Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 43 : Hari peringatan


__ADS_3

Sekarang Ammar sudah membawa Nara pulang ke rumah. Namun ia tak membiarkan Nara memasuki kamar sebelum menjawab pertanyaannya.


"Kau berniat menuntut ku karena itu?" Ia menyilangkan kaki sambil menyandarkan badan di sofa. Sementara Nara duduk di depannya sambil memainkan kuku.


"Karena itu? Kau masih menganggap itu hal sepele? Itu hal yang sangat berarti bagiku!" kesalnya, ia benar-benar tak habis pikir dengan Ammar. Ia menatap Ammar dengan seribu tusukan, namun jemarinya tetap gemetar di bawah sana.


"Tidakkah Kau berpikir dia akan menyebarkan pernikahan Kita?"


"Kenapa? Kau takut posisimu sebagai pimpinan di lengserkan? Atau rencana kalian berdua untuk menyelidiki Damar bisa berantakan? Apa Aku tidak berhak memikirkan diriku sendiri?" Akhir-akhir ini mulutnya tak bisa ditahan, ia selalu membantah Ammar sekenanya.


"Bukan itu... Kau tidak ingat seseorang hampir melec3hkan mu karena rumor pernikahan Kita? Kau tidak berpikir Detektif itu bisa saja melakukan hal yang lebih gila padamu hanya karena Kau seorang wanita yang bisa di bayar?" Nada bicara Ammar terdengar ketus dan cepat seolah mengimbangi kekesalan Nara.


Nara terdiam mendengar omelan Ammar, ada benarnya juga perkataan itu.


Ammar mengangkat tubuhnya dari sandaran sofa. Menatap Nara dengan penuh perhatian. "Aku memikirkan mu... Jadi jangan tunjukkan kepada orang bahwa Kau tidak penting untukku."


"Kenapa..? Kenapa Kau memikirkan Ku? Kenapa Aku penting untukmu?" Nara mengangkat pandangannya, membalas teduh tatapan Ammar dengan sorot tajam.


"Karena Kau..." mengandung anakku, itu yang ada di pikiran Ammar. Betapa berarti wanita didepannya itu mengalahkan posisi Irene yang bertahun-tahun menghuni relung hatinya.


"Harus tetap menjadi istriku sampai Damar tertangkap." Lanjutnya, ia membuang tatapan penuh perhatian itu dari wajahnya. Ia takut Nara tenggelam lebih jauh. Ia tau wanita itu mempunyai hati yang sangat lembut dan mudah tersentuh.


Nara mendengus kesal, entah apa yang ia harapkan dari perkataan Pria bermulut tajam itu. Walaupun yang telah terjadi hanya sebuah kesalahan, Nara tetap ingin Ammar menganggap itu penting. Tapi ternyata Ammar hanya menganggap itu sebuah kesalahan yang sama sekali tidak berarti.


...~~~...

__ADS_1


Tepat pada hari ini, orang tua Ammar dan Irene meninggal dunia 20 tahun yang lalu. Dengan pakaian serba hitam Ammar dan Irene datang ke pemakaman untuk memperingati hari kematian. Tak lupa Nara juga mereka bawa. Sebenarnya Ammar melarang Nara untuk ikut karena khawatir dengan kondisinya. Tapi Irene bersikeras mengajak, karena itu Ammar tak bisa menolak. Ia tak punya alasan yang tepat untuk itu.


Melihat Irene dan Ammar meletakkan bunga, Nara pun mengikuti mereka. Sejenak mereka mengheningkan cipta, mengirim doa dan menyampaikan salam rindu.


"Ma, Pa.. menantu mu datang." ucap Irene, Nara sontak menoleh kearahnya. Kemudian Irene menggandeng bahu Nara dan memberikan isyarat untuk mengucapkan salam pada sang pemilik pusara.


"Istriku bertambah cantik kan Pa?" Lirih Ammar.


Irene yang berdiri tepat disebelah Ammar langsung tersenyum lembut. Ammar memang akan selalu memuji kecantikannya di depan orang tua mereka.


Sementara Nara bingung, karena ia merasa istri yang di sebut Ammar adalah dirinya. Ia bingung karena kata 'bertambah' yang di ucapkan Ammar. Memangnya kapan ia pernah mengunjungi makam ini? Hari ini pertama kali untuknya. Kenapa Ammar seolah mengatakan kalau mereka sering kesana. Sekaligus ia bingung kenapa Ammar memuji istrinya, bukankah pernikahan mereka hanya kontrak saja.


Di saat Nara sedang sibuk dengan pikirannya, Ammar diam-diam melirik kearahnya bahkan tersenyum kecil saat melihat ekpresi Nara yang sedang sibuk sendiri.


Kemudian mereka bertiga pindah ke sebelah, dimana makam Denias dan Gita berada. Irene langsung menitikkan air mata saat itu. Ia teringat semua kenangan masa kecilnya, betapa bahagia mereka dulu. Namun semua kenangan itu ikut hangus dan menjadi abu dendam di pikiran Irene.


Langit yang sedari tadi gelap pada akhirnya melimpahkan airnya. Tidak terlalu deras, tapi rintikannya cukup besar di iringi angin yang menerbangkan beberapa kelopak bunga ke udara.


Mereka langsung beranjak menuju mobil, Ammar bergegas melepaskan jasnya dan memberikan itu pada Irene. Lalu ia memayung kan tangan di atas kepala Nara, mereka pun berjalan cepat dengan punggung Ammar yang menjadi payung untuk tubuh Nara. Tubuhnya yang tinggi sangat cukup menghalangi rintikan hujan agar tak membasahi tubuh Nara. Sementara Irene lebih dulu berlari ke arah mobil.


"Pelan-pelan saja..." ucap Ammar takut Nara terpeleset.


Detak jantung Nara sungguh tidak aman saat itu. Siapa yang akan tetap tenang saat diberikan perhatian seperti itu? Tak dapat di pungkiri Nara mulai merasakan sisi lain dari Ammar yang semakin hari semakin hangat.


Saat masuk kedalam mobil, Irene menoleh. Ia melihat Ammar dan Nara yang sedang menuju kesana. Tangannya meremas kuat jas Ammar. Itu seharusnya menjadi posisinya, kenapa pula Ammar memilih meminjamkan punggungnya untuk Nara. Ia benar-benar merasakan desiran panas yang membakar rongga dadanya.

__ADS_1


...~~~...


Di kantor Detektif...


Sandra tercengang saat melihat keaslian dokumen pernikahan Ammar dan Irene. Itu benar-benar resmi tercatat di Amerika.


"Lalu siapa Irene sebenarnya?" gumam Sam, ia benar-benar tak menyangka Ammar tengah mempermainkan Nara sekarang.


"Irene Louise, apakah dia putrinya Pak Denias?" ucap Sandra ragu. Apa jangan-jangan rumor bahwa Denias punya anak di luar nikah itu benar. Dulu rumor itu sangat gencar di kalangan para wartawan, bahkan ada juga beberapa koran yang memberitakan itu. Pada akhirnya desas-desus pernikahan nya dengan Gita memadamkan rumor tersebut.


"Menurutmu bagaimana reaksi Nara jika mengetahui ini?" Sandra bisa merasakan pasti Nara akan sangat sakit hati.


"Pasti dia akan merasa sangat tertipu.." sahut Sam.


"ch.. Bodoh sekali Kau ini, pasti dia akan sangat sakit hati. Pria yang menikahinya ternyata sudah memiliki istri. Pasti dia akan merasa sebagai perebut suami orang..."


"hei jaga ucapan mu, Irene sendiri yang menawarkan pernikahan itu. Jadi dia bukan perebut suami orang. Lagi pula untuk apa Nara sakit hati? Pernikahan itu hanya kontrak, tidak ada cinta di antara mereka."


Sandra memicingkan matanya, "Siapa yang tau ...bisa saja benih-benih cinta sudah bersemi di antara mereka."


"Konyol sekali.. Mana mungkin Ammar meninggalkan istrinya demi Nara." ketus Sam. Entah mengapa ia tak terima mendengar Sandra bicara tentang itu.


"Nara juga istrinya..."


"Istri kontrak." tegas Sam. Harus berapakali ia meyakinkan kalau di antara Ammar dan Nara hanya ada surat kontrak. Nara sendiri yang mengatakan bahwa Ammar sama sekali bukan Pria yang ia bayangkan.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2