
Pukul 3:00 pagi...
Kehabisan tenaga membuat Nara terkulai tak berdaya di balik selimut. Tangannya masih terikat. Mata nya tampak sembab, bahkan sampai sekarang ia masih menitikkan air mata. Kehormatan yang selama ini ia jaga, direnggut paksa oleh Pria yang sama sekali tak pernah ada di dalam bayangannya.
Sementara Ammar, ia tertidur pulas setelah beberapakali menaburkan benih di rahim istri kontraknya itu. Ia bahkan masih memeluk erat tubuh Nara, tubuh kekarnya membuat Nara tenggelam di sana.
Nara melepaskan dirinya dari pelukan Ammar. Baju nya entah di campakkan kemana, alhasil ia memakai kemeja Ammar. Cukup untuk menutupi tubuh polosnya, sambil terus menangis ia berusaha melepaskan ikatan dikedua tangannya lalu keluar dari kamar itu. Berjalan tertatih menuju lift, langkah demi langkah ia ambil dengan sisa tenaga yang ada. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam terutama di bagian inti.
Setelah sampai di kamar ia langsung menuju kamar mandi. Di hidupkan shower air hangat, kemudian ia mengguyur tubuhnya. Tampak di cermin beberapa jejak merah yang di tinggalkan Ammar di dada nya, ada satu juga di leher.
Tangisnya semakin sesenggukan, ia merasa sangat jijik. Merasa sangat ternodai. Ia menggosokkan sabun dengan amat kasar ke seluruh tubuhnya. Bukan hanya alur hidupnya yang hancur, masa depannya kini juga hancur karena Ammar. Ia sungguh merasa telah jadi wanita kotor karena perbuatan pria berstatus suami kontrak itu.
Pukul 9:30 pagi...
Nara tak bisa tidur sama sekali, wajah dan matanya tampak sembab. Ia tengah duduk di atas ranjang nya sembari memegang surat kontrak pernikahan.
Tindakan Ammar kali ini benar-benar keterlaluan, untuk apa dia mengubah kontrak sedemikian rupa jika pada akhirnya berniat melanggar. Apa dia sengaja menjebak Nara kedalam hawa nafsunya? Nara benar-benar tidak akan mentolerir itu.
Pukul segini Ammar pasti sudah pergi, Nara bersiap untuk menemui Sam dan mengajukan gugatan. Kontrak pernikahan, mungkin saja akan diubah menjadi surat panggilan sidang.
"Mau kemana?" tanya Ammar, ia berpapasan dengan Nara yang baru keluar dari kamar.
Nara terdiam, nafasnya terasa sesak seketika. Melihat wajah Ammar yang biasa saja, ia menebak Ammar pasti lupa akan kejadian tadi malam. Ia dalam perngaruh alkohol semalam, bisa saja ia sama sekali tak sadar akan kelakuannya tadi malam.
"Kau tidak mendengarku?"
Lamunan Nara langsung buyar, bingung harus bersikap bagaimana. Ingin sekali ia meneriaki Ammar, memakinya, menusuk setiap inci wajahnya dengan jarum suntik, bahkan jika bisa ia ingin menuntut Ammar untuk mengembalikan kesuciannya.
__ADS_1
"Dengar.." sahut nya pelan, dan pada akhirnya ia hanya bisa menyembunyikan amarah nya karena Ammar sepertinya belum mengingat momen itu. Ia bahkan tak memiliki cukup keberanian untuk membahas kejadian tadi malam.
"Kau mau ke kantor Detektif?"
"Iya.. Aku bisa pergi sendiri..!" Nara langsung bergegas meninggalkan Ammar.
"Memangnya Aku bilang akan mengantar?" gumam Ammar heran. Ia sendiri juga rasanya sangat malas ke kantor. Kepala nya masih terasa sakit sekali.
...~~~...
Sampailah Nara di kantor Detektif. Ia langsung menangis sesenggukan saat tiba di sana. Sandra pun langsung merangkulnya, membawa nya duduk ke sebuah sofa untuk menenangkan diri.
"Tenangkan dirimu..." bisik Sandra mengusap pundak Nara.
"Ada apa? Kau mengalami masalah?" tanya Sam, dan Galih hanya menatap prihatin dengan mata berkaca-kaca. Hatinya yang lembut memang mudah terbawa perasaan orang lain.
Nara mengatur nafas sebisanya, rasanya sangat puas bisa menumpahkan semua tangisnya.
Karena sepertinya urusan penting, Sandra pun bergeser. Ia membiarkan Nara berbicara langsung dengan Sam.
"Tentang apa?" Sam menyimak serius, ia bahkan membuka komputernya untuk menuliskan permintaan laporan Nara.
Nara mengeluarkan selembar kertas, itu adalah kontrak pernikahannya. "Pelanggaran kontrak, dan kekerasan." ia terisak-isak di sela suaranya.
"Apa..? Siapa yang melakukan itu?" Sam tampak sangat khawatir, ia mengamati seluruh tubuh Nara. Adakah luka serius yang di dapatkannya. Dan ia mendapati jejak merah di leher Nara, tersembunyi di balik helaian rambut. Tampaknya Nara sengaja menutupi itu.
Sam membuka rambut yang menutupi leher Nara. Sandra dan Galih ikut mengamati, mereka langsung paham itu bukan kekerasan biasa. Namun Sam tak memahami itu. Otaknya memang kalah liar dibanding sang adik.
__ADS_1
"Ammar yang melakukannya? Apa dia mencekik mu?" tanya Sam cepat.
Nara masih menangis, ia berusaha lagi mengatur nafasnya.
Sam langsung bersiap mengetik "Katakan dengan jelas, apa yang dia lakukan padamu."
"Me.. hikss.. Dia.. meniduri Ku." ucap Nara sesenggukan.
Sandra dan Galih langsung saling tatap, benar dugaan mereka. Ini masalah pengantin baru.
"ssshh....!" Sam mengusap kasar wajahnya.
Terasa kesal sekaligus lega karena dugaannya salah.
"Dia suami mu Nara... tidak ada yang salah dengan itu." ucap Sam sedikit sewot. Masa iya dia harus membuat laporan pemerk*s4an suami terhadap istrinya.
Nara mengeluarkan perjanjian kontrak mereka. "Tentu saja salah! Di sini jelas tertulis!"
Sandra dan Galih mendekat, mereka bertiga membaca perjanjian kontrak tersebut. Tertulis bahwa Mereka tidak boleh saling menyentuh baik di sengaja ataupun tidak. Jika sentuhan ringan maka akan di kenakan penalti 100 juta. Namun jika melebihi batas, maka Pelanggar harus bersedia membayar berapapun yang di minta oleh pihak lain.
"Di sini tertulis hanya mengganti kerugian dengan uang. Tidak tertulis bahwa jika pihak lain melanggar akan di ajukan gugatan." ujar Sam, betapa bodoh Nara karena telah menyetujui kontrak seperti itu.
"hhhah?" Ekpresi Nara berubah syok dan jengah. Jadi ini hanya jebakan? Ammar sengaja membuat peraturan seperti itu agar ia bisa berbuat sesuka hatinya dan membayar perbuatan senonohnya?
Tangis Nara meleleh lagi, ia tak menyangka Ammar berniat seperti itu padanya. "Jadi Aku harus bagaimana?"
"Kau hanya bisa meminta jumlah uang, tak bisa membawa ini ke jalur Hukum karena Kau sendiri menandatangani perjanjian ini."
__ADS_1
Entah kenapa hati Sam ikut berantakan, sepertinya terselip sedikit rasa cemburu di sana. Namun ia tau itu tidak pantas, walaupun Nara hanya berstatus istri kontrak. Bukan berarti ia bisa menaruh rasa padanya, apapun itu sekarang semua nya milik Ammar. Setidaknya sampai pernikahan kontrak mereka selesai.
...***************...