
Diam-diam Irene menyelidiki rekaman CCTV, ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Malam saat ia tak pulang kerumah karena terlibat pertengkaran dengan Ammar. Ia merasa harus mencaritahu, karena Ammar seperti menutupi sesuatu darinya.
Irene mengamati rekaman dari mulai Ammar pulang kerumah. Turun dari mobil sembari mabuk, lalu melemparkan botol Wine ke patung air mancur. Kemudian Ammar memasuki rumah, dan langsung menemui Nara. Lalu Nara membantu membawa Ammar ke kamarnya. Kemudian pintu kamar di tutup, dan Nara tak kunjung keluar.
Karena di dalam kamar tak ada kamera, Irene pun mempercepat pemutaran rekaman. Waktu di layar menunjukkan kejadian itu pukul 12 malam. Dan tampak lah saat Nara keluar dari kamar Ammar, mengenakan baju yang berbeda.
"Kemeja Ammar...?" gumam Irene, ia melihat waktu di pojok layar yang menunjukkan jam 3 pagi. Itu berarti Tiga jam Nara berada di sana.
Irene masih terus memantau, ia bisa melihat dengan jelas Nara menangis sesenggukan saat keluar dari kamar Ammar. Langkahnya pun tertatih-tatih. Kini Irene bisa menyimpulkan, ia tau apa yang coba di sembunyikan oleh Ammar.
...~~~...
"Apa..?! Kau meminta dia memberikan semua saham nya?" Sam tersentak kaget saat Nara mengatakan itu. Terlalu besar? memangnya kenapa? Ammar sendiri yang membuat peraturan itu.
"hmm...! Biar dia bangkrut!" rutuk Nara menatap tajam lembaran kontrak nya.
"Tapi masalahnya jumlah saham itu terlalu besar, Dia pasti akan berpikir ulang dan mencoba menegosiasi." imbuh Galih, di sahuti anggukan oleh Sam. Ia setuju bahwa kompensasi yang di minta Nara terlalu besar.
Sebagai wanita Sandra berbeda pendapat, ia tak setuju dengan asumsi Kakak nya dan juga Galih.
"Terlalu besar kalian bilang?! Dia kehilangan harga dirinya, dan Pria itu sendiri yang membuat peraturan itu. Seolah dia sengaja membodohi Nara dan Kalian bilang terlalu besar?" Sandra membelalak pada Sam dan Galih.
"Tapi Dia kan suami nya, terlepas itu kontrak atau bukan pernikahan mereka tetap sah. Jadi tak perlu membesarkan masalah.." belum selesai Galih bicara, Sandra sudah memotong lagi.
"Tak perlu di besarkan masalah ini juga sudah besar! Bukan kah dia sendiri yang membuat batas, kenapa malah melanggar?"
"Kenapa kalian yang berdebat?" ucap Sam memotong perselisihan itu.
"Aku kesini ingin minta nasihat Hukum kalian..." imbuh Nara canggung, Sandra dan Galih langsung menutup rapat mulutnya.
__ADS_1
"Begini saja, pasti dia akan memberi penawaran. Karena mustahil menyerahkan seluruh sahamnya. Kau minta saja nominal tertinggi, yang kira-kira bisa membuat hidup mu tenang jika kontrak kalian berakhir nanti."
Nara memikirkan usulan dari Sam, Ia memang tak berniat merebut perusahaan itu. Ucapan itu spontan saja ia katakan karena sangat kesal dengan Ammar. Ia hanya ingin tak terlihat seperti wanita bodoh bagi Ammar.
...~~~...
Ammar memasuki rumah, ia baru pulang dan terasa amat lelah. Sembari berjalan menuju lift, ia melirik ke arah kamar Nara. Pastilah wanita itu sudah tidur, karena sudah larut malam. Ia mempertimbangkan betul permintaan Nara kemarin. Bagaimanapun itu memang kesalahannya, tapi menyerahkan seluruh sahamnya? Itu sama saja melepaskan kerja keras ia dan Irene selama ini.
Saat membuka pintu kamar, Ammar terkejut. Isi kamarnya sangat berantakan. Selimut dan bantal robek tercabik, cermin panjang di sudut ruangan hancur berserakan. Lampu hias di kedua sisi ranjang tergeletak di lantai dalam keadaan pecah.
Itu semua adalah ulah Irene, ia menangis sesenggukan sembari duduk meringkuk di atas ranjang. Ammar menghampiri nya, apa yang membuat Irene mengamuk seperti itu?
"Irene.. Apa yang terjadi?" bisik Ammar pelan, ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap kepala Irene.
Irene mengangkat wajahnya. Mata merah dan sembab, ia menatap lekat Ammar dengan tatapan tajam.
Tangan Ammar terhenti di atas kepala Irene. "Apa maksud mu..?"
"Kau menghianati Ku! Aku sudah tau semuanya!" pekik Irene terisak, ia bahkan mendorong tubuh Ammar.
"Kau tidur dengannya..! Kau membawanya ke kamar ini, di atas ranjang ini...! Kau menghianati pernikahan Kita!" Irene menangis sejadi-jadinya sambil memukuli dada Ammar.
Ammar menangkap kedua tangan Irene, "Irene.. tenang dulu. Aku mabuk malam itu, Aku tidak sadar. Aku tak berniat menghianati pernikahan Kita Irene..." ujarnya pelan, ia benar-benar telah melakukan kesalahan besar.
"Kau menikmatinya..?" Irene tampak sangat marah. Ammar sudah berjanji padanya tidak akan menyentuh Nara, tapi apa yang terjadi.
"Irene..." lirih Ammar.
"Kau menikmatinya?!!" bentak Irene membuncah.
__ADS_1
"Irene.. Maafkan Aku, pikiranku sangat kacau malam itu. Aku merindukanmu..." ia memeluk tubuh Irene dengan erat.
Ammar memeluk erat tubuh Irene dan mengecup kepalanya berulang kali dengan amat lembut.
"Aku menerima dia di rumah ini karena mu, Kau sendiri yang bilang ingin hidup bebas menjadi diri sendiri kan? Bagaimana bisa Aku menghancurkan impianmu. Percayalah Irene, hanya Kau yang selalu ada di pikiranku. Bahkan malam itu pun Aku memikirkan mu.."
"Kau sungguh memikirkan Ku?" Irene mulai melunak, ia tau malam itu Ammar mabuk berat akibat pertengkaran mereka di kantor.
"Hanya Kau Irene... Aku sangat mencintaimu.." bisik Ammar kemudian mengecup puncak kepala Irene lagi.
Perlahan Irene mengangkat tangannya membalas pelukan Ammar. Sudah sejauh ini mereka melangkah. Irene pun memutuskan menimbun rasa cemburunya untuk saat ini. Walau dada nya terasa sangat sesak.
"Kau melakukan kesalahan fatal Ammar, tapi untuk kali ini Aku akan memaafkan mu agar rencana Kita tetap berjalan. Namun jika Kau melakukan itu lagi, Aku tidak akan memaafkan mu. Entah itu sadar atau tidak. Aku tetap Akan menganggap mu penghianat."
"Aku berjanji akan selalu menjaga kesadaran ku, dan pernikahan Kita. Aku berjanji akan membahagiakan mu..."
Mereka berdua tenggelam dalam pelukan hangat. Ammar sangat menyesal, namun ia merasa sangat bersalah pula pada Nara. Kesalahannya telah menyakiti Irene dan Nara sekaligus. Sungguh ia telah bertahan sekuat tenaga untuk tetap berdiri di samping Irene, menjadi suami yang baik untuknya dan membahagiakan nya sampai tutup usia. Namun tak disangka seluruh ikatan yang menjalin di antara mereka perlahan gugur hanya karena gadis asing yang terjebak oleh pernikahan mereka.
...~~~...
Sam, Sandra dan Galih tercengang saat mendapat kebenaran data pribadi Ammar dan Irene. Mereka ternyata bukan saudara, melainkan suami istri. Mereka memalsukan identitas dan menyembunyikan pernikahannya.
"Bagaimana kalau Nara mengetahui ini?" gumam Sandra prihatin. Ia membayangkan betapa menyedihkan kehidupan Nara.
"Untuk saat ini jangan ada yang memberitahunya, Kita harus tau apa sebenarnya motif mereka menipu Nara." ucap Sam. Ia menerka apa jangan-jangan Ammar sengaja membunuh Nenek dan menjebloskan Nara ke penjara. Lalu menolongnya dan membuat pernikahan kontrak agar bisa merebut kembali perusahaan.
Tapi kenapa harus menyembunyikan pernikahannya dengan Irene? Bukankah seharusnya Ammar bisa merebut kursi Pimpinan dengan pernikahannya dan Irene? Kenapa harus Nara?
...*************...
__ADS_1