
Beberapa cara meluluhkan hati pasangan.
Yang pertama, beri perhatian yang tulus.
Yang kedua, beri senyum manis setiap hari, tunjukkan bahwa dengan melihatnya anda merasa bahagia.
Yang ketiga, beri bunga beserta ucapan romantis yang menyentuh.
Yang ke-empat, beri dia hadiah kecil yang bermakna dalam. Atau barang-barang yang ia sukai.
Ammar manggut-manggut seraya membaca rincian tulisan itu, tulisan yang ia dapat dari internet.
"Ternyata sangat mudah.." gumam Ammar yakin. Ia merasa percaya diri karena seumur hidupnya ia tak pernah terlibat dengan persoalan asmara.
Saat usianya mulai mengenal cinta, hanya ada Irene di dalam hidupnya. Mereka pula saling mencintai, jadi Ammar tak pernah melakukan hal-hal yang menurutnya agak konyol itu.
"Nara juga tidak pernah pacaran kan? Aku yakin dia akan langsung luluh dengan yang pertama."
Ammar menutup laptopnya kemudian turun dari kamarnya. Ia langsung mencari keberadaan istrinya itu.
Ternyata Nara sedang merapikan lemari pakaiannya, ia sedang memilih baju-baju yang akan sering di pakai menjelang persalinan.
"Mau ku bantu?" tanya Ammar dengan senyum selebar samudra, seringan kapas, dan semanis tebu tua. Iya tebu tua, kaku dan kuning. Banyak juga bulu bulu nya.
Nara meringis keki melihat tingkah konyol Ammar itu. Dari mana ia belajar tersenyum seperti itu? hanya bibirnya yang terbuka, tidak ada kerutan di mata bahkan tatapan berbinar. Mata nya tetap sama seperti biasa, dingin dan dalam. Raut senyum itu memang tampak tulus, tapi kenapa di lihat-lihat seperti simpanse yang ketahuan mengambil pisang?
"Kau kenapa?" sahut Nara cuek, ia tetap menyusun baju-bajunya tanpa memperdulikan Ammar.
"Duduk lah, biar Aku yang menyusun kan ini. Kau bilang saja di mana Aku harus meletakkannya..."
"Diam lah Ammar, Kau merusak mood ku." ketus Nara menepis tangan Ammar.
Ammar tetap memasang senyum kaku nya, namun ia tetap percaya diri dan menganggap bahwa itu senyum terindah yang pernah ia lontarkan.
"Kau berkeringat Nara, istirahatlah.." Ia menyeka keringat di pelipis Nara dengan Ibu jarinya.
Nara menghela nafas, Ammar benar-benar membuat mood nya untuk menata baju berantakan. Sambil mendengus kasar, Nara memberikan keranjang pakaian ke hadapan Ammar.
__ADS_1
"Kau mau membantu? Kalau begitu selesaikan ini serapi mungkin. Jangan bertanya!"
Nara beranjak dari sana sambil menghentakkan kaki. Sementara Ammar, senyum nya langsung pudar. Dengan wajah lesu ia menata pakaian itu sebisa nya.
...-...
...-...
Di salah satu toko perhiasan...
"Vino..! Ada pelanggan VIP menunggu, cepat Kamu layani. Papa mau ke toilet." titah pemilik toko berusia 70 tahunan itu.
"Lalu guna nya karyawan Papa untuk apa?" sahut Vino sambil bermain dengan anak perempuannya.
Pemilik toko itu berhenti di depan anaknya, sembari melipat kaki karena tak tahan dengan hajat yang sudah mendorong keluar.
"Dia salah satu pelanggan istimewa, Papa tidak bisa melayaninya sekarang. Kau yang harus merogoh kantongnya hari ini, kalau dia pergi tanpa membeli. Papa akan membunuhmu!" ia langsung berlari setelah menyelesaikan kalimatnya.
"hhuuuftt.." Vino bangkit dengan wajah kesal, ia menitipkan anak nya ke salah satu pegawai wanita, lalu menemui si pelanggan VIP di ruang tunggu.
Sementara itu di ruang tunggu VIP, Ammar tampak bingung melihat beberapa barang yang di sodorkan oleh karyawan toko. Ada banyak pilihan, semua nya cantik dan berkilau. Tapi ia tak tau selera Nara yang seperti apa. Yang kecil simpel, atau yang menonjol namun elegant?
"Begini, ada seorang wanita yang sedang hamil..."
"Kau mau membelikan hadiah untuk istri orang?" potong Vino terkejut.
"Dia istriku.." sahut Ammar ketus, ia tampak tak senang di layani oleh Vino. Sebab ia terbiasa di layani oleh si pemilik toko langsung.
"Kenapa menyebutnya seperti itu.." gumam Vino mendengus, melayani orang bukan lah fashion nya. Apalagi orangnya ketus seperti Ammar, membuatnya ingin mengusir Ammar secepatnya.
"Apa yang istrimu sukai? Seperti aroma, warna, atau suatu tempat?" tanya Vino lebih lanjut.
Ammar memutar bola matanya, ia tak tau apa-apa tentang Nara. Bagaimana bisa ia memantaskan diri sebagai suami.
"Dia menyukai aroma tubuh ku..." ucap Ammar ragu, beberapa kali ia melihat Nara menghirup nafas dalam sembari terpejam apabila mereka duduk berdua.
Vino pun mendekatkan wajahnya, lalu menghirup dalam aroma tubuh Ammar. "hhhmmm.... mahal dan ganas,"
__ADS_1
Sontak Ammar terkejut, kok ada manusia model begini. Tampang nya doang gagah, tapi tingkahnya abstrak.
"Kalau begitu sepasang anting ini, kilauan biru yang samar membuat kesan mewah. Bentuknya juga menonjol namun cocok di kenakan sehari-hari. Dia pasti suka."
"Kau yakin?" tanya Ammar tak percaya.
"Yakin, soal selera wanita Aku tidak pernah salah. Seharusnya Aku yang bertanya padamu, kenapa Kau tidak yakin? Apa Kau tidak begitu paham selera istrimu? Kalau Kau salah memahami seleranya, maka bisa jadi perhiasan yang ku pilihkan tidak sesuai dengan keinginannya."
"Baiklah, Aku ambil yang itu." Ammar mengeluarkan blackard nya.
Vino pun dengan senang hati menerima kartu hitam itu, sebenarnya ia tak tau menau soal perhiasan. Ia menunjuk anting itu karena harganya yang paling mahal di antara perhiasan lain. Tak di sangka, Ammar langsung setuju dan membeli anting seharga 7,4 M tersebut.
"Kalau istriku tidak suka, Aku akan meminta uang ku kembali..!" rutuk Ammar pada Vino.
"upps.. tenang saja, jangan khawatir. Sejujurnya apapun yang Kita berikan, wanita pasti akan suka. Tergantung cara memberikannya, tapi walaupun cara memberimu tidak bagus. Setidaknya anting berlian ini cukup untuk menutupi kekuranganmu hahahah..."
"Cara memberi..?" Ammar melipar dahinya, berarti tidak langsung asal memberi?
Melihat itu Vino berdecak heran, kini ia tau kenapa pelanggan nya itu kaku dan seperti tak tau banyak soal wanita. Ia menebak pastilah Ammar seorang bujang tua yang baru memasuki masa puber.
"Keluarkan bunga itu. Biarku ajarkan caranya." tunjuk Vino pada setangkai mawar merah muda yang di sembunyikan Ammar di balik jas nya.
Dengan ragu-ragu, Ammar mengeluarkan bunga tersebut.
"Coba berikan padaku, anggap Aku sebagai istrimu." tantang Vino,
Ammar pun menyerahkan setangkai mawar itu sesuai permintaan Vino.
"Kau mau menusukku dengan itu?" ujar Vino terkejut.
Bagaimana bisa seorang Pria memberikan bunga dengan gerakan cepat, terlebih tangan Ammar sangat tegak lurus seperti sedang menodongkan pisau.
"aisshhh... Kau sangat payah. Begini caranya.." Vino membenarkan tangan kaku Ammar, ia menurunkan siku, mengangkat sedikit pergelangan tangan lalu menyuruh Ammar menundukkan wajah.
"Coba senyum sedikit, ingat Kau sedang memberikan bunga untuk istrimu, bukan untuk pemakaman." ledek Vino tak henti-hentinya.
Ammar menuruti, ia tersenyum kecil dengan raut mata berbinar. Ia benar-benar membayangkan Nara ada di depannya, Nara yang tengah tersenyum hangat seperti saat berbicara dengan Sam.
__ADS_1
...*************** ...