
Irene mencengkram erat linggis berukuran satu meter itu, ia mulai mengayunkan. Namun tiba-tiba dering ponsel menengahi suasana tegang itu.
"Ada apa?" Ia tampak jengkel karena orang nya menelpon di saat yang tidak tepat.
"Nyonya, cepat keluar lewat pintu belakang! Ada mobil polisi yang hampir tiba di sana." orang itu langsung menutup sambungan telepon.
Irene mengurung niatnya untuk menghabisi Sandra. Ia melempar linggis itu kemudian melarikan diri sesuai instruksi antek-anteknya. Ia tak mau tertangkap basah.
Tak lama kemudian Dua mobil polisi, dan satu mobil Sam tiba di lokasi penyekapan itu. Sandra sangat beruntung, karena Kakaknya tiba sebelum ia di jadikan Ayam geprek oleh orang-orang gila itu.
Orang suruhan Irene menyambut kedatangan mereka dengan brutal. Sam berkutat melawan pukulan orang-orang kekar itu di bantu para polisi.
Ditengah perkelahian yang membabi buta, Galih menyelinap melewati mereka dan langsung menyelamatkan Sandra.
"Sandra.... Kau baik-baik saja?" ia melepaskan tali yang mengikat tubuh Sandra.
PANGG...!
Pukulan sekop pasir mendarat di kepala Galih. Ia sempoyongan, namun masih kuat berdiri. "Kalian mau berkelahi atau membuka toko material?" geramnya meringis kesakitan.
"Banyak bac0t!" ucap orang suruhan Irene. Ia mengangkat skopnya kearah Galih. Belum sempat skop itu mendarat, Sam sudah lebih dulu memukul kepala orang itu dengan palu beton.
"Sam, jangan lakukan itu." tegur salah satu polisi yang merupakan teman baiknya. Aparat tidak boleh bertindak seperti itu kepada warga sipil.
"Lupa.." sahutnya, ia membuang ludah sekenanya.
"Dimana Nara?" Ia melihat sekeliling ruangan, tidak ada tanda tanda Nara di sana.
"Ku pikir dia berhasil menemui kalian.." ujar Sandra. Mereka pun menghela nafas bersamaan, pasti Nara sedang dalam bahaya sekarang.
"Sandra...!" Sam mengepalkan kedua tangannya di depan wajah sang adik. Coba saja Sandra tak melarangnya ikut tadi, pasti tidak akan kacau seperti ini.
"heheh..." Sandra menyeringai,
"Kita harus kembali kerumah itu, Aku yakin mereka menyekap Nara juga di sana." usul Galih dan di angguki oleh Sam dan Sandra.
Namun mereka tau, tidak akan mudah untuk bisa masuk ke sana. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk meretas sistem keamanan dan kamera pengawas di rumah Ammar sebelum bergegas.
__ADS_1
...~~...
Irene kembali kerumahnya, namun ia tak mendapati Ammar di sana. Ia pun ke ruang kontrol CCTV untuk memeriksa dengan siapa Sandra datang.
"Nara...?" Apa mungkin Nara mengetahui sesuatu? pikirnya.
Rekaman menunjukkan jelas saat Nara turun dari mobil Sandra, dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu tak ada apa-apa lagi yang terekam.
"Gadis itu ternyata sangat berani..!" Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ammar.
"Ammar..? Kau tau Nara datang bersama Sandra?" cecar nya sesaat telepon tersambung.
"Dia bahkan merusak sistem CCTV dan menghapus semuanya!" timpalnya amat geram. Tenyata pandangannya tentang Nara yang tak tau apa-apa salah selama ini.
"Aku sedang mencarinya sekarang, Aku memeriksa ruang bawah tanah. Dan sepertinya dia sudah mengetahui semuanya."
"Cari dia sampai ketemu! Kalau bisa lenyap kan dia begitu Kau menemukannya!" Irene lantas menutup panggilan lalu melemparkan ponsel nya ke lantai.
Tidak disangka semua rencananya menjadi berantakan seperti ini. Andai saja ia lebih berhati-hati lagi dan menuruti perkataan Ammar. Pasti semua nya akan baik-baik saja. Ia sedikit menyesal karena terlalu berambisi pada balas dendam dan kecemburuannya untuk segera mengirim Nara ke penjara.
"Temukan dia Ammar, temukan..!" gerutunya seraya mencengkram kepala kuat-kuat.
Di sebuah villa terpencil, Ammar memarkirkan mobilnya. Villa itu sudah sangat tua, namun masih tampak bersih terawat. Saat berumur 7 tahun, Papanya membelikan villa itu sebagai hadiah ulang tahun. Tak jauh dari sana ada danau kecil yang asri. Tak ada yang mengetahui keberadaan villa itu selain dirinya.
Ammar turun dari mobil, membuka pintu belakang lalu menggendong Nara yang tak sadarkan diri keluar dari mobil.
"Maafkan Aku.." bisik nya menatap perut Nara, ia khawatir sang jabang bayi kenapa-kenapa karena Ibunya bolak-balik di bius.
Ia membawa Nara masuk kedalam villa itu kemudian merebahkan Nara di salah satu kamar. Setelah itu ia keluar dan membiarkan Nara beristirahat di sana. Tak lupa ia mengunci pintu kamar agar Nara lebih aman.
Ammar mematikan layanan lokasi di mobil maupun ponsel agar Irene tak bisa menemukannya. Ponsel Nara juga sudah di matikan sejak awal.
Kali ini ia benar-benar mengkhianati Irene lagi. Ia meminta maaf beribu kali di dalam hati sambil membayangkan wajah Irene. Sejujurnya ia tak tega mempermainkan Irene seperti ini, namun rasa itu kalah saat ia membayangkan wajah polos Nara saat mereka pertama kali bertemu. Yakni di acara pernikahan mereka.
Saat Nara dengan takut berusaha tersenyum hari itu. Saat Nara dengan putus asa menceritakan nasib malangnya. Setelah merenggut semuanya, ia merasa tak sanggup jika harus melihat Nara mendekam di penjara.
Satu jam berlalu, Ammar membawakan potongan buah di atas nampan untuk di letakkan ke kamar. Mungkin saat Nara bangun nanti ia akan merasa sangat lapar.
__ADS_1
Begitu membuka pintu kamar, ia langsung di kejutkan oleh Nara yang menodongkan pistol kearahnya. Pistol yang sedari tadi ada di saku dress-nya.
"Aku sudah tau semuanya!" Nara menekan pelatuk siap menembakkan peluru tepat di dada Ammar.
"Nara..,"
"Kenapa Kau membunuh Nenek ku..!" pungkas Nara memekik. Ia benar-benar tak tahan lagi melihat wajah iblis pria itu.
"Kau dan Irene sama biadab nya! Tega kalian membunuh orang tidak bersalah, dan sekarang kalian mempermainkan Aku seperti benda mati?!" kali ini air mata tak lagi terbendung dari sudut matanya.
Ammar mendekat, ia tak perduli dengan pistol yang siap menembus nyawa itu. "Nara... dengarkan Aku."
Nara menembakkan satu peluru ke atap, lalu dengan cepat mengarahkan pistol itu kepada Ammar lagi. "Aku tidak main-main Ammar..!"
Lagi-lagi Irene menelpon Ammar untuk menanyakan hasil pencarian. Ammar mengangkatnya. Ia mengisyaratkan Nara untuk diam sejenak.
[Kau sudah menemukannya?]
"Belum..." bohong Ammar. Padahal Nara ada di depan matanya.
[Cepat temukan dan bunuh dia!] Irene menutup teleponnya.
Mendengar percakapan itu Nara terheran, apa yang sebenarnya di rencanakan Ammar?
"Aku ingin melindungi mu Nara, percayalah padaku kali ini." bujuk Ammar setelah obrolan terputus. Ia tau akan sulit bagi Nara untuk percaya sekarang.
"Kenapa? Kenapa Kau mau melindungi ku? Seharusnya Kau menuruti permintaan istrimu itu untuk membunuhku! Kenapa Kau tidak membunuhku saja sekarang hah!"
Ammar hening sejenak, ternyata benar Nara telah mengetahui semuanya dari ruangan bawah tanah itu.
"Karena Kau sedang mengandung anakku!" Ammar memotong letupan emosi Nara. Tak pelak wanita itu menjadi bungkam seketika.
"Apa ..?" Nara memicingkan matanya, siapa yang akan mempercayai Pria penipu itu.
Ammar menarik nafas berat, mengambil jeda sesaat lalu mengulangi perkataan nya dengan sungguh-sungguh.
"Kau sedang mengandung anak Kita, dan Aku akan melindungi mu apapun yang terjadi."
__ADS_1
...**************...