa di balkon, angin laut malam sangat dingin. Lebih baik di ruang TV."
"Aku takut.." sahut Ammar membuang muka. Ia membereskan kursi santai itu agar lebih nyaman di tiduri.
"h...hah?" sesaat Nara heran, Pria yang suka menyendiri itu takut tidur sendiri. Namun ia langsung memahami, bagaimana pun di rumah itu pernah terjadi insiden pembunuhan. Siapa yang tidak merinding?
"Kalau begitu tidur lah di sini, Aku yang akan tidur di bawah." Nara mengambil tas nya, hendak turun meninggalkan Ammar.
"Tidur lah, sebelum Aku berubah pikiran dan membawa mu pulang."
"Baik..." Nara duduk kembali di kasurnya. Ia benar-benar berpikiran kalau Ammar itu penakut.
Takut karena pembunuhan? Mana mungkin, sedangkan Ammar lah yang menyembunyikan dan membersihkan semua bukti yang di tinggalkan Irene.
Di rumah itu, apapun bisa terjadi. Maka itu Ammar ingin memantau Nara secara langsung. Jika Irene tau Ammar dan Nara tidur sana, entah apa yang mungkin bisa terjadi.
__ADS_1
"ch.. pulang apa nya, rumah ku di sini." batin Nara sedikit kesal.
...***********...