
Nara bersiap hendak mendatangi kantor Sam, ia sudah meminta izin dengan Ammar melalui pesan. Dan Ammar mengizinkan.
"Kamu mau menemui Detektif itu?" tanya Irene tiba-tiba. Nara berbalik badan, ia pikir Irene sudah berangkat ke kantor tadi.
"Iya..." jawab Nara mengangguk.
"Aku juga ingin menemuinya." Irene mengajak Nara untuk naik ke mobilnya.
Ia juga menceritakan ada hal penting yang harus di bahas dengan Sam mengenai kejadian 20 tahun silam.
Sesampainya di kantor Detektif, Nara langsung masuk dan Irene mengikuti di belakangnya. Irene melihat sekeliling, ia melepaskan kacamata hitamnya.
"Selamat pagi...." sapa Sandra, senyumnya pudar ketika ia melihat siapa yang datang bersama Nara.
"Kau membawa saudari ipar mu hari ini?" Sam berpura-pura biasa saja. Padahal hatinya bertanya-tanya apa yang membuat Irene datang kesana.
Irene melangkah melewati Nara, lalu menyapa Sam dengan senyumnya yang tajam dan merekah.
"Hai... Sudah lama Aku mencari keberadaan kalian."
"Kau mengenal kami?" tanya Sam, ia dan Sandra berdiri bersebelahan saling melempar tatapan bingung.
"Kalian anak Pak Jasman bukan? Pria yang di penjara atas kelalaian nya. Aku yakin kalian sudah menyelidiki ku melalui Nara."
Hal yang paling di takutkan Sam kini memenuhi pikirannya, apakah Irene datang untuk mengubah hukuman Ayahnya?
"Kau putri sulung tuan Erland?"
"Orang tua ku tewas mengenaskan..."
"Bukan Ayahku pelakunya. Dia di jebak oleh seseorang!" potong Sam bernada ketus.
"Aku tau.. Itu sebabnya Aku mencari kalian selama bertahun-tahun. Ayah kalian di jebak oleh seseorang yang sangat di percaya orang tuaku."
__ADS_1
Lagi-lagi Sam dan Sandra saling melempar tatapan setelah mendengar ucapan Irene barusan.
"Damar. Mulai penyelidikan dari nya." Irene menyerahkan lembaran barang bukti yang ia dapat dari kepolisian.
Namun semua bukti itu tak berguna karena sepertinya polisi sangat tunduk dengan Damar. Itu sebabnya ia ingin mengatasi kasus ini secara teliti.
Setelah menyerahkan beberapa barang yang bisa di pakai untuk penyelidikan, Irene meninggalkan Nara di sana. Ia pergi ke kantor untuk mengurus sisa rencananya. Bisa di bilang sekarang ia dan Sam bekerja sama.
Baik Nara, Sam, Sandra maupun Galih. Mereka berempat sama-sama melamun, menatapi berkas tersebut dengan rasa tak percaya.
Sungguh kejutan yang sangat tak terduga, bertahun-tahun Sam dan Sandra menyembunyikan identitas Ayah mereka. Namun sekarang Anak dari korban yang menyebabkan Ayah mereka di penjara malah meminta mereka mengungkapkan kebenarannya.
Bertahun-tahun Ayah mereka terkurung di balik jeruji, selama itu pula iblis yang menjebaknya berkeliaran dengan bebas.
"Aku butuh kopi..." Sandra meninggalkan meja kerja mereka. Ia naik ke lantai atas untuk membuat kopi.
Melihat raut wajah Sandra, Galih menyusulnya. Ia tau pasti ini sangat sulit bagi nya. Ia meninggalkan Sam dan Nara di ruangan itu.
"Aku tidak menyangka Kau terlibat dengan keluarga Ammar." Nara berusaha berpikir positif, setelah semua jebakan yang ia lalui. Membawa kasus ini pada Sam bukan skenario seseorang kan? Kenapa semua ini terasa sangat amat kebetulan?
Nara mengangguk, ia juga butuh sesuatu untuk menyadarkan dirinya bahwa ini semua bukanlah mimpi.
Sandra dan Galih tampak berdiri di balkon. Entah apa yang sedang mereka bahas. Sementara Sam dan Nara membuat kopi dengan pikiran kosong.
Karena suasana terasa sangat hening, Sam pun memulai percakapan. Ia menanyakan sesuatu yang dari awal sangat membuatnya penasaran.
"Apa pipi mu terluka?" ia heran kenapa Nara selalu menempelkan plaster di sana.
Nara hendak menjawab, namun ia mengurung jawabannya. Jika ia bilang itu lesung pipi yang sengaja di tutup karena Ammar tidak suka, Sam pasti berpikir aneh nantinya.
"Ini... goresan. hanya goresan kecil." sahutnya terbata. Membuat Sam berpikir jauh, ia tak percaya dengan jawaban itu. Maklum, jiwa Detektif memang sangat lekat dengan sidik menyidik.
Sam menarik paksa plaster tersebut dalam sekejap. Menempel sedikit bulu halus Nara di plaster itu.
__ADS_1
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Nara mematung di tempat, suaranya yang lantang membuat Sandra dan Galih menghampiri mereka dengan langkah tergesa.
"Lesung pipi?" gumam Sam takjub dan terkejut. Kenapa Nara berbohong soal itu?
Nara menghentakkan gelasnya di atas meja.
"Kau melanggar privasi Klien mu!"
"Maaf, Aku mengira Kau mengalami kekerasan rumah tangga. Apalagi melihat wajah saudari ipar dan suami mu. Ku pikir Kau..."
"Kenapa dengan wajah mereka?" potong Nara, entah kenapa rasanya ia tak rela ada orang lain yang menjelekkan Irene dan Ammar. Masih tersisip di hatinya kalau dua orang itu penyelamat.
"Bukan apa-apa.." Sam segera mengembalikan plaster tersebut pada Nara.
Suasana yang tadi hening pun bertambah canggung. Sam merenungi sikap nya barusan, memang sangat tidak sopan. Nara pun demikian, kenapa ia sangat marah karena rasa ingin tau Sam. Di dunia ini ia tak lagi punya siapa-siapa, bukan kah bagus jika ada seseorang yang mengkhawatirkan keadaannya walaupun hanya sebatas Klien.
...~~~~...
Malam telah larut, bukannya kembali ke rumah Ammar. Nara malah kembali ke rumah Neneknya. Ia sengaja menggunakan bus agar orang suruhan Irene tak mengikutinya.
Dengan wajah lesu dan pikiran berkalut, Nara berjalan pelan melewati pantai. Ombak nya bedebur, suara khas daerah itu membuat Nara rindu akan masa-masa sulit yang ia lewati dulu.
"Bukan seperti ini yang ku maksud Tuhan..." keluhnya, air mata menitik walau ia berusaha menahan.
Dulu Nara pernah berdoa siang dan malam. Ia berharap Tuhan mengakhiri kesulitannya, ia berharap bebas dari Neneknya. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, Ia menggantikan penderitaan Nara dengan hal yang lebih menakjubkan.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit menyusuri jalan tepian pantai. Akhirnya Nara sampai di rumah lama nya. Begitu membuka pintu, aroma yang tertinggal membuat Nara kembali terkurung dalam kenangan masa lalu.
Saat sedang menghayati kesedihannya, tiba-tiba terdengar suara bergelayut dari lantai atas. Suara itu seperti derap langkah kaki yang mengusik tenangnya susunan lantai kayu di atas.
Nara memaksakan diri memeriksa, ia memegang gagang sapu untuk berwaspada. Dan saat sampai di depan pintu, betapa terkejutnya dia melihat seseorang yang tengah berbaring di ranjangnya.
"Ammar?!"
__ADS_1
...***************...