Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 53 : Tidak ingin egois


__ADS_3

Ammar duduk di kursi roda saat proses pemakaman sedang berlangsung. Buliran bening menetes saat serpihan tanah mulai mengubur peti jenasah Irene. Kenangan, cinta dan semua masa indah yang telah mereka lewati kini terkubur bersama jasad yang membawa sejuta arti bagi hidup Ammar.


"Selamat jalan istriku..." lirihnya pilu, entah ke tempat yang damai atau bukan. Ia hanya berdoa semoga kelak bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya itu.


"Istri Anda kan di sini..?" celetuk salah satu pengawal yang tidak mengetahui arti ucapan Ammar.


Ammar langsung melirik tajam kearah pengawal itu, berani-beraninya dia memotong ucapan belasungkawa nya.


"Fokuslah..." bisik Nara menyenggol bahu Ammar.


Ya, identitas mereka memang tak di beberkan sampai sekarang. Biarlah itu menjadi rahasia bagi mereka yang mengetahui, seperti Nara, Sam dan yang lainnya. Ammar benar-benar tak ingin nama Irene terus tercoreng. Biarlah ia pulang ke akhirat dengan tenang.


...~~~...


Setelah pemakaman selesai, Ammar kembali kerumah sakit untuk melanjutkan pemulihan. Kondisinya belum benar-benar sembuh sekarang. Ia masih harus menjalani rawat inap beberapa hari lagi.


Dokter dan perawat yang membantu Ammar naik ke ranjang pergi setelah memastikan keadaan Ammar. Tinggal Nara seorang di sana, ia duduk mematung dengan pikiran tak menentu. Sungkan rasanya jika ingin membahas pernikahan mereka sekarang.


"Ada apa..?" tanya Ammar memecah keheningan. Ia seperti bisa merasakan kegundahan di wajah Nara.


Nara menggeleng pelan, "tidak ada..."


"Katakan saja, Aku tau Kau menyimpan sesuatu."


Jemari Nara saling meremas, setelah sangat mencemaskan Ammar kemarin. Entah kenapa sekarang ia sangat ingin menjauh darinya. Seperti ada ikatan samar yang membuatnya merasa bahwa Ammar mempunyai arti tersendiri.


"Begini... Soal pernikahan Kita..."


"Setelah aborsi berhasil, Aku akan menceraikan mu. Aku sudah berjanji membiarkan mu hidup bebas. Jadi tidak usah khawatir.." Ammar tetap teguh memegang janjinya. kebahagiaan Nara, ia ingin mengembalikan semua itu walau takkan seindah sediakala.


Tak ada lagi alasan Ammar harus mempertahankan Nara. Semua kebohongan sudah terbongkar, bahkan janin yang sedang di kandung, Nara tak menginginkan itu. Kalau mengikuti kata hati, sungguh Ammar ingin mempertahankan semuanya tentang Nara. Tapi itu akan sangat egois bukan?


"Setelah memastikan Kau baik-baik saja pasca aborsi, Aku akan langsung mengurus perceraian Kita." Ucap Ammar yakin.


"Aku... " Nara mengambil jeda sejenak, ia berulang kali memastikan apakah ini keputusan yang tepat. "Akan mempertahankan anak ini... Entah Kau akan tetap menceraikan ku atau tidak. Aku akan tetap melahirkannya."


Ammar membuka lebar pendengarannya, ia tak salah menangkap perkataan Nara barusan kan?

__ADS_1


"Sungguh..?" pungkas Ammar, rasa sakit seolah hilang saat ia mendengar Nara bersedia melahirkan anak mereka.


"Dengan Dua syarat. " imbuh Nara menyelesaikan kalimatnya.


"Apapun itu akan ku sanggupi..." Ammar duduk di atas ranjangnya. Ingin sekali ia bersujud di hadapan Nara dan mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.


"Pertama, Aku tidak ingin tinggal di rumah itu. Kedua, segera urus perceraian setelah anak ini lahir."


deg...


Jantung Ammar tersentak, ia pikir Nara akan bersedia mendampingi anak mereka. Padahal disudut hatinya sangat berharap Nara bersedia hidup bersama dengannya.


"Baiklah..." Ammar menyanggupi. Bagaimanapun tak pantas jika ia mengharapkan Nara mendampinginya seumur hidup. Ia adalah Pria iblis yang beruntung karena masih di beri kesempatan hidup. Sementara Nara seperti sosok malaikat dengan hati nya yang sangat lembut. Sangat bertolak belakang dengannya.


"Tapi.. Apa boleh Aku bertanya, kenapa Kau membuat keputusan ini?"


"Karena Aku tidak ingin membunuh anakku..."


Selain itu mereka berdua sama-sama sebatang kara sekarang. Rasanya tidak salah jika ia menginginkan anggota keluarga lain hadir di dunia ini. Agar ia lebih punya tujuan hidup. Walaupun pada akhirnya mereka akan hidup terpisah, Nara yakin anak yang ia lahir kan akan membawa perubahan besar bagi dirinya dan Ammar.


"Terimakasih Nara.., karena telah memberikan kesempatan untuk anak kita.." bola mata Ammar sangat berbinar. Akhirnya setelah sekian tahun memendam keinginan memiliki anak, kini ia bisa merasakan jadi seorang Ayah. Walau dari rahim wanita yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


...~~~...


Dokter sudah memastikan kondisi Ammar, dan dia sudah di perbolehkan pulang. Walau punggungnya belum bisa lepas dari perban, ia sudah bisa bergerak leluasa.


"Kau yakin ingin membawa mobil sendiri?" tanya Nara ragu, padahal Ammar punya banyak pengawal yang bisa di suruh. Tapi dia malah kukuh ingin menyetir sendiri.


"hmm.. Aku sudah muak bertemu dengan orang-orang asing." Ia masuk ke kursi pengemudi, dan Nara duduk di kursi belakang.


"Kau tidak ingin makan sesuatu?" ia menoleh kearah istrinya yang tengah terpaku menatap foto USG. Mereka menyempatkan pemeriksaan kandungan tadi. Untung saja setelah semua yang terjadi bayi mereka masih baik-baik saja.


"Tidak..." sahut Nara tanpa melihat Ammar, ia tersenyum kecil sambil mengusap lembaran USG tersebut. Rasanya aneh, bahagia bercampur gundah menyelimuti benaknya.


Kalau saja ia tetap memutuskan aborsi, mungkin ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia tega membunuh janin yang suci itu? Meski begitu rasa kesal dan dendam terkadang menghampirinya jika teringat siapa sosok Ayah sang janin. Terlebih saat mengingat janin itu ada karena hasil rud4paksa.


Bisa saja ia pergi sejauh mungkin, dan membesarkan anak itu sendiri. Tapi entah kenapa ia tak tega jika anaknya tumbuh jauh dari sosok Ayah kandungnya. Ia tak mau anaknya merasakan hal yang sama. Meskipun nanti mereka tetap bercerai, setidaknya sang anak akan tetap tumbuh dalam pengawasan Ayah dan Ibunya.

__ADS_1


...~~~...


Sejak kejadian menegangkan hari itu, Nara belum sempat menemui para Detektif dan mengucapkan terimakasih. Maka dari itu hari ini Nara mendatangi mereka sambil membawakan beberapa makanan. Bagaimanapun juga mereka sangat membantu, walau ternyata hasilnya di luar dugaan.


"wah.. Lihat siapa yang datang. Ku kira Kau sudah melupakan kami." sapa Galih menyambut kedatangan Nara.


Mereka pun duduk bersama, menceritakan semua alur yang telah mereka lewati dengan penuh kejutan.


"Jadi sekarang Kau sedang mengandung anak Pria itu?" ucap Sandra tak percaya.


"Iya... Aku sendiri bahkan masih belum percaya." sahut Nara sambil mengunyah makanannya.


Sementara di depannya, tampak Sam memasang wajah lesu. Ia seperti kehilangan semangatnya.


"Kau sudah mencintainya?" tanya Sandra lagi. Jika benar maka Nara sungguh bodoh. Mencintai pria iblis yang telah menghancurkan hidupnya.


Nara menggeleng, ia juga sadar ini keputusan yang bodoh. "Kami sudah setuju untuk bercerai setelah bayi ini lahir."


"Benarkah..? Kenapa..?" pungkas Sam tampak sangat antusias.


"Karena Aku tidak memiliki alasan untuk tetap bersamanya.." hanya anak itu satu-satunya hal yang membuat Nara masih terlibat dengan Ammar.


"Tapi kalian punya anak..?" imbuh Galih tak kalah penasaran. Jiwa rumpi nya benar-benar bangkit sekarang.


"Memangnya Kau bisa tinggal dengan seseorang yang Kau benci?"


Sam dan Galih mengangguk pelan, mereka mengerti. Ammar adalah sumber kehancuran hidupnya, dan sangat pantas jika Nara membencinya.


"Tapi benci bisa jadi cinta loh..." goda Sandra sambil menyenggol lengan Nara dengan sikunya.


Nara bergidik merinding, mencintai pembunuh? Itu hal yang sangat buruk. Memang Ammar bukan membunuh, tapi dia yang menutupi dan membereskan semua perbuatan Irene. Itu sama saja kan?


"Sejak kapan benci bisa jadi cinta..?" celetuk Sam. Itu sungguh tak masuk akal baginya. Benci ya benci saja.


"Sejak Kau mulai membencinya..." imbuh Galih dan di angguki oleh Sandra.


Sementara Sam dan Nara yang kontra dengan pendapat itu pun hanya mengangkat bibir mereka dengan wajah jengah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2