Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 42 : Mimpi atau bukan?


__ADS_3

Di kamarnya, Irene tengah termenung sambil menggigiti kuku ibu jari. Wajahnya tampak menunjukkan kemurkaan yang siap menghanyutkan siapa saja. Itu karena ia merasa kesal pada Damar yang selalu bisa mengelak.


"Jika terus begini, Aku harus memakai caraku sendiri." gumamnya. Jika dengan hukum Damar tak bisa tertangkap, maka ia akan menangkap Damar dengan pisaunya.


Sebenarnya mudah bagi Irene untuk melenyapkan Damar. Namun ia tak mau kebebasan Damar berakhir begitu saja. Ia ingin publik mengetahui seperti apa sikap busuk Damar yang telah menusuk keluarganya dari belakang.


"Kau memikirkan apa..?" Ammar datang dari pintu rahasia, ia membelai pucuk kepala Irene.


"Haruskah Aku membunuh Damar sekarang?" Keinginan itu begitu membuncah di benak Irene.


"Kita belum mencoreng namanya, akan sia-sia kalau dia mati begitu saja."


Ammar duduk di sebelah Irene, merebahkan kepala wanita itu di bahunya agar merasa tenang.


"Aku iri pada posisi Nara..." keluh Irene sembari memejamkan mata.


"Kenapa? Ku rasa dia tidak seberuntung itu."


"Dia menjadi istri mu, orang-orang menganggap kalian sangat serasi."


Di saat seperti ini terlintas di benak Irene bahwa ia menyalahkan orang tuanya. Seandainya mereka tidak menyembunyikan pernikahan, pasti identitasnya sekarang bukan sebagai saudari Ammar.


"Kau cemburu?" Bisik Ammar membelai lembut anak rambut di dahi Irene. Ikatan cinta mereka memang sudah terjalin sangat lama.


Irene mengangguk, "Dia lumayan. Dan seorang gadis baik-baik. Aku hanya seorang Psikopat gila. Aku takut cinta mu mulai pudar Ammar..."


Mungkin itu di sebut sebagai firasat kuat seorang istri. Irene merasakan sinyal di antara mereka mulai melemah.


Mendengar ketakutan sang istri membuat Ammar kembali tertegun. Cinta yang di rasakan Irene sangat besar. Akan tetapi ia sendiri pun tak tau persis seberapa besar cintanya untuk Irene. Jika cinta di hitung dari besarnya rasa nyaman dan kepedulian, maka cinta Ammar juga sama besarnya.


"Aku tetap mencintaimu Irene... Akan selalu mencintaimu." ucapnya. Mungkin ia pantas di sebut pengkhianat sekarang. Ucapan itu hanya rasa ambang yang tak berdasar.


...~~~...

__ADS_1


Hari ini Nara kembali mengunjungi kantor para Detektif. Sam yang menyuruhnya ke sana, ia ingin menyelidiki hubungan Ammar dan Irene yang sebenarnya. Sekaligus memberitahu Nara bahwa dua manusia itu sedang menipunya.


"Apa Ammar pernah menikah sebelumnya?" tanya Sam membuka percakapan, ia memandangi catatan pernikahan Ammar di komputernya. Sementara Nara duduk di belakang layar komputer.


"Ku rasa tidak..." jawab Nara ragu, tak pula terpikirkan olehnya hal itu. Karena Irene mengatakan Ammar takut menjalin hubungan, artinya pernikahan ini pertama kali bagi Ammar kan?


"Kenapa..?" Nara bingung, apa yang membuat Sam menanyakan hal itu.


"Tidak apa-apa, Aku hanya ingin tau saja." Sam menutup komputernya. Tak tega rasanya kalau harus memberitahu Nara sekarang. Masalahnya tentang pembunuhan itu saja belum selesai, jika ia memberitahukan hal yang belum pasti itu bukankah akan menambah beban Nara. Lagi pula Sandra belum berhasil memastikan apakah dokumen pernikahan itu asli atau tidak.


"Selain bekas luka Irene, apa Kau tidak menemukan hal aneh lainnya di rumah itu?" Sam lebih memilih mengubah topik awalnya.


"Hal aneh seperti apa..?" Hampir semua hal yang ia lihat di rumah itu terasa aneh, bahkan penghuninya sekalipun.


"Gelagat mencurigakan, foto, tempat atau sesuatu yang seperti di tutupi?"


"Ada sebuah ruangan di bawah tanah, pintu besi berwarna hijau tua. Aku penasaran apa yang ada di dalamnya..." Ucapan Nara terhenti. Seperti ada sesuatu yang aneh.


"Tunggu, bukannya itu cuma mimpi? Sehabis mandi Aku berjalan ke arah gudang karena penasaran dengan pintu itu. Ya, Aku kesana kan? Apa itu mimpi juga? Tapi sejak kapan Aku kembali tertidur?" Nara bergumam sendiri dengan keanehan yang dialaminya. Ia sangat yakin sehabis mandi pergi ke gudang dan memasuki ruang bawah tanah.


Nara menaikkan bola matanya, "Entahlah, Aku merasa mimpi ku sangat nyata..."


"Pintu itu cuma mimpi?" tanya Sam lagi.


"Tidak, pintu itu benar-benar ada. Aku pernah hampir membukanya waktu itu."


Sam bangkit dan mengambil sesuatu, seperti lempengan logam kecil berukuran 10 cm. "Bisakah Kau kesana lagi? Masukkan logam ini pada lubang kunci, lalu bawa kemari. Aku akan membuatkan duplikat nya. Ingat lakukan secara diam-diam."


"ee.. Aku memang penasaran, tapi untuk apa kita memeriksa itu? Kau benar-benar mencurigai mereka sebagai pembunuh? Kenapa Kau sangat mencurigai mereka?" Nara gugup, ia tak menyangka Sam benar-benar mencurigai Ammar dan Irene. Itu sangat tidak masuk akal baginya.


"Menurutmu kenapa Irene mendapatkan bekas luka itu? Forensik mengatakan 90 persen itu cocok dengan guratan gunting di rumah Nenek mu. Bukankah seharusnya Kita mencurigai mereka juga? Dan mungkin saja jawaban yang Kita cari ada di ruangan itu."


Bekas luka di paha Irene, dokumen pernikahan, serta masalalu mereka benar-benar membuat Sam sangat curiga.

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika mereka benar-benar pembunuh? Apa mereka akan membunuhku? Bayangkan kalau Aku tertangkap, pasti mereka langsung menghabisi nyawaku!" Nara bergidik merinding membayangkan jika ucapan Sam ternyata benar. Satu rumah dengan para pembunuh? benar-benar menyeramkan.


"Maka itu Aku menawarkan mu ini kemarin." Sam kembali menyodorkan pistol untuk Nara.


"haisss! Kau benar-benar gila. Aku hanya ahli menggunakan jarum suntik. Bukan pistol." Ia membelalak pada Sam. Semua orang yang ia temui setelah kematian Neneknya tidak ada yang normal.


Tiba-tiba pintu kantor Sam di buka dengan kasar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ammar.


"Bukankah Dokter menyuruhmu istirahat di rumah?"


Nara dan Sam sama-sama melihat Ammar dengan tatapan syok. Ammar seperti hantu yang selalu muncul di mana saja.


"Kenapa Anda bisa tau Aku disini?" tanya Nara tak habis pikir.


Ammar mendekat dengan wajah sinis nya, membuat Nara ingin sekali menggaruk wajah Pria itu.


"Kemana lagi kalau bukan kesini? Memangnya Kau punya tujuan lain?"


Nara mengangkat bibir atasnya, membalas tatapan sinis Ammar. Hidupnya memang tidak ada tujuan, persis seperti yang di katakan Ammar. Dan itu semakin membuatnya kesal.


"Berhenti memanggil istriku hanya karena alasan sepele. Kau salah tempat jika ingin mencari kesempatan." Tak cukup ia menistakan Nara dengan mulut tajamnya, kini Sam pula jadi sasaran.


Sam hendak menjawab, namun Nara memotongnya.


"ch..! Istri apanya. Kita cuma menikah kontrak, jadi berhenti bersikap sok suami istri." Ia mengembalikan perkataan Ammar yang selalu menekankan batas itu.


"wahh.. Kau membicarakan itu di depan orang ini?" Ia menunjuk Sam dengan wajah jengah. Bukankah ia sudah melarang Nara membicarakan itu pada orang asing.


"Karena dia harus tau semuanya agar bisa menyelidiki kenapa Aku bisa terjebak di penjara dan berakhir dengan mu."


"Kenapa Kau tidak sekalian memberitahunya kalau Kita pernah tidur bersama?" ketus Ammar merendahkan suaranya, tatapannya juga tak kalah dalam dan tajam.


"Dia memang meminta konsultasi hukum pada ku tentang itu.." celetuk Sam menengahi percekcokan suami istri itu.

__ADS_1


"Apa..??" Ammar memindahkan tatapan tajamnya pada Sam. Sementara Nara tertunduk sambil menggigit bibir. Mampus lah dia kali ini. Mau tak mau memang harus di akui bahwa dia melanggar beberapa peraturan kontrak.


...**************...


__ADS_2