
Setelah kembali ke toko pakaian, ia mendapati Nara sudah tidak ada di sana. Wajahnya yang gelisah bertambah panik. Ia langsung menghampiri pramuniaga yang tadi melayani Nara.
"Permisi, apa istriku sudah pergi?"
"Istri Anda langsung pergi setelah membeli beberapa setel baju Tuan. Tadi dia sempat mencari Anda..."
"Ke arah mana dia pergi?"
Dengan wajah tak yakin, pramuniaga itu menunjuk ke arah selatan. Ia tak terlalu memperhatikan tadi.
Ammar langsung berlari keluar, ia melihat kanan kiri dengan nafas berat. Belum sampai lima menit ia meninggalkan toko itu. Kenapa Nara sudah menghilang? Apa secepat itu langkah kakinya?
"Angkatlah..." gumamnya cemas, ia menelpon Nara namun tak kunjung di angkat. Setelah beberapa nada bip, barulah Nara mengangkat teleponnya.
"Nara.. dimana Kau?!" ia langsung menghardik Nara saat telepon tersambung.
"Di belakangmu.." Nara berdiri di dekat eskalator. Berjarak satu meter dari Ammar berdiri.
Ammar menoleh, ia langsung menghampiri Nara dan memeluknya erat. Betapa khawatir ia membayangkan apa saja yang mungkin terjadi.
"Kau kemana saja? Kenapa Kau lama mengangkat telepon ku hah?"
Nara terdiam di dekapan suaminya itu, beberapa orang melihat mereka. Ia terlambat mengangkat ponsel karena dua kantong belanjaan itu membuat pergerakan tangannya terhambat.
"Aku kesulitan mengambil ponsel ku di tas. Aku yang seharusnya bertanya Kau dari mana? Ku pikir Kau meninggalkanku tadi." ketus Nara pelan, ia berusaha melepaskan pelukan Ammar dari tubuhnya.
Ammar tak memperdulikan Nara yang berusaha memberontak, ia sedang melepaskan rasa lega karena penguntit yang mencurigakan tadi.
"Kenapa Kau tak memakai gelangmu? Dan kenapa Kau mematikan layanan lokasi di ponsel mu? Taukah Kau betapa khawatirnya Aku jika Kau lepas dari pengawasan ku?"
"Aku selalu melepasnya saat mandi, dan soal ponsel.., tunggu! Kau menaruh pelacak di gelang itu? Apa Kau juga melacak lokasi di ponselku?"
Kenapa baru sekarang ia terpikirkan soal gelang itu? Kejadian di hotel, dan bagaimana bisa Ammar selalu tau posisinya. Pasti karena gelang itu. Betapa bodohnya ia baru menyadari itu sekarang.
__ADS_1
Ammar melepaskan pelukannya, ia membalas tatapan curiga Nara dengan kedua netra yang teduh. "Sudah ku bilang Aku akan melindungi mu kan? Itu salah satu upayaku."
Kedua telinga Nara terasa panas seketika. Bahkan daun telinga itu tampak merona. Ia mengalihkan pandangannya dari kedua netra Ammar.
"Ayo pulang..." Nara beranjak meninggalkan Ammar sambil bergidik merinding. Tatapan seorang yang ahli di bidang pembunuhan memang terasa berbeda. Menggetarkan seluruh pembuluh darahnya.
...~~~...
Di kantornya, Sam memilihkan pistol paling kecil dengan peluru yang sangat mematikan. Ia berusaha melakukan banyak cara untuk melindungi Nara dari Pria berdarah dingin itu. Entah kenapa perasaannya tak enak, dan mengatakan semua persoalan belum berakhir.
"Kau sudah memeriksa rekaman CCTV di rumah sakit?" tanya Sam kepada Sandra. Ia memerintahkan Sandra untuk memeriksa sesuatu.
"Sudah, tidak ada yang aneh.." sahutnya menunjukkan rekaman yang ia retas dari sistem keamanan rumah sakit. Waktu, tempat dan kejadian, semua tertera tanpa ada sesuatu yang mencurigakan.
Sam memperhatikan dengan seksama, "Stop..! Perbesar gambarnya." Sam menunjuk salah satu rekaman pada tanggal 5 November. Ada sesuatu yang janggal, yakni jarum jam yang tertangkap di lobi rumah sakit yang tiba-tiba melompat sebanyak 5 jam. Yakni dari jam 12 malam hingga jam 5 lewat 20 menit. Namun Angka jam yang tertera di rekaman CCTV tak menunjukkan pelompatan waktu tersebut.
"wah.. Apa seseorang merekayasa ini? Tapi untuk apa?" gumam Sandra tak percaya.
"Siapa dan untuk apa, Kita harus menemukan alasannya." Sam mengetukkan selongsong pistol ke atas meja dengan rahang mengeras.
Sesampainya di rumah, Nara meletakkan dua kantong belanjaannya dan ia langsung berbaring di atas kasur. Karena usia kehamilannya semakin bertambah, ia jadi semakin mudah lelah. Rasanya berbaring seharian di kasur akan menjadi obat paling ampuh.
"Kau tidak bebersih? setidaknya cuci kakimu sebelum naik ke atas ranjang." Ammar mengoceh sesaat ia memasuki kamar.
"Sebentar..." sahut Nara malas. Ia menutup wajahnya dengan bantal.
"Akan kau apakan baju-baju ini?" Ammar memeriksa dua kantong besar berisi baju dan beberapa daster.
Nara turun dari kasur dan menuang dua kantong belanjaan itu.
"Akan ku cuci dulu, akan lebih baik kalau Kau mau membantu memisahkan jenisnya."
Ammar ikut duduk, kemudian mulai memisahkan baju sesuai jenis kainnya. Nara melakukan itu dengan wajah lesu, ia merasa hati dan tubuhnya gelisah tanpa alasan. Sementara Ammar melakukan itu dengan senyum tipis, melakukan hal sederhana dengan pasangan ternyata cukup menyenangkan.
__ADS_1
"Kau membeli ini..?" Ammar terbelalak saat memegang setelan baju dinas berwarna merah muda yang tadi di tawarkan oleh pramuniaga. Ia mengangkat baju itu untuk memastikan.
Nara pun tak kalah terkejutnya "Kenapa itu ada di sana?" ia panik setengah mati. Bagaimana jika Ammar berpikiran ia sedang menggodanya?
Ammar menenteng lingerie itu ke samping hingga wajah Nara tampak jelas di matanya. Wanita itu menunduk dengan wajah merah merona.
"Apa dia berjalan sendiri ke kantong belanjaan mu?" goda Ammar. Membayangkan nya saja membuat celana nya terasa sesak.
"Tidak tau! Aku tidak membelinya. Buang saja..!" Nara berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Apa dia mabuk selagi belanja tadi? tidak mungkin. Lalu tidak mungkin juga pelayan toko besar itu dengan lancang memasukkan barang yang bukan di pilih.
Nara membasuh wajahnya berulang kali untuk mengingat apa yang membuat baju panas itu ada di kantong belanjaannya.
Sementara Ammar masih saja memandangi baju itu dengan senyum tipis. "Apa ini kode? tidak..tidak.. mana mungkin." ia melipat kembali baju itu dan memasukkan nya ke dalam lemari. Siapa tau suatu saat berguna.
"Nara..."
"Jangan berpikiran aneh! Jangan memikirkannya Ammar! Aku benar-benar tidak membeli itu!" seru Nara memotong. Ia benar-benar sedang kesal di dalam sana.
Sekali lagi Ammar tertawa kecil, "Aku hendak buang air. cepatlah.." ia menggedor pintu kamar mandi.
"Sebentar...!" bentak Nara tak jelas karena ia tengah menggosok giginya.
...~...
Epilog...
Setelah memilih beberapa baju, Nara memberikan keranjangnya ke pada pramuniaga yang melayaninya. Saat itu ia menyadari Ammar tak ada di sana, fokusnya pun buyar. Ia menoleh ke seluruh sudut toko namun tak menemukan Ammar.
Dan di saat yang bersamaan, pramuniaga menawarkan kembali satu set lingerie yang ia tawarkan di awal. "Yang ini sekalian Bu?"
Tanpa melihat barang yang di maksud, Nara pun menjawab iya. Pramuniaga itu lantas memasukkan lingerie ke dalam keranjang. Sampai saat pembayaran pun, Nara tak fokus dan terus mengedarkan pandangannya mencari Ammar. Hingga ia tak tau kalau lingerie itu ikut di scan dan di masukkan ke dalam kantong belanjanya.
...****************...
__ADS_1
Walaupun popularitas ngesot, otor tak apa๐ yang penting otor punya pembaca setia walaupun jumlahnya masih kalah banyak ama jari-jari. Yang penting kalian tetep kasih jempol dan selalu kasih semangat untuk otor.๐คง
Terimakasih banyak pembaca setia yang sejauh ini tetap menanti cerita recehan ini. love u all๐๐๐โค๏ธโค๏ธ