Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 27 : Ruang rahasia.


__ADS_3

Di ruang bawah tanah, ruangan dengan pintu besar berwarna hijau pekat. Irene meletakkan satu lagi barang bukti, berupa pisau tajam yang ia pakai untuk menikam Direktur ED corporation.


Dari awal ia tau kejadian di toilet waktu itu, saat Nara di lecehkan oleh mendiang Direktur. Ia juga tau Ammar lah yang menyelamatkan Nara, merangkulnya dengan penuh kekhawatiran.


Irene merasa murka melihat itu, ia pun memutuskan untuk melenyapkan sang Direktur untuk meluapkan emosinya. Sudah lama ia tak mencari mangsa, dan sangat kebetulan ada yang mencari masalah.


Pisau berukuran 30 centi itu tampak di bungkus plastik, berlumuran darah. Sama seperti beberapa pisau lainnya. Ia memakai satu pisau untuk masing-masing korban. Namun di antara beberapa pisau, ada satu yang beda. Yaitu gunting hitam milik Neneknya Nara.


Irene mengambil dan memandangi gunting tersebut. "Berkat mu Aku akan bisa hidup dengan baik kedepannya. Terimakasih Kau telah membesarkan cucu yang amat lugu dan bodoh hahahahahahahah....."


Semua benda tajam itu ia letakkan berjajar di depan foto orang tuanya. Semua korban itu adalah orang yang bekerja sama dengan Damar untuk menutupi kasus kebakaran 20 tahun silam. Gunting milik Nenek nya Nara ia gantungkan di atas foto kedua orang tuanya. Sebagai tanda penghormatan karena berkat nyawa si Nenek, Irene bisa melanjutkan hidupnya tanpa harus khawatir tertangkap sebagai pembunuh.


Di sisi lain ruangan itu, terdapat beberapa pakaian yang ia gantungkan. Pakaian yang memiliki bercak darah saat ia menghabisi nyawa korban. Ia sengaja menyimpannya di sana, sebagai tanda kerja kerasnya.


"Sedang apa Kau di sini?" tanya Ammar, ia baru saja selesai menuntaskan tugasnya. Yakni menghilangkan semua barang bukti.


"Mengenang semua kerja keras Kita.." sahut Irene dengan senyum merekah.


Kerja keras, Irene yang membunuh dan Ammar yang membereskan. Ia hampir tak bisa menangani kelainan yang ada pada Irene, wanita itu pertama kali membunuh saat berusia 10 tahun. Ia memukuli anjing hingga mati tanpa rasa bersalah.


Karena Irene satu-satunya orang yang dimiliki Ammar, ia pun rela menutupi perbuatan keji itu. Demi menjaga Irene agar tetap di sisinya. Ia sungguh tak bisa jika harus berpisah dengan Irene.


Irene mendekat pada Ammar, senyum nya mengembang saat melihat Ammar berhasil melakukan tugasnya.


"Kerja bagus Ammar.." ia meluruskan dasi Ammar yang sedikit berantakan. Pasti hari ini sangat sibuk bagi Ammar.


"Bisa kah Kau berhenti? Saat Kau membunuh Neneknya Nara, Kau berjanji itu yang terakhir." wajah Ammar terlihat gelisah, ia tak ingin semuanya semakin jauh.


"Target terakhir ku memang Damar, tapi salah siapa dia menggoda istrimu?"


"Aku takut Kau mendapatkan masalah." ujar Ammar sangat khawatir.

__ADS_1


Lagi Irene tersenyum lembut, ia mengusap bahu Ammar yang terlihat sangat lelah. "Aku tau, Aku juga sudah menyiapkan semuanya Ammar. Tenang saja."


Ammar mendesah berat, ia membalas senyum Irene walau tampak masam. "Aku akan tenang jika Kau memberitahu apa yang sudah Kau siapkan."


"Nara..." sahut Irene sembari mengangkat alisnya.


"Memang nya apa yang bisa di lakukan tikus kecil itu?"


"Kau pikir Aku menikahkan kalian hanya untuk merebut kursi Pimpinan?" kali ini senyuman Irene terlihat sangat picik.


Senyum masam di wajah Ammar berubah perlahan, menjadi kaku dan datar. "Lalu apa tujuanmu selain itu?"


"Saat Damar berhasil ku lenyap kan, akan Ku buat publik curiga terhadap Nara. Tuduhan atas pembunuhan Neneknya akan kembali menjeratnya, lalu Aku tinggal menyusun sedikit taktik dan dia akan menggantikan posisi ku. hahahahahaha....."


Seluruh tubuh Ammar berdesir mendengar itu, ternyata benar dugaannya, Irene menikahkan mereka bukan untuk mengambil posisi Papa nya saja. Melainkan untuk menimpakan semua perbuatan keji itu pada Nara.


"Kau sangat hebat Irene, tak ku sangka Kau merencanakan sejauh ini. Itu artinya Kau akan berhenti setelah melenyapkan Damar kan?" Ammar tersenyum, ia memegang kedua pundak Irene dengan tatapan bangga.


"Pasti akan sulit untuk berhenti, Kau tau ini menyenangkan bagi ku. Tapi mau bagaimana lagi, Aku juga tidak bisa terus-terusan menghindari hukum."


...~...


Nara terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa pusing di sertai mata perih. Itu karena ia terus terbangun, was-was karena kecurigaan Sam.


"aaggrhh... Aku bisa gila jika begini," keluh nya merengek. Ia merasa sangat konyol karena ketakutan sepanjang malam.


Nara mengambil stetoskopnya, memeriksa detak jantung yang tidak stabil. Ia juga memeriksa tekanan darah, cukup tinggi di angka 140/80. Mungkin karena panik semalaman.


"hiks... Aku tidak ingin stroke di usia dini."


Ia membuka kotak obat, mencari obat penenang. Sudah dua pil diminum semalam, namun tak berpengaruh sama sekali.

__ADS_1


...-...


...-...


Di lain tempat, Sam mendatangi teman satu angkatannya yang bekerja di bidang forensik. Ia menunjukkan foto yang di kirim Nara kemarin, foto bekas luka di paha Irene. Ia meminta agar foto itu di selidiki, apakah mungkin itu bekas luka akibat guratan gunting.


Temannya Sam mengatakan akan sulit mengindentifikasi jika hanya lewat foto. Meski begitu ia berjanji akan berusaha semaksimal mungkin.


...-...


...-...


Karena suasana hatinya kacau, Nara memutuskan untuk pergi menjenguk makam Ibu nya. Jika sedang ada masalah, ia akan datang kesana dan curhat di atas nisan sang Ibu.


Saat keluar dari kamar, ia berpapasan dengan Ammar yang hendak berangkat ke kantor. Entah kenapa langkah mereka sama-sama terhenti, saling memandang dari kejauhan.


Nara masih canggung atas momen di rumah Nenek waktu itu, di tambah kecurigaan Sam membuat detak jantungnya berpacu tiap kali melihat Ammar.


"Mau kemana?" tanya Ammar, ia berdiri tegap dengan tas di tangan kirinya. Memandangi Nara amat dalam, entah rasa apa yang membuat perasannya tak nyaman.


"Ke makam Ibu.." sahut Nara pelan, ia menghindari tatapan Ammar.


"Dimana?"


"Di tempat yang sama dengan makam Nenek."


"Mau ku antar?"


deg..


Jantung Nara terasa tak berdenyut lagi, ini pertama kalinya Ammar menawarkan sesuatu. Biasanya yang di katakan hanyalah perintah dan rutukan. Kenapa kali ini berbeda?

__ADS_1


"Apa ini..? Kenapa dia bersikap baik? Apa benar kecurigaan Sam? jangan-jangan dia merencanakan sesuatu. Apa dia akan membunuhku dan membuang jasad ku ke jalanan?" Nara malah terpaku dengan semua pertanyaan di kepalanya.


...**********...


__ADS_2