Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 74 : Sifat yang membingungkan


__ADS_3

Nara terbaring di kamar suite yang amat mewah. Ia sudah mendapatkan tranfusi darah, pengecekan fisik dan kandungannya. Semuanya baik-baik saja. Anak yang ada di dalam kandungannya benar-benar kuat. Ia dan Nara berhasil bertahan dari ambang kematian.


"Aku membawamu kesini untuk melindungi mu, tapi ternyata Kau malah celaka. Maafkan Aku..." lirih Ammar mengenggam erat tangan Nara. Jika ia kehilangan Nara tadi, maka hidupnya akan benar-benar tak berarti.


"Tidak apa-apa..." sahut Nara canggung, ia tak bisa menepis tangan Ammar karena Ayahnya ada di sisi kiri ranjang.


"Seharusnya Kau meminta maaf juga pada suamimu. Dia sudah menyuruhmu tidak keluar dari hotel, tapi Kau malah keluar meninggalkan Ayah di sana. Jika saja Ayah tau ini akan terjadi, maka Ayah akan merantai kaki mu tadi." sulut Pak Arul mengecam. Nara memang sangat keras kepala.


"Ayah, Jangan memarahinya, ini salah ku." Potong Ammar tak terima.


"Wahh.. Kau memarahi Ayah mertua mu? Kau benar-benar suami yang bisa di andalkan." Ucap Pak Arul sambil tertawa jengah. Entah dia memuji atau merasa kesal barusan.


"Terimakasih.." sahut Ammar tersenyum, ia menganggap perkataan Pak Arul barusan sebagai pujian.


"Kau ingin makan sesuatu? Kau pasti sudah memikirkan makanan mengingat ini kali pertama mu ke luar Negeri." Ammar mengusap dahi Nara sambil tersenyum penuh perhatian. Rencana nya untuk membawa Nara menjajal kuliner khas Singapura sepertinya harus di undur karena kondisi ini.


"Jangan bertingkah licik Ammar.!" umpat Nara membalas sang suami. Ammar benar-benar memanfaatkan keberadaan Ayah nya di sana.


Ammar hanya melempar tawa, tawa kecil yang tampak nakal. Lalu ia menempelkan telinganya ke perut Nara. Ini untuk pertama kalinya ia berinteraksi langsung dengan sang bayi.


"Anak ku.. Kau ingin makan apa? Sup salmon? wahh.. tampaknya Kau kelelahan ya, baiklah sup salmon tampaknya lezat untuk menyegarkan tubuh mu." Ammar meracau sendiri sambil mengusap-usap perut Nara.


Sementara Nara, di tengah rasa ingin menendang Ammar sekuat tenaga. Ia malah menelan ludah, bagaimana bisa langsung terlintas di benaknya bahwa sup salmon memang menggugah selera.


Ammar menelpon pengawal nya untuk membelikan Sup salmon. "Ayah mau?" ia bertanya pada Pak Arul.


"Mau dong.." Pak Arul mengangguk semangat, sup salmon adalah menu yang selama ini hanya ia lihat di TV. Dan mencicipinya hari ini, merupakan sebuah rejeki.


Ammar menyuruh pengawalnya membelikan tiga porsi. "Baiklah.. Makan malam Kita hari ini di tentukan oleh Andara." ucapnya setelah menutup telepon.

__ADS_1


"Siapa Andara? Pengawal mu?" Nara heran mendengar racauan susulan dari Ammar.


"Anak Kita.."


"Kita bahkan belum tahu jenis kelaminnya, kenapa Kau memberikan nama laki-laki?" Protes Nara tak terima.


"Andara itu nama tengahnya, nama belakang nya menggunakan nama ku lalu nama depannya nanti sesuai jenis kelamin dan selera mu."


Nara tercengang, tak menyangka Ammar bisa banyak bicara seperti itu. Ia pikir selama ini mulut Ammar mempunyai batasan dalam bicara.


"Ayah mau beli minum dulu..." sela Pak Arul, ia segan mendengar anaknya sedang berdebat. Sepertinya mencari udara segar memang pilihan yang tepat.


Begitu Pak Arul keluar kamar, Nara langsung memukul lengan Ammar sekuat sisa tenaganya. "Cukup bermain-main denganku Ammar. Kau harus tau batasan mu!"


"Dimana batasnya? Aku tidak melihat." sahut Ammar dengan santainya. Tak lupa wajah kakunya melekat kuat di sana.


"Kau benar-benar tak tau malu." kesal Nara merutuk.


"Malu pada seorang wanita, yang tadi memanggil namaku dengan sangat putus asa?"


Nara bertambah membelalak, "Kau mendengar itu?" bagaimana mungkin, sedangkan ia memanggil sangat pelan tadi.


"Saat Aku turun dari mobil, Aku melihat dari kejauhan Kau memanggil ku. Aku bisa membaca gerakan bibirmu."


"Berarti Kau sudah lama melihatku merintih kesakitan? Kenapa Kau tidak segera datang?"


"Aku mengatur rencana, bagaimana caranya agar Aku dapat menyingkirkan wanita tua itu diam-diam. Kalau dia tau Aku ada di sana, bisa saja dia menjadikanmu tawanan."


"Jujur saja, melihatmu merintih kesakitan membuat ku ingin melubangi kedua matanya dengan pisau itu." tambah Ammar meremas kuat lututnya. Walaupun Bu Lila sudah menjadi mayat hangus, rasanya ia belum puas.

__ADS_1


Mendengar itu Nara meneguk ludah, ia teringat perkataan Bu Lila bahwa Ammar sebenarnya lebih gila dari pada Irene. Jika Irene membunuh dengan cara sadis dan brutal. Maka Ammar lebih suka membunuh secara perlahan, kalau bisa tanpa ada pertumpahan darah. Kata-kata itu membuat bulu kuduk Nara berdiri semua.


"Omong-omong.... Kau sadar sudah membunuh Bu Lila tadi? Dia benar-benar sudah mati... karena mu." Suara Nara sedikit tersendat karena ia gugup.


"Dan apa Kau sadar, Kau dan anak kita hampir saja tewas karena nya."


"Tapi, Kau..."


Dalam sekejap, ekpresi Ammar berubah menjadi sejuk lagi. Tatapan tajamnya berubah teduh, ia mengusap kening Nara pelan.


"Aku tau Kau merasa takut denganku. Benar, Aku memang membunuhnya. Asumsi mu tentang Aku yang seorang pembunuh, itu tidak salah. Kau jangan cemas, karena Aku seperti kuas. Kau ingatkan? Kuas tidak mencoret Kanvas dengan sendirinya. Selalu ada sebab yang membuat Aku melakukan tindakan fatal."


Nara terdiam, sedikitpun ia tak berkedip. Entah rasa takut atau takjub, keduanya sama beradu di pikirannya.


"Jika Aku menceraikanmu nanti, apa Kau akan membunuhku?"


Ammar tersenyum tipis, masih ia mengusap halus kening Nara dengan jari telunjuknya. "Tidak, Aku sudah berjanji akan membayar kesalahanku padamu. Jika anak kita telah lahir nanti, hiduplah sesuai tujuan awalmu. Kau harus bahagia..."


Entah bagaimana kedua netra mereka saling mengunci satu sama lain. Di balik semua hal yang terjadi, kegaduhan, pertumpahan darah, balas dendam dan semua kegilaan yang di saksikan oleh Nara. Entah apa yang membuatnya malah merasa bahwa Ammar lah pelindungnya. Padahal sudah jelas, Ammar lah awal dari semua kehancurannya.


Perlahan Ammar mendekatkan wajahnya, satu kecupan di atas kening wanita itu tidak akan menjadi masalah bukan? Ia memberanikan diri, membelah sorot mata Nara yang tengah terpaku pada wajahnya.


"Boleh Aku mengecup mu?" Bisiknya masih mengusap lembut kening sang istri. Alis yang membingkai indah tampak semakin jelas saat ia melihatnya dengan jarak yang sangat dekat.


Nara tak menjawab, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri soal apa hal yang tepat untuk menggambarkan Ammar. Pria yang dalam diamnya membawa kehancuran. Pria yang dalam gerakannya membawa kematian. Tapi pria itu mengucapkan perkataan yang menenangkan. Seperti apa ia harus menggambarkan Pria itu?


...***************...


Maaf bebs Up nya telat🙏 Otor rewang soalnya😆 sudah jd emak2 yang merangkap nih😆

__ADS_1


__ADS_2