
Malam berlalu dengan cepat, Nara tak punya pilihan lain selain ikut Ammar pulang ke rumah. Pagi itu ia hanya bisa diam, sibuk dengan pikirannya sendiri bagaimana menjelaskan situasi itu pada Irene. Mereka sudah membuat perjanjian sejak awal bahwa ia takkan pernah kabur apalagi merusak rencana Irene. Namun yang ia lakukan semalam pasti membuat Irene sangat marah.
Benar saja, saat baru menginjakkan kaki menuju rumah. Ia sudah di tatap tajam oleh Irene. Nara hanya akan pasrah jika nanti Irene memarahinya.
"Masuk lah ke kamar mu, Aku yang akan bicara pada Irene." bisik Ammar, Nara menuruti dan langsung masuk ke kamar nya.
Ammar segera menghampiri Irene yang tengah duduk di sofa, menumpuk kaki sambil menggoyangkan segelas Wine. Karena ini akhir pekan, jadi kegiatan mereka tidak ada.
"Dimana Kau menemukannya?" tanya Irene.
"Di sebuah penginapan." sahut Ammar menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia sengaja memasang wajah lelah agar Irene percaya bahwa ia mencari Nara semalaman.
"Kenapa dia bisa di sana?"
Ammar menunduk, mengambil nafas sejenak. "Aku..."
"ch..! sudah ku duga, Kau pasti melampiaskan emosi mu padanya." ketus Irene, ia sungguh tak merasa ada yang aneh antara Ammar dan Nara.
"Aku terlalu terbawa suasana, dan kebetulan dia membuat kesalahan kecil. Aku tak menyangka dia sungguh tersinggung." lagi, Ammar membohongi Irene.
"Sudah ku bilang kan, jaga ucapan mu. Mulut mu itu bisa membuat siapa saja tersinggung." kesal Irene, ia menenggak habis Wine nya sambil menggerutu.
"Berhenti mengomeli ku, sekarang dia sudah pulang. Tidak bisakah Kita berbaikan?"
"hmm..." Irene beranjak, meninggalkan senyum kecil pada Ammar. Ammar pun membalas senyuman itu.
Siang hari nya, Nara merasa sangat bosan. Pikirannya yang tak tentu arah membuat semua terasa menyebalkan. Ia pun berniat mengunjungi Para Detektif, untuk memantau perkembangan kasus nya dan mencari teman bicara.
Lagi-lagi Nara mengurai rambutnya untuk menutupi jejak merah di leher. Sebenarnya ia sangat risih, namun mau bagaimana lagi. Alas bedak saja tidak cukup menutupi jejak yang merah gelap itu.
"Mau kemana?" tanya Ammar dari dalam lift, ia baru saja turun dari kamarnya.
__ADS_1
Nara terkejut, kenapa sepertinya Ammar sangat tau seluruh pergerakan yang ia lakukan.
"Tidak usah ikut campur!" ketus nya melempar lirikan sinis, dan sesaat kemudian lirikan itu seperti tak bisa di alihkan. Sebab Ammar hari ini tampak berbeda. Mengenakan kaos hitam dan celana pendek selutut. Terlihat lebih fresh, lebih plong... tidak kaku seperti biasanya. Mungkin karena ini akhir pekan. Biasanya walaupun akhir pekan Ammar tak pernah keluar dari kamarnya.
"hei.. Kau tidak melupakan kontrak Kita kan? Kau wajib memberitahu apa saja dan kemana saja.."
"Tidak usah membahas kontrak!" bentak Nara, suara nya menggema. Berani-beraninya Ammar membahas kontrak saat dia sendiri melakukan pelanggaran berat.
Ammar meneguk ludahnya, apa yang membuat tikus kecil itu tiba-tiba berubah menjadi induk singa?
"Kenapa?! Kau mau marah padaku? Silahkan saja! Aku akan terus bersikap seperti ini sampai Kau ingat kesalahan mu!" imbuh Nara membelalakkan matanya.
Ammar mengulum senyum, ia malah merasa semakin tertarik dengan kepribadian Nara. Saat Nara berbalik, ia menahan lengannya.
"Pakai ini," ia mengeluarkan syal dari saku celananya. Kemudian memakaikan itu pada Nara.
Nara langsung menampik lengan Ammar amat kasar, ia mundur perlahan. Menatap Pria itu dengan raut wajah kesal penuh tanya.
Sementara Ammar mematung di tempat, ia sama sekali tidak melupakan malam itu. Ia bahkan sangat mengingat setiap detik yang berlalu, setiap desiran yang ia rasakan di tiap helaan nafas malam itu.
"Apa Kau mengingat malam itu?!" pekik Nara, air mata menitik di kedua tatapan nanar nya.
"hm..." sahut Ammar gamang, jujur ia tak bisa mengendalikan diri malam itu. Namun ia sangat sadar siapa yang malam itu ia gauli. Rasa bersalah pun tak luput dari benaknya.
Nara menghembuskan nafas berat, "Lalu kenapa Kau bersikap biasa saja? Kenapa Kau bersikap seolah tak terjadi apa-apa?!"
"Karena Aku tak tau harus bagaimana. Aku bingung harus membayar mu berapa. Aku takut Kau akan merasa di rendahkan jika Aku mengungkit ini sebagai...."
"Apa? Membayar katamu..? Kau pikir Aku wanita murahan yang bisa Kau bayar kapan saja hah! Aku akan membawa ini kejalur hukum!"
"Kita menyepakati, akan menuruti berapapun jumlah yang di tentukan oleh pihak terlanggar. Berapapun ...bukan apapun. Coba baca ulang kontraknya lebih teliti." Nada bicara Ammar malah seperti menyepelekan kejadian itu.
__ADS_1
Nara tertegun, Sam pun sudah mengatakan hal itu kemarin. Dia takkan bisa meminta kompensasi jalur Hukum, sebab di kontrak hanya tertulis membayar pelanggaran dengan uang. Ia sungguh merasa sudah dibodohi oleh Ammar.
Ia memasang wajah angkuh, walau matanya masih berbayang buliran bening. Ia tak mau terlihat sangat bodoh di depan Pria culas itu.
"Baiklah... Serahkan semua saham perusahaan mu padaku!"
Lagi-lagi Ammar hanya diam, ia menyematkan senyum tipis di ujung bibirnya. Menatap legam wanita yang tengah terguncang itu.
"Kau berusaha memeras Ammar?" potong Irene memecah suasana. Ia baru pulang dari kegiatan lari pagi, walaupun hanya mengelilingi halaman rumah. Sudah cukup membuat tubuhnya basah kuyup kelelahan.
Nara menggigit bibirnya, apakah Irene belum mengetahui yang terjadi di antara dirinya dan Ammar? Jika belum pasti Irene akan menganggap Ia wanita mata duitan sekarang. Tapi biarlah, toh memang uang lah yang membuatnya masuk kedalam hidup suram ini.
"Dia menantang ku, Ku bilang Aku bisa memberinya apa saja kalau dia berhasil membantu Kita." kilah Ammar, ia sungguh merahasiakan kejadian itu dari Irene.
Irene menyipitkan matanya, ia berlagak tersenyum. Namun diam-diam ia mulai bisa mengendus ada yang aneh pada Ammar. Kini ia banyak bicara, banyak memberi penjelasan apalagi saat sedang bersama dengan Nara. Seperti bukan Ammar yang selama ini ia kenal.
...~~...
Setelah beberapa jam meretas situs data penduduk luar Negeri. Sandra akhirnya menemukan dokumen pribadi Ammar dan Irene.
Semenjak kepergian orang tua nya, mereka memang di bawa oleh pelayan kepercayaan ke Amerika. Mereka tumbuh dan mengenyam pendidikan di sana. Tak terlalu jauh, saat keduanya selesai dengan S1. Pelayan kepercayaan yang tak lain adalah Bu Lila, membawa mereka berdua kembali untuk menerima wasiat Pimpinan.
Saat kedua nya kembali Damar masih memperlakukan mereka dengan baik, menyuruh mereka mengenal perusahaan dari bawah. Meletakkan Ammar dan Irene di bagian yang tidak penting. Sesuai wasiat Pimpinan, perusahaan akan di serahkan setelah anaknya menikah. Ammar yang tak tertarik dengan pernikahan pun membuat Damar menyusun rencana untuk merebut perusahaan.
Hingga akhirnya kecurigaan Irene perlahan terbukti, bahwa Damar sebenarnya adalah musuh dalam selimut. Sejak itu pula Irene menjadi manusia tanpa perasaan, membunuh siapa saja yang terkait dengan kematian orang tuanya.
"Sam.. Kemarilah, ada yang aneh dengan data diri mereka saat di luar Negeri." Sandra mengunduh file tersebut, lalu mencocokkan dengan data diri mereka di Indonesia.
Sam melihat layar komputer Sandra, benar saja. Ia ikut terkejut melihat data pribadi Ammar dan Irene. "Ini sungguh milik mereka?"
"hm..." Sandra mengangguk. Ia juga sama tak percaya.
__ADS_1
...****************...