Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 37 : Mengelabui


__ADS_3

Nara sedikit takut saat Sam menyodorkan sebuah pistol di atas meja. Seumur hidup baru kali ini ia melihat senjata seperti itu.


"Untuk apa pistol itu...?"


"Aku merasa Kau dalam bahaya, untuk itu simpan ini bersama mu. Kau tau cara memakainya kan?" jawab Sam dengan wajah serius. Membuat Nara bertambah gugup.


"Bukankah warga sipil di larang memakai itu? Lagi pula kenapa Aku dalam bahaya? Aku ini istri dari Pimpinan GT group, ada banyak orang yang mengawasi ku jadi Kau tak perlu khawatir hehehe..." Nara menepis kekhawatiran Sam, tapi jujur saja, sesungguhnya ia juga berpikiran sama dengan Sam.


"Justru karena Kau terlibat dengan para orang elite itu, Aku merasa sesuatu yang besar bisa saja terjadi."


Nara menekuk sebelah alisnya, masih saja Sam tak memberi penjelasan pasti kenapa dia harus menggunakan pistol. Satu-satunya yang harus ia waspadai hanyalah Ammar.


"e..terimakasih karena telah mengkhawatirkan Ku. Tapi Aku tidak butuh senjata ini." Nara mendorong kembali pistol itu ke arah Sam.


"mmm..., Aku lebih membutuhkan alat kejut listrik seperti kemarin, tapi yang volume nya lebih besar. Kau masih punya kan?"


Sam mengangguk, apapun itu yang penting Nara punya sesuatu untuk melindungi dirinya. "Cepat hubungi Aku jika Kau merasa ada sesuatu.."


"Baik..." Nara mengangguk dan tersenyum kecil.


...~~~...


Karena p3mbunuhan yang di lakukan Irene mendadak, mereka tak sempat mengatur rencana bagaimana pulang ke rumah tanpa di curigai oleh Nara. Baju mereka berlumuran darah. Mereka juga tak bisa asal membeli baju untuk di pakai saat ini, karena pasti akan menimbulkan kecurigaan. Cepat atau lambat Pria yang di bunuh oleh Irene pasti akan ditemukan oleh polisi. Dan mereka tak boleh berkeliaran dengan penampilan seperti itu.


Kemudian Ammar mendapatkan ide gila, ia menabrakkan mobilnya di sebuah tiang. Bagian depan mobil sedikit hancur, alasan yang cukup bukan untuk mengelabui Nara.


"Kau memang jenius Ammar..." Puji Irene, ia bahkan masih kuat tersenyum setelah kepalanya terbentur.


"Kau tidak apa-apa kan?" Ammar memeriksa keadaan Irene.


"Aku baik-baik saja, sekarang ayo Kita pulang dan mainkan adegan berikutnya."


Ammar dan Irene saling melempar senyum kemudian kembali melajukan mobil menuju rumah.


Mereka pun tiba di rumah bersamaan dengan Nara yang baru pulang setelah bertemu dengan Sam tadi. Ia sangat terkejut saat melihat mobil Ammar hancur, di tambah mereka berdua berlumuran darah.

__ADS_1


"Kalian kenapa..?" Nara menghampiri, ia sangat terkejut.


"Suami mu mabuk, Kami menabrak tiang lampu tadi. Kau urus saja dia," Irene memasuki rumah, ia berpura-pura merintih kesakitan agar tampak meyakinkan.


"Apa ini? Kau bilang selalu sadar saat sedang mabuk? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Nara mengomel, ia hendak menuntun tangan Ammar untuk memasuki rumah. Namun Ammar menepisnya.


"Aku bisa berjalan sendiri..." ketusnya, kalau sampai Nara menyentuh nya maka DNA korban bisa saja menempel di tangan Nara.


"Pipi mu..." Nara meringis saat melihat sayatan di pipi Ammar. Sepertinya terkena pecahan kaca tadi.


Ammar tak menghiraukan itu, ia terus berjalan meninggalkan Nara yang berusaha memberi simpati.


"Kalian yakin tidak perlu bantuan? Antibiotik, perban atau semacamnya?" pekik Nara, mana bisa ia diam saja saat melihat dua orang berlumuran darah seperti itu.


"Aku butuh anti nyeri, kepala Ku pusing." seru Irene dari lantai dua, ia sedang menuju ke kamarnya.


"Akan ku bawakan..." sahut Nara, ia bergegas ke kamarnya untuk mengambil peralatan medisnya.


...-...


...-...


"Anda yakin tidak mau ke rumah sakit?" tawar Nara saat melihat beberapa memar di bagian punggung Irene.


"Tidak.. Aku baik-baik saja."


Nara tak bertanya lagi, ia sudah selesai dan langsung mengemasi peralatannya. Ia keluar dari kamar itu.


Saat melewati kamar Ammar Nara berhenti sejenak. Benarkah Pria itu tidak membutuhkan bantuan? Penampilannya lebih berantakan dari Irene tadi.


"ahh.. Untuk apa Aku mengkhawatirkan dia." tepisnya, ia kemudian menuruni anak tangga. Mengusir rasa penasaran terhadap Ammar dari otaknya.


Baru beberapa langkah, ia mendengar suara dari kamar Ammar. Ia pun heran, bukankah Ammar sendirian di sana? Kenapa seperti terdengar sedang berbincang dengan wanita?


Nara kembali naik perlahan, memastikan bahwa pendengarnya tidak salah.

__ADS_1


Memang benar dugaan Nara, di dalam sana Irene dan Ammar sedang berdebat mengenai rekaman CCTV. Mereka lupa merusak kamera di tempat kejadian.


"Ini semua gara-gara Kau Ammar! Andai Kau diam saja dan membereskan tempat itu seperti biasa, konsentrasi ku pasti tidak akan buyar!"


"Tenang lah.. Aku sudah mengirim orang untuk membereskan itu." Ammar memeluk Irene, wanita itu mudah sekali panik.


Sayangnya percakapan itu tak terlalu jelas sampai ke telinga Nara. Ia berusaha menempelkan telinganya ke daun pintu namun yang terdengar hanya suara samar.


Merasa pendengaran nya salah, ia pun berbalik. Namun kotak peralatan yang di bawa malah menabrak dinding hingga menimbulkan suara keras.


Ammar dan Irene langsung melepaskan pelukan mereka, Irene segera berlari ke arah ruang rahasia yang menunu kamarnya. Sementara Ammar langsung mengecek keluar kamar.


"Apa yang Kau lakukan di sini?" tanya Ammar ketus.


"Aku... penasaran apa Kau baik-baik saja." sahut Nara pelan, ia memperhatikan luka di pipi Ammar yang terlihat menganga.


"Jika tidak di obati itu bisa infeksi.."


"Masuklah, berikan obatmu." Ammar masuk kedalam kamar, lalu membuka lebar pintunya agar Nara ikut masuk.


"Aku bisa melakukannya di sini." ia keberatan masuk kesana. Masih takut dengan kelakuan Ammar yang memaksa nya malam itu.


"Aku lelah, tidak bisa berdiri lama." Ammar duduk di atas ranjang nya, melipat kaki dan menatap lurus kepada Nara. Ia menunggu gadis itu menghampirinya.


Dengan penuh rasa ragu, Nara melangkah masuk. Ia berdiri di depan Ammar kemudian membasuh luka di wajah Pria itu menggunakan alkohol. Ia terheran saat Ammar tampak tenang, biasanya orang akan merintih perih saat ia mensterilkan luka dengan itu.


Nara lanjut mengoleskan salep ke pinggiran luka, kemudian menutupnya dengan plaster.


"Apa tidak perih..?"


Ammar tak menjawab, ia mengambil sesuatu dari bawah bantalnya kemudian memberikan itu pada Nara.


"Ini milik mu kan?" Ia menyerahkan alat kejut listrik yang kemarin terpijak oleh Nara.


Nara tercengang, berhari-hari ia mencari alat itu. Ia pikir lupa meletakkannya. Kenapa ia tak ingat sama sekali bahwa alat itu lah yang membuatnya kehilangan tenaga hingga tak bisa melawan Ammar malam itu.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2