
Sambil berusaha melepaskan diri, jemari Nara menyelinap ke dalam tasnya untuk mengambil satu alat suntik. Dan saat sudah pasti alat itu ada di genggamannya, ia melayangkan kakinya menendang tangan Bu Lila yang tengah bermain dengan korek api. Korek tersebut pun terlempar dari tangan Bu Lila ke arah mobil, dalam sekejap kobaran api menyambar mengelilingi mobil yang tadi ia tumpangi. Sangat tepat dengan perkiraannya.
Dua pesuruh yang tengah menyeret Nara sampai terkejut, mobil itu meledak tepat di hadapan mereka. Api berkobar melahap seluruh bodi mobil tersebut.
"Kenapa berhenti? Kalian mau membakar ku di sana kan? Cepat buka pintunya.." ledek Nara dengan tatapan tajam, sepertinya ia sudah kehilangan akal.
Dua orang pesuruh itu menatap Bu Lila, mereka tak bisa memasukkan Nara ke sana karena api begitu besar.
"Dasar wanita bodoh, Kau pikir bisa selamat dariku?" rutuk Bu Lila mencekam, kedua rahangnya beradu keras.
"Apa yang kalian tunggu! Lemparkan saja wanita itu ke sana!" teriak nya, ia benar-benar tak mengira Nara nekat melakukan hal gila itu.
Nara merangkul kuat salah satu tangan pesuruh itu, "Lemparkan Aku, maka Aku akan membawamu juga." ia tertawa picik, sepertinya ia sudah benar-benar gila sekarang.
Pesuruh itu tak perduli dengan ucapan Nara, ia tetap menyeret Nara ke arah kobaran api. Nara meyakinkan dirinya sendiri, ini lah saatnya ia menyalahgunakan obat bius itu. Satu tangannya bergerak menyuntikkan jarum di lengan para pesuruh itu dengan cepat.
Hanya dalam hitungan detik, dua orang pesuruh itu tumbang. Menyisakan Nara yang berdiri tegak, kemudian perlahan berbalik menatap Bu Lila penuh keangkuhan. Tak sia-sia ia memasukkan dosis untuk satu ekor gajah ke dalam jarum suntik itu.
Nara berjalan ke arah senjata laras panjang yang ia tinggalkan tadi. "Bagaimana cara memasangnya tadi.." ia memasukkan kembali peluru dengan cara yang berbeda, dan berhasil.
"ahh.. seperti ini, kenapa Aku tidak mencobanya dari tadi." Ia memompa selongsong peluru kemudian mengarahkannya pada Bu Lila.
"Kau tidak akan bisa membunuh Nara, Kau tidak memiliki bakat itu." Ucap Bu Lila amat yakin, ia tau Nara hanya sedang menakut-nakuti dirinya.
"Tadi Aku tidak bisa memasang peluru ini, tapi setelah ku coba lagi ternyata Aku bisa. Ku rasa Aku bisa melakukan apapun jika situasinya terjepit seperti ini.." ia tertawa kecil, membuat Bu Lila semakin jengah.
"Kau berusaha menyingkirkan Ammar kan?" Nara melemparkan tatapan paling menjijikkan yang sebelumnya tak pernah ia lolong kan pada siapapun. Ia paling membenci seseorang yang menusuk dari belakang. Alih-alih di sebut pengkhianat, orang seperti itu lebih layak di sebut iblis biadab.
"Kau mengasuhnya sejak kecil, Kau bahkan hidup dari uang yang di hasilkan keluarganya. Kenapa Kau malah menikam nya?"
__ADS_1
Bu Lila bisa melihat Nara prihatin akan nasib Ammar, namun bukankah nasibnya lebih memprihatinkan?
"ck..ck.ck... Lihat siapa yang berbicara, Kau mengasihani Pria itu? Pria yang menghancurkan hidupmu dan membuatmu terperangkap di sini. Kau benar-benar wanita bodoh Nara. Mau ku beritahu sesuatu yang sangat mengejutkan?"
"Irene memang seorang pembunuh. Tapi Pria yang Kau nikahi, dia seorang pembunuh yang lebih kejam. Ayah dari anak yang Kau kandung ini merupakan Psikopat Gila..!"
Tatapan tajam Nara seketika goyah, kedua kelopak matanya bergetar. Kedua tangan yang tadinya memegang senjata amat kokoh, kini mulai goyah. Tidak mungkin.., Ammar hanyalah korban dari kegilaan Irene. Batinnya menolak keras, dan menganggap ucapan Bu Lila barusan hanya untuk memprovokasinya.
"Jika mereka Kau sebut Pembunuh dan Psikopat gila. Lalu apa sebutan yang pantas untukmu? Kau lah yang membuat mereka tumbuh menjadi monster mengerikan. Kau iblis sesungguhnya!"
Tiba-tiba Bu Lila menarik senjata yang di pegang oleh Nara, lalu ia membuangnya. Nara yang tengah tidak fokus pun langsung tersadar bahwa ia benar-benar sedang di provokasi.
Bu Lila mengeluarkan pisau lipat dan langsung mengarahkan tikaman ke perut Nara. Beruntung Nara cepat mengelak, ia terjatuh ke aspal. Merangkak dengan cepat menghindari Bu Lila yang sudah kehilangan akalnya.
"Aku akan mengakhiri semuanya malam ini..! Mati lah Kau wanita sial..!" Satu tikaman lagi melayang kali ini tepat mengenai paha Nara. Pisau lipat itu menancap di sana.
AAAAGGGHH......!
Ia berteriak sekuat tenaga seraya menahan rasa sakit di kakinya. Namun tak ada satupun kendaraan yang melintas di sana.
"Aku akan membuat rasa sakitnya hilang..." Bu Lila mencabut pisau dari paha nya Nara. Membuat pendarahan semakin hebat, Nara masih berusaha menjauh dengan sisa tenaganya.
"Ammar... tolong Aku...tolong Aku.." lirihnya menangis sesenggukan. Hanya nama itu yang bisa ia sebutkan, ia berharap Ammar datang menyelamatkan nyawanya dan bayi yang ada di dalam perutnya.
Bu Lila mengangkat tangannya, sasarannya kali ini adalah perut Nara.
Tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang yang tak lain adalah Ammar. Ia menyeret wanita tua itu dengan amat kasar.
"Ternyata sumber kehancuran ku selama ini adalah Kau!" tukasnya tak mengampuni Bu Lila yang berteriak kesakitan. Kakinya lecet karena bergesekan dengan aspal, darah mulai keluar dari kulitnya yang terkelupas akibat gesekan. Namun Ammar tak memperdulikan itu.
__ADS_1
Ia menyeret Bu Lila ke dalam mobil yang sudah hangus terbakar, hanya ada sisa api menjalar. Ammar mengambil pisau di tangan Bu Lila, kemudian menikam pahanya tepat seperti yang sudah di lakukan nya pada Nara.
Bu Lila tak bisa melawan, tenaganya tak sebanding dengan tubuh kekar Ammar. Ia hanya lah wanita tua, yang kini mengerang kesakitan.
Setelah itu Ammar memasukkan Bu Lila ke dalam mobil yang sudah hangus tersebut dan melemparkan granat ke dalamnya. Cepat Ammar menjauh, dan dalam hitungan detik. Mobil itu meledak untuk yang kedua kalinya bersama Bu Lila. Ledakan dahsyat itu melahap Bu Lila hidup-hidup.
Nara menutupi wajahnya saat ledakan besar itu terjadi. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Dari balik jemari yang menutupi wajahnya, ia melihat Ammar berlari menghampirinya. Pria yang barusan ia lihat memakai wajah mengerikan, kini Pria itu mendatanginya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Bertahanlah," Ammar melepaskan kemejanya dan membalut luka tusuk di paha Nara. Kemudian ia menggendong Nara menuju mobil yang terletak di sebrang jalan.
Nara mengalungkan tangannya di leher Ammar, tatapan sayu amat lekat mengamati wajah Pria itu. Ia hanya diam, pikirannya berkecamuk tak menentu. Yang ia saksikan barusan, apa itu wujud asli Ammar?
"Ammar.., benarkah Kau pernah membunuh?" lirih Nara pelan, tenggorokannya terasa sangat tercekat.
"Aku melakukannya barusan."
Ya, ia barusan membunuh seorang wanita tua dengan cara yang amat kejam. Wanita yang puluhan tahun ada di sisinya, dan puluhan tahun juga menusuknya diam-diam.
...************...
Yang minta carikan Visual nih otor kasih versi khayalan otor.😁 Kalau kurang sreg, boleh di bayangin dengan visual kesukaan masing-masing. Semoga suka ya😘😘😘
Ammar Dawson
Nara Clarissa
__ADS_1
Irene Louise (Alm)