Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 71 : Terkepung


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya....


Dua orang suruhan Ammar mengatur kecelakaan palsu untuk pria penyusup kemarin. Mereka memasukkan mayat pria itu kedalam mobil, kemudian membuang mobil tersebut ke sebuah sungai.


Tak berselang lama, warga sekitar menelpon polisi dan melaporkan bahwa mereka menemukan mobil yang tenggelam. Semua jejak di hapus, bukti pun di hilangkan. Alhasil Polisi memastikan bahwa kematian Pria itu di sebabkan oleh kecelakaan tunggal.


"Anakku.... Anakku tidak mungkin meninggal. Kalian pasti bohong! Cepat panggil ambulance dan selamatkan anakku!" tangis seorang wanita tua tersedu-sedu. Ia tak terima dengan kematian tragis sang anak.


Tak ada yang lebih sakit daripada menyaksikan pembunuhan sang anak. Ibu mana yang tak teriris batinnya saat mengetahui anaknya mati karena di bunuh, bukan kecelakaan.


"Kau akan menyesali ini Ammar!" tukasnya dengan mata merah terbakar emosi. Ya, dia adalah Bu Lila. Orang yang sudah puluhan tahun bekerja dengan keluarga Dawson.


Selama ini ia bersikap tenang, menyiapkan semuanya dengan matang. Tapi ternyata Putranya malah menjadi tumbal keegoisan. Sia-sia ia membuat Ammar bingung atas kematian Irene. Rencana untuk menguasai seluruh harta Ammar pun semakin sulit karena Nara kini tengah mengandung.


Sebelum Ammar menikahi Nara, ia adalah Pria pendiam dan beku yang gampang untuk di gerakkan sebagai boneka. Namun setelah Nara masuk ke dalam hidup Ammar, bahkan memberinya calon penerus. Ammar tak lagi bisa di kendalikan. Ia seperti memberontak dan melakukan segala cara untuk melindungi Nara dan bayinya.


Delapan tahun ia mencuci otak Ammar untuk tidak memiliki anak dengan Irene menjadi sia-sia akibat insiden malam itu, insiden yang menyebabkan Nara hamil. Bertahun-tahun ia mengatur isi kepala dua suami istri itu agar menjadi monster. Seluruhnya hampir berhasil.


Dendam Irene terhadap Damar, obsesi Ammar untuk mencintai dan mendukung perbuatan Irene. Semuanya berjalan lancar, sampai saat tikus kecil masuk ke dalam perangkap mereka dan menghancurkan semuanya.


"Buat jejak bahwa Kau ada di Singapura. Dengan begitu akan mudah untuk kita menyingkirkan Nara lebih dulu." titah Bu Lila pada salah satu anak buahnya. Ia benar-benar harus mengakhiri permainan yang sudah keluar dari jalur ini.


...~~~...


Ammar dan Nara sudah tiba di bandara, tinggal tiga puluh menit lagi waktu keberangkatan mereka. Pak Arul pula tampak sudah siap, namun ia sangat ketakutan. Bahkan ia tak berhenti berdoa sedari tadi karena ini pertama kalinya ia naik pesawat.


Empat orang bodyguard juga ikut, mereka yang akan mengawal Nara dan Ayahnya saat di hotel nanti. Tadinya Ammar hendak berangkat sendiri, lagipula ia sudah mempekerjakan banyak pengawal di rumah. Namun tetap saja ia tidak tenang. Orang yang hendak menghancurkannya pasti akan mengambil kesempatan jika tau Ammar sedang keluar Negeri.


Sementara itu, Nara merasa ada yang aneh, dari semua orang yang di bawa Ammar. Tak ada satupun pegawai kantor yang ikut. Walaupun ia jarang datang ke kantor, ia hapal siapa saja jajaran Ammar. Bukankah ini perjalanan bisnis. Lalu kenapa hanya Ammar yang berangkat?

__ADS_1


"Kau tidak membawa sekertaris mu?" tanya Nara curiga.


"Aku bisa menangani ini sendiri, lagipula banyak pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor."


Mendengar jawaban itu, Nara semakin curiga. Ammar bahkan menjelaskan hal yang tak di tanyakan oleh nya.


"Apa dia akan membunuhku dan Ayah? Lalu membuang jasad kami ke laut?" batin Nara.


"Kau tidak membawa berkas?" Jika memang ini pertemuan penting, pasti banyak data dan berkas yang di butuhkan oleh Ammar kan?


"Semuanya ada di sini." Ammar menepuk laptopnya. Tak bisa di pungkiri, raut wajah Ammar menunjukkan bahwa ia sedang merencanakan sesuatu yang besar.


...-...


...-...


Singapura...


"Kau mau kemana?" tanya Nara, Ammar hanya mengantarkan mereka sampai di lobi hotel. Sepertinya Ammar akan langsung menuju ke suatu tempat.


Ammar memegang pundak Nara, ia tau ini pasti membingungkan baginya.


"Masuklah lebih dulu, jangan membukakan pintu untuk siapapun selain Aku. Untuk saat ini, Kau dan Ayah tinggal di satu kamar dulu."


Nara memegang ujung jas Ammar. "Cepatlah kembali." pintanya dengan kedua bola mata sayu.


"Aku akan segera kembali." Ammar tersenyum, kemudian segera beranjak dari sana. Ia meninggalkan Istri dan mertuanya dengan rasa percaya diri. Tak di sangka dua orang yang menyamar sebagai resepsionis hotel telah memperhatikan mereka sedari tadi.


Sesampainya di kamar hotel, Nara langsung meletakkan barang bawaannya. Ia membuka ponselnya dan melihat pergerakan Ammar melalui alat pelacak, yang ia tempelkan pada saku jas Ammar tadi.

__ADS_1


"Ayah, tunggu di sini sebentar ya. Jangan buka pintu jika bukan Aku, resepsionis atau apapun itu, jangan buka kan pintu. Dan jangan keluar dari kamar ini."


"Kenapa? Kau mau kemana memangnya? Jangan berkeliaran di tempat asing seperti ini Nara." cegah Pak Arul, entah apa yang ingin di lakukan putrinya itu. Batinnya pun menjadi risau.


"Aku mau ke suatu tempat, Ayah tenang saja. Aku akan mengajak pengawal Ammar." Nara langsung pergi tanpa mendengarkan pendapat Ayahnya lagi. Ia membawa satu orang pengawal, sementara pengawal yang lain di suruh menjaga Ayahnya.


Satu jam berlalu, Ammar sampai di sebuah penginapan mewah, namun tampak terbengkalai. Sangat jauh dari hingar bingar kota. Tanpa ragu, ia pun turun dari mobil.


"Sepertinya ini jebakan.." ucap Ammar pada pengawalnya. Ia menelpon orang yang menantangnya untuk bertemu, namun tak ada jawaban.


"Di sana Pak." Tunjuk si pengawal pada lantai tiga. Tulisan kertas bertuliskan 'masuk' muncul dari jendela lantai tiga tersebut.


...-...


...-...


Kembali pada Nara yang masih dalam perjalanan. Tiba-tiba mobil yang ia naiki di hadang oleh dua mobil berwarna hitam. Pengawal pun terpaksa menginjak rem mendadak karena mereka hampir saja menabrak mobil tersebut.


"Ada apa Pak?" Nara hampir saja terbentur, beruntung ia sigap berpegangan.


"Sepertinya Kita dalam bahaya Nyonya." Pengawal itu merangkak ke bagasi, dan mengambil beberapa senjata api.


"Tetaplah di sini Nyonya. Aku akan membereskan mereka." Ia segera turun, dan Nara pun mengunci pintu mobilnya dari dalam.


"Sudah ku duga, ada yang tidak beres sejak awal." Gumamnya, ia mengambil beberapa alat suntik dari tas nya, dan mulai meracik obat bius dengan dosis tinggi.


"Kalau tau di mobil ini ada senjata, Aku tak perlu repot-repot membawa ini."


Setelah selesai dengan alat suntik nya, ia merangkak ke belakang. Dan mengambil satu senjata laras panjang. Hanya ada itu di sana, ia sempat ragu. Sebelumnya ia hanya belajar menggunakan pistol kecil. Untuk berdiam diri di dalam mobil pun rasanya tidak mungkin, mustahil satu pengawal nya mampu mengalahkan orang sebanyak itu. Ingin kabur pun tidak bisa, karena mobilnya terkepung oleh dua mobil hitam itu.

__ADS_1


...~~~~...


__ADS_2