
Nara memesan salah satu kamar hotel. Ia sungguh tak ingin pulang ke rumah itu. Ingin sekali ia melarikan diri sejauh mungkin. Ia juga mematikan ponselnya. Entah masalah apa yang akan ia hadapi jika orang rumah mengetahui ini, yang ia inginkan saat ini hanyalah menenangkan diri.
Sementara di rumah, Irene sudah dua jam mencari Nara. Berusaha menghubunginya namun tak ada jawaban. Tak biasanya Nara seperti ini.
"Apa dia melarikan diri?" gumamnya amat khawatir. Jika Nara sampai kabur bisa berantakan rencananya.
Ammar yang baru memasuki rumah langsung di cecar pertanyaan oleh Irene.
"Kau tau Nara kemana? Apa Kau melampiaskan amarah mu padanya? Aku menghubunginya dari tadi, ponsel nya tidak aktif. Kalau dia kabur semua rencana kita bisa kacau!"
Ammar menarik dalam nafasnya, menatap teduh wajah Irene. "Begini lah Aku mengkhawatirkan mu semalam."
"Jawab Aku Ammar! Apa Kau membuat Nara pergi dari rumah? Kau pasti melampiaskan emosimu padanya kan?" Irene sangat yakin, Ammar tidak mungkin tenang dan diam saja.
"Setelah kabur seharian Kau bukannya menanyakan keadaanku, malah mencari tikus itu?"
"Apa yang Kau lakukan padanya..?" Irene menekan suaranya.
"Aku tidak melakukan apapun."
"Lalu kemana dia? Dia tidak akan berani kabur, kalaupun dia melakukan itu pasti Kau penyebab nya!" Irene terus menuduh Ammar, pasalnya ia tau betul Ammar sangat tidak menyukai Nara.
"Aku akan mencari, mungkin dia di rumah Neneknya." Ammar berbalik dengan rasa jengkel, bukan karena Nara. Melainkan Karena Irene tidak meluruskan perdebatan mereka kemarin. Kini ia malah marah-marah dan sibuk memikirkan Nara.
...~~~...
Tuduhan penggelapan dana dengan mudah di bantah oleh Damar. Kejaksaan telah menyabut tuduhan terhadapnya, namun tidak dengan tuduhan pelecehan terhadap Nara. Karena itu di luar dugaan. Irene memanipulasi bukti serapi mungkin hingga Damar hampir tak bisa lolos.
__ADS_1
"Ammar adalah putra dari sahabat Anda. Dan Anda mengatakan dia sudah seperti anak sendiri, lalu kenapa Anda melecehkan istrinya?" tanya seorang jaksa yang mengintrogasi.
Damar bungkam, ia tak mau salah bicara nantinya. Oleh karena itu ia menyiapkan pengacara terpercaya untuk menangani kasus ini.
Sayang nya saat malam kejadian itu, Damar sedang bertemu dengan Direktur Ryan di laboratorium rahasia. Mereka menguji coba dosis baru namun ternyata malah menyebabkan orang bayaran mereka tewas.
Jika ia memakai Dokter Ryan sebagai alibinya, maka pengembangan obat ilegal itu bisa saja terendus juga oleh pihak kepolisian.
"Sejak pernikahan Ammar dan Istrinya, Pak Damar hanya pernah bertemu dua kali. Saat pesta pernikahan, dan saat pelantikan Ammar. Dan hari itu Pak Damar tidak datang ke pernikahan tersebut." ucap pengacara yang membela Damar.
"Di daftar tamu, tertulis nama Damar. Dan Anda bilang dia tidak hadir. Bisakah Anda memberikan alibi yang kuat? Saat pesta pernikahan itu berlangsung Anda sedang berada dimana?" gretak Jaksa itu mulai kesal. Damar terus saja berputar-putar. Mengatakan ia tidak datang namun tak bisa memberikan alibi.
...~~...
Nara tengah meringkuk di dekat jendela balkon. Ia menyewa sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Tujuannya adalah keamanan, selain itu ia berharap Ammar tak bisa menemukannya.
klik..klik...
Hampir pingsan ia saat melihat Ammar yang membuka pintu itu. Jika Ammar mengetuk, ia pasti tak mau membukakan pintu. Itu sebabnya Ammar meminta kunci cadangan kepada pihak hotel.
"Apa yang Kau lakukan di sini?!" Nara sangat ketakutan. Ia berpikir Ammar benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa ia membututi nya sampai ke sini?
"Kenapa Kau mematikan ponsel mu? Irene marah padaku karena Kau kabur dari rumah."
"Bagaimana Kau bisa tau Aku di sini?" Nara merangkak mundur, ia masih terduduk. Lututnya serasa tak sanggup untuk berdiri. Sementara Ammar terus melangkah ke arahnya.
"Aku mencari mu kemana-mana. Dan kebetulan Aku mengenal seseorang di hotel ini." bohong Ammar. Padahal ia tau karena GPS yang ada di gelang Nara.
__ADS_1
"Kau mau pulang, atau bermalam di sini?"
Nara tak menjawab, ia menatap Ammar tanpa berkedip. "Apalagi kali ini? Apa dia ingin membodohi ku lagi? Apa dia masih tidak mengingat kejadian semalam? Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa karena kontrak bodoh itu. Apa dia sengaja membuatnya seperti itu untuk membodohi ku?" ia sibuk sendiri dengan berbagai pertanyaan di dalam hati.
"Turunkan mata mu." ketus Ammar tak suka, Nara menatapnya seolah sangat jijik.
Ponsel Ammar berbunyi, Irene yang menelpon. Ammar menahan sejenak, berat rasanya mengangkat telepon itu.
[Kau sudah menemukan Nara?] tanya Irene dari dalam telepon.
Ammar hening, ia mengamati wajah Nara yang sepertinya tidak ingin pulang malam itu. "Belum.."
[Kau sudah mendatangi rumah Nenek nya?]
"Dia tidak di sana." lagi, Ammar berbohong.
[Cari sampai dapat. Jangan pulang sebelum Kau menemukannya!] Irene lantas menutup teleponnya. Ia mengerahkan beberapa orang untuk mencari Nara, namun sampai saat ini belum ada yang menemukan.
"Kenapa Kau berbohong?" Nara terheran, sesaat ia merasa Ammar bisa merasakan kegelisahannya. Namun kegelisahan itu kan timbul karena ulah Ammar.
"Lantas, Kau ingin pulang sekarang?"
Nara terdiam, tujuannya kabur kan menghindari Ammar. Lalu jika Ammar ada di sana ya sia-sia saja ia melarikan diri.
"Tidur lah di sini malam ini, Aku akan memesan kamar di sebelah. Jangan coba-coba melarikan diri lagi." Ammar pergi meninggalkan kamar itu.
Perlakuan Ammar itu pun menimbulkan pertanyaan baru di benaknya. Kenapa Ammar seperti memahaminya, sampai membohongi Irene. Tempo hari juga begitu, ia tidak bilang pada Irene kalau mereka tidur bersama di rumah Nenek.
__ADS_1
Lalu tentang semalam, bukankah dari awal Ammar membuat batasan jelas untuk pernikahan mereka? Apa itu hanya kesalahan akibat mabuk semata? Lalu Nara harus apa? Diam saja saat kesuciannya direnggut. Atau menuntut menuntut kompensasi, sementara si pelaku tidak ingat perbuatannya. Lantas sebesar apa ia harus meminta kompensasi untuk hal yang sangat berharga itu?
...*************...