Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 26 : Kesaksian Palsu


__ADS_3

Sepuluh menit sebelum rapat Dewan direksi. Ammar tampak menyimpan buku kecil ke dalam brankas pribadinya. Buku itu adalah buku jaminan hari tua yang ia ambil diam diam dari rumah Nara kemarin.


Setelah siap, Ia membawa laptop serta beberapa berkasnya menuju ruang rapat. Para petinggi dan jajarannya tampak sudah siap di ruangan itu. Irene selaku wakil Pimpinan membuka rapat tersebut dengan menghitung keuntungan para pemegang saham.


Selanjutnya Ammar memberi kebijakan baru mengenai keuangan. Perangkat lunak yang mereka luncurkan bulan lalu sangat di minati di pasar internet, namun entah bagaimana dana dan jumlah data yang masuk tak sesuai dengan statistik penjualan.


Selama hampir satu jam, mereka berdebat mengenai dana yang hilang itu. Tentu saja situasi sengaja di perkeruh oleh Irene agar semua orang mempunyai pendapat yang sama dengannya.


Hingga tiba saat yang telah di rencanakan, yaitu Sam dan Polisi datang membawa surat penggeledahan yang di tujukan pada Damar.


Rapat terpaksa di hentikan, Para Detektif dan Polisi menggeledah kantor Damar yang kini menjabat sebagai Direktur Utama. Tak hanya dia, putra sulung nya juga terseret.


"Tunggu, apa-apaan ini?" Damar mencegah para Detektif membawa berkas di kantornya.


"Anda bisa bertanya di kantor polisi nanti." sahut salah satu petugas. Ia memperlihatkan surat penangkapan resmi atas penggelapan dana.


"Hei.. Kalian yang membuat tuduhan palsu ini kan?" Damar menatap Irene dengan mata murka.


"Kita lihat saja nanti, palsu atau tidak." ucap Irene sambil mengangkat sebelah alisnya.


...~...


Di ruang interogasi. Sam dan Galih memegang semua bukti yang di serahkan Irene tempo hari.


Damar didampingi pengacaranya mengelak sebisa mungkin. Ia bahkan menyinggung pengumpulan bukti ilegal yang di dapatkan oleh Irene.


Sementara itu di ruangan lain, Nara di panggil sebagai saksi. Ia di temani Irene yang akan memperkuat kesaksian Nara nantinya.


"Pada tanggal 27 september, pukul 21:30. Terlapor Damar Adiguna melakukan pelecehan terhadap Anda, benar begitu?"

__ADS_1


"a..apa!?" Nara hampir pingsan mendengar pertanyaan Pak Polisi. Bukan karena insiden pelecehan tersebut. Jelas sekali yang melecehkannya waktu itu bukan Damar.


Irene langsung menyorot tajam wajah Nara. Membuatnya langsung teringat kesepakatan semalam, ia hanya harus mengatakan iya saat polisi bertanya.


"i..iya.." sahut Nara gugup, jika ia merusak rencana Irene. Maka ia pasti langsung menerima hukuman. Namun bukankah ini cukup kejam? pelaku pelecehan itu bahkan sudah mati terbunuh, sekarang malah melimpahkan kesalahan ini pada orang lain.


Polisi memutarkan rekaman CCTV saat Nara ke toilet malam itu. Tak lama kemudian si pelaku mengikutinya. Mata CCTV hanya menangkap Pria itu dari belakang, karena itu toilet CCTV hanya merekam di wilayah terbatas.


Saat Nara di tarik secara tiba-tiba ke dalam toilet Pria pun terekam jelas. Namun si pelaku tidak terlihat. Kebetulan itu pun di manfaatkan Irene dengan dugaan menghindari CCTV.


"Terlapor mengatakan akan membayar Anda jika mau melayaninya. Apakah itu benar?" tanya Pak Polisi lagi.


Lagi-lagi Nara pun hanya menjawab dengan kata iya, karena ia harus menuruti rencana yang dibuat Irene.


Setelah menanyai Nara dan Irene, penyelidikan di lanjutkan pada Damar. Sam pun tak kalah terkejut saat tuduhan pelecehan di layangkan pada Damar. Ia tau betul pelaku yang sebenarnya sudah tewas terbunuh.


"Pelecehan?! Wanita itu benar-benar tidak waras! Aku bahkan tidak pernah mengatakan hal aneh padanya. Kapan Aku melecehkannya?!" Damar mengamuk di ruang interogasi. Sam dan pengacaranya sampai kewalahan menghadapi.


...-...


...-...


"Jika pengacaranya bisa membuktikan itu tuduhan palsu, maka Kau akan di tuntut oleh nya."


"Dia juga membuat tuduhan palsu hingga Ayahmu di hukum. Bukankah ini setimpal?" Irene tersenyum, karena telah membuat Damar menerima pelajaran.


"Bukankah Kau juga mengumpulkan bukti dengan meretas? apakah itu legal?" imbuh Irene membuat Sam langsung menutup rapat mulutnya.


Ia tau Irene bukanlah orang sembarangan. "Nara juga akan di kenakan Sanksi jika ketahuan memberikan kesaksian palsu."

__ADS_1


"Kenapa Kau mengkhawatirkan saudari ipar ku? Aku pasti akan melindunginya, jadi Kau tidak perlu khawatir."


"Untuk sekarang mungkin Kita belum bisa membuktikan kejadian 20 tahun lalu, tapi Aku akan berusaha membuatnya menerima hukuman."


Untuk hal ini, Irene dan Sam berada di pihak yang sama.


Setelah selesai bicara, Sam meminta waktu untuk bicara empat mata dengan Nara. Irene pun meninggalkan mereka dan menunggu di dalam mobil.


"Bagaimana? Kau menemukan sesuatu?"


Nara menunjukkan sebuah foto yang ia ambil diam-diam. Bekas luka berupa goresan yang ada di paha Irene. Ia mengambil foto itu saat Irene sedang berjemur di kolam renang kemarin.


"Ini hanya kebetulan kan? Dia mungkin terluka saat sedang melakukan olahraga." Nara menyangkal kecurigaan yang timbul di benaknya karena Irene begitu baik pada nya selama ini.


Tentu saja Nara menganggap Irene malaikat penolong, padahal justru Irene lah yang menjebaknya ke dalam situasi ini.


"Aku akan menyelidiki nya, untuk sekarang Kau berhati-hati saat di rumah. Segera hubungi Aku jika terjadi sesuatu." Sam menepuk pelan bahu Nara, memberinya keberanian untuk tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Baiklah..." Nara mengulum senyum tipis, untuk pertama kalinya ia merasa mendapatkan penopang yang bisa di jadikan sandaran. Kini ia punya tempat berbagi cerita, walaupun hanya seputar masalah pembunuhan.


...~...


Kembali ke rumah megah itu membuat dada Nara sedikit sesak. Ia di hantui ketakutan, bagaimana kalau ternyata Irene yang membunuh Neneknya?


Kecurigaan Sam terhadap Ammar dan Irene yang membunuh Nenek nya membuat ia juga berpikiran negatif. Bagaimana jika ternyata semua pembunuhan itu di lakukan oleh Irene dan Ammar?


"haishhh!! Omong kosong. Jika mereka pelaku nya untuk apa menikahi ku? Kenapa tidak membunuhku saja sekalian? Memang nya apa yang penting dari ku?"


Nara mengomel sendiri di depan cermin. Mulutnya menepis jauh pikiran buruk itu, namun tak dapat di pungkiri hati dan pikirannya sangat amat ketakutan.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2