Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 55 : Kembali setelah 15 tahun


__ADS_3

Sore hari ini, Nara pergi ke toko furniture dan perabotan untuk membeli beberapa aksesoris kamar. Ia ingin mendekor kamarnya agar kelihatan Aesthetic dan simpel. Ia membeli jam dinding, lukisan, beserta lampu tidur.


Setelah dirasa cukup, Nara pun membawa barang belanjaan nya ke taksi yang sudah ia pesan. Ia sengaja pergi tanpa sepengetahuan Ammar, ia risih karena Ammar sangat protektif terhadapnya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu. Pokoknya Nara tak leluasa bergerak jika terus menuruti Ammar.


Kebetulan pula ia sedang tidak memakai gelang pemberian Ammar. Sehabis memakai lotion ia lupa memakai gelang itu kembali.


"Biar Saya bantu nyonya.." Ujar sang supir taksi.


"Oh iya.. terimakasih." Nara mempersilahkan supir itu memasukkan belanjaannya ke bagasi.


"Sesuai aplikasi?" sang supir memastikan. Ia melirik tipis pada Nara yang sedang memegangi troli. Di balik topi hitam yang menutupi wajahnya, tatapan tajam tak henti-hentinya di tujukan pada Nara.


"Nara....!" Seru Sam dari kejauhan, kebetulan ia juga habis membeli kasur baru untuk sang Ayah. Karena melihat Nara, ia pun menyapa. Siapa tau Nara butuh bantuan.


Nara menoleh dan langsung tersenyum saat melihat siapa yang memanggil.


"Sam..? Sedang apa Kau di sini?"


"Aku membeli beberapa barang untuk Ayahku, kebetulan hari ini Kami mengadakan makan bersama untuk penyambutan. Kalau Kau berkenan Aku ingin mengajakmu bergabung." Sam memang sudah merencanakan itu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena Nara secara tidak langsung mempermudah tujuan mereka.


"Aku..? Memangnya tidak apa-apa? Aku kan bukan anggota keluarga." sahut Nara sungkan, ia tak ingin menganggu acara keluarga mereka.


"Ayolah.. Anggap saja Kita keluarga." ujar Sam meyakinkan.


"Pak, tolong pindahkan barang-barang nona ini ke mobil Saya ya." Pinta Sam kepada supir taksi.


"Tapi...."

__ADS_1


"Saya tetap bayar kok, Dua kali lipat." ucap Sam, ia mengerti pasti sang supir keberatan kehilangan pelanggannya.


...~~~...


Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah lama Nara. Seorang Pria tua berusia 50 tahunan turun dengan membawa satu tas berukuran besar.


Pria itu menghirup dalam udara di sana, sambil menitikkan air mata haru. 15 tahun lamanya ia merindukan rumah itu. Ya, dia adalah Ayah kandung Nara yang selamat dari terjangan badai 15 tahun silam.


Selama Empat hari terombang-ambing di lautan lepas. Akhirnya ia berhasil selamat saat kapal nelayan menemukannya. Ia di bawa ke sebuah pulau terpencil, hanya ada beberapa penduduk dan minim akses.


Dari cerita yang ia dengar, butuh waktu 26 hari menyebrangi lautan menggunakan kapal kargo. Kapal yang hanya mampir Lima bulan sekali itu membandrol harga 2 juta per orang.


Akses yang sulit, harga yang mahal serta mata pencarian yang minim membuat Ayah Nara terjebak di pulau itu. Ia sempat menyusup ke kapal kargo di bantu beberapa rekannya, namun sayang ia tertangkap sebelum kapal berlayar.


Hampir tak ada harapan baginya untuk kembali kerumah. Setiap saat ia selalu membayangkan wajah putrinya, berharap ada keajaiban ia bisa bertemu dengan sang putri sebelum ajal menjemput.


Setelah perjalanan yang amat panjang, ia akhirnya bisa menghembuskan nafas lega walau uang tinggal 100 ribu di tangan.


"Anda mencari siapa..?" tanya salah seorang warga setempat. Ia memperhatikan Ayahnya Nara yang sedari tadi melamun di sana.


Tampak nya itu warga pendatang, sebab Ayahnya Nara tak mengenali orang itu.


"Saya mencari Nara,"


Dua orang warga paruh baya itu saling bertatapan. Mereka penasaran siapa gerangan Pria itu. Mengapa mencari Nara sekarang?


"Nara sudah pindah, dia ikut suaminya."

__ADS_1


"Apa..?" Ayahnya Nara terkejut, tenyata putri semata wayangnya sudah menikah. Ia sangat tersentuh karena telah melewatkan hari sakral sang putri.


"Kalau Bu Salima? Apa dia pindah bersama Nara?" imbuhnya, ia melihat pekarangan rumah yang sepi dan tampak tak berpenghuni. Ia pikir Ibunya pun ikut pindah bersama Nara.


"Bu Salima sudah meninggal, sudah hampir Empat bulan yang lalu. Tapi... Anda ini siapa?" Mereka tak mau sembarangan memberikan informasi pribadi, takut kalau ternyata Pria itu memiliki maksud lain.


"Saya Arul, anak kandung Bu Salima. Ayahnya Nara." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka Sang Ibu sudah tiada. Padahal ia belum sempat membahagiakan nya.


"Ayah Nara..? Arul yang hilang saat pergi melaut?" Dua orang wanita paruh baya itu terkejut. Mereka memang pernah mendengar cerita tentang kedua orang tua Nara yang meninggal di terjang badai. Namun hanya jasad sang Ibu yang di temukan, hingga akhirnya tim SAR menyatakan bahwa Arul meninggal dunia.


"Ibu mu meninggal secara tidak wajar, dan Nara yang tersudut sebagai pelaku karena mereka sering bertengkar." Jiwa rumpi kedua wanita itu langsung bangkit, mereka bersedia menceritakan kejadian tanpa ada yang terlewat.


"Tidak mungkin.. Nara itu anak baik, dia tidak mungkin melakukan itu pada Neneknya ." Bantah Arul, walau ia tau Ibu nya sangat galak, tapi ia mengenal betul hati lembut putrinya yang menurun dari sang istri.


"Tentu saja, Kami juga tidak percaya. Dia bahkan sempat di penjara. Tapi akhirnya di bebaskan oleh suaminya. Dan tak lama mereka pun menikah. Baru-baru ini pembunuh sebenarnya terungkap, ia mati terbunuh oleh musuhnya sendiri. Sungguh mengerikan.."


Kedua warga itu saling mengimbuhi cerita. Mereka memang tak tau pasti siapa pembunuh sesungguhnya, sebab identitas di rahasiakan oleh media. Hanya segelintir orang yang tau, itu pun karena mereka terlibat langsung dengan Damar maupun Irene entah lewat hubungan kerja, maupun hubungan pribadi.


Arul hampir tak mempercayai cerita kedua warga itu, terdengar seperti alur film yang sengaja di dramatisasi.


"Suaminya sangat kaya raya... mungkin seorang duda." Imbuh mereka lagi, karena mereka tak tau dan sangat penasaran, beberapa rumor pun beredar tentang sosok suami Nara. Dari mulai pria impoten, duda tua, bahkan pria yang mempunyai banyak selir. Itu karena mereka tidak pernah melihat Nara bersama seorang pria sebelumnya. Lagi pula tidak masuk akal pria kaya menikahi gadis dari daerah terpencil seperti itu.


"Apa kalian tau alamat rumah nya?"


"Tidak tau, tapi dengar-dengar dia bekerja di perusahaan besar. Apa namanya ya.., Giant Teknologi kalau tidak salah." mereka bersusah paya menyebutkan nama perusahaan itu.


"Giant?" Arul langsung berpikiran bahwa itu adalah GT grub. Satu-satunya perusahaan teknologi di Indonesia. Kalau tidak salah ingat, entahlah kalau sudah ada perusahaan teknologi lain yang berdiri selama ia terkurung di pulau terpencil itu.

__ADS_1


...************...


__ADS_2