Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 46 : Kejutan berulang


__ADS_3

Nara memasuki kamarnya untuk mengambil surat kontrak pernikahan. Namun saat di luar kamar, Nara baru teringat sesuatu. Hal aneh lainnya yang ia lihat diruang bawah tanah. Ia sangat terguncang saat melihat gunting Nenek sampai tak menyadari hal yang amat janggal. Yakni foto keluarga Irene. Tak sempat terekam olehnya, namun itu sangat mengganggu pikirannya sekarang. Ia pun berniat kembali keruang bawah tanah itu untuk memastikan.


Sudah hampir 20 menit Nara di dalam, Sandra mulai gelisah takut sesuatu terjadi pada Nara. Jika hanya mengambil surat kontrak kenapa begitu lama?


Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Nara, namun ponsel Nara tidak aktif. Padahal mereka sepakat untuk saling menelpon jika sesuatu terjadi.


Sementara Nara sudah sampai di ruangan itu lagi, ia tidak tau bahwa di tempat itu ponsel tidak akan berfungsi. Ya itu area yang sengaja di rancang tanpa sinyal. Itu lah yang membuat ponselnya tidak aktif saat Sandra menelpon.


"Irene Louise...?" Nara terbata saat membaca nama itu. Ia mengambil foto berukuran 20 centi tersebut. Dimana terdapat foto Denias, Gita dan Irene saat berusia sekitar 7 tahun.


Nara membuka bingkai foto itu berniat membawanya juga pada Sam. Namun ternyata di balik foto itu ada lembaran lain, foto pernikahan Ammar dan Irene di Amerika.


"Apa ini..?" Nara membalik foto itu, terdapat tanggal di belakangnya 07 Juli 2014, Ammar Dawson & Irene Louise.


Ingatan Nara berputar pada saat ia menyaksikan Ammar dan Irene berciuman di dalam lift. "Ternyata itu memang bukan mimpi." Ia teringat pula saat Irene dengan cepat membiusnya saat itu. Ia benar-benar telah dibodohi oleh mereka berdua.


Syok? Terkejut? Jangan ditanya lagi. Untung saja jantung Nara sangat sehat. Jika tidak mungkin hari ini ia sudah pindah ke alam baka karena berulang kali mendapatkan fakta yang sangat mengejutkan.


Kini Nara bisa menebak, bahwa Irene anak dari Denias, dan Ammar anak Pimpinan Erland. Mereka bukanlah kakak beradik, melainkan suami istri yang sengaja menjebaknya. Walau belum bisa dipahami apa tujuan Irene melakukan pernikahan itu untuknya, Nara bertekad akan membongkar kebusukan mereka secepatnya.


Di luar sana, Sandra sudah tidak bisa tenang lagi. Ia sudah memikirkan hal-hal mengerikan karena Nara tak kunjung keluar. Berbekal pistol di kedua sakunya, Sandra nekat masuk kedalam rumah itu untuk memeriksa keadaan Nara.


"Aku akan membunuh Damar malam ini... Setelah itu Kita bisa mengirim Nara ke penjara lalu menjalani kehidupan sesuai impian Kita." Senyum manis Irene merekah, betapa antusias ia ingin mengakhiri permainan melelahkan ini.


"Apa..?" Ammar menepis tangan istrinya itu.


"Bukankah Kau bilang ingin melepas topeng Damar dulu?" imbuhnya.

__ADS_1


Irene mendekat lagi, ia bahkan memasang raut manja pada suaminya. "Ayolah Ammar... Aku sudah lelah bermain dengan pisau ku. Tadinya Aku memang berencana begitu, itu sebabnya Aku menyerahkan sedikit kertas pada Detektif itu. Tapi ternyata dia sangat lamban dan bodoh, sampai sekarang bahkan ia tidak bisa menangkap Damar. Aku sudah muak Ammar."


"Irene Kau harus...."


tit..tit..tit..tit..tit..


Tiba-tiba alarm di kamar Ammar berbunyi cepat, sensor yang ia pasang di pintu masuk akan otomatis mengirim sinyal ke sana saat ada orang asing yang memasuki rumah.


Ammar dan Irene saling bertukar pandangan, Ammar memeriksa rekaman CCTV melalui ponselnya. Ia bisa melihat dengan jelas Sandra memasuki rumah itu.


"Ada tamu tak di undang.." Ammar dan Irene segera turun untuk menyambut kedatangan Sandra.


Dari lantai dua, Irene langsung menembakkan bius tepat mengenai bahu Sandra. Ia pun langsung pingsan di tempat.


"Aku akan mengurusnya, Kau periksa apa ada orang lain di sini." titah Irene pada Ammar. Ia turun lalu menyeret Sandra ke dalam mobil untuk di bereskan.


Sepanjang jalan menuju pintu keluar, Nara terus berwaspada. Ia berjalan sambil melihat rekaman di ponselnya. Rekaman yang sengaja ia buat agar mengingat jalan keluar.


"Pilar ini, belok kanan... hm..!!!!" Ia memberontak saat mulutnya tiba-tiba disekap dari belakang. Hanya dalam hitungan detik Nara mulai melemas dan akhirnya tak sadarkan diri.


...~~~~...


Media sosial dan Televisi kini sibuk memberitakan kecocokan antara pelaku yang tertangkap di kamera CCTV hotel dan foto di media sosial Nara. Berita sangat cepat menyeruak karena Nara pernah terjerat kasus yang sama yakni pembunuhan Neneknya.


"Ini pasti sesuai dengan rencana mereka." ucap Sam geram saat melihat berita itu berseliweran di mana-mana.


Tiba-tiba Galih menghampirinya dan menunjukkan sesuatu. "Sam.. lihat ini." Pelacak yang ada di kalung Sandra bergerak kearah yang tak seharusnya.

__ADS_1


"Cepat bergerak! Mereka dalam bahaya sekarang." Sam mencoba menghubungi Nara dan Sandra bergantian, namun ponsel mereka tidak aktif.


Sebenarnya Sam dan Galih sudah hendak mengikuti mereka tadi, namun Sandra mencegah. Karena pasti penjaga di rumah Ammar akan curiga. Kalau dia kan sudah pernah beberapakali menjemput dan mengantar Nara, jadi ia pikir takkan ada yang curiga. Ia tak menyangka semua nya akan jadi berantakan seperti ini.


...~~...


Setelah beberapa jam tak sadarkan diri, Sandra akhirnya terbangun. Namun ia mendapati dirinya terikat di sebuah kursi. Di sekelilingnya sudah berdiri beberapa Pria kekar dengan senjata mereka masing-masing. Ada palu, linggis, bogem, serta gunting besar yang biasa di pakai untuk memangkas tanaman. Tak lupa plastik bening membentang menutupi seluruh lantai.


Lalu datanglah Irene dengan langkah anggun nan jenjang khasnya. Ia mengibaskan rambut seraya tersenyum sinis. Melihat Sandra terkulai lemas sungguh membuat hatinya sangat puas.


"Apa yang membawamu mendatangi istana Ku?" Irene duduk di kursi, mengahadap Sandra sambil memajang wajah arogan nya.


Sandra diam, pertanyaan Irene tak menunjukkan tanda-tanda bahwa Nara tertangkap. "Aku hanya ingin berkunjung... " sahutnya pelan.


"mm... Begitu? Berkunjung dengan dua pistol di saku mu, itu sangat tidak sopan Sandra." ia tersenyum lebar, ia merasa bahwa Sandra sangatlah bodoh.


"Detektif memang harus selalu membawa pistol mereka, untuk berjaga-jaga siapa tau bertemu dengan buronannya."


"Jadi kau mendatangi rumah ku untuk bertamu atau mencari buronan?"


"Maafkan Aku, Aku tau Aku lancang. Sekali lagi maafkan Aku ...nyonya Irene Louise?" Sandra seperti menantang Irene dengan tatapannya.


Senyum Irene langsung pudar saat Sandra menyebut nama aslinya. Ia mengambil linggis dari salah satu pengawalnya, kemudian mulai mengayunkan.


"Bunuh saja Aku, Kau akan tetap tertangkap karena Kami sudah mengantongi bukti kejahatan mu. hahahaha...." Sandra menyempatkan tertawa lega, kapan lagi? Ia sudah pasrah jika memang harus mati hari ini.


"Dengan senang hati..." sahut Irene tersenyum lebar. Entah benar atau tidak ucapan Sandra, yang pasti ia takkan melewatkan kesempatan yang sangat asik ini.

__ADS_1


...**************...


__ADS_2