Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 60 : Salah jalan


__ADS_3

Di ruang interogasi, Galih dan Noah saling melempar tatapan jengah. Dari awal Galih sudah menduga Noah pasti tidak akan diam saja.


"Aku tidak menyangka akan duduk denganmu di tempat ini." ucap Galih memandangi sekeliling ruangan. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Sekalinya bertemu di tempat yang sangat tidak ramah.


"Ibu mu sehat? Kira-kira Lima atau Tujuh tahun kita tidak kumpul seperti ini." balas Noah dengan senyum masam.


"Dia sehat, Ibu mu dan Pria busuk itu pasti sedang melepas rindu sekarang di akhirat."


"Kau menyebutnya pria busuk? Dia Ayah kandung mu juga." Potong Noah tertawa kecil, ya mereka adalah saudara kandung beda ibu. Galih anak dari istri sah, sementara Noah anak hasil perselingkuhan. Namun sayangnya Damar malah menceraikan Ibunya Galih dan memilih tinggal bersama wanita selingkuhan nya.


"Cukup reuninya, sekarang jawab pertanyaan ku. Apa Kau sengaja merencanakan pembunuhan terhadap Tuan Ammar?"


"Kau hanya mengintrogasi ku? Ammar lah yang membunuh Papa kita. Dia dan istrinya bahkan membunuh ibu ku lebih dulu, laku kenapa Aku yang di perlakukan seperti pembunuh?" Kilah Noah tak terima. Ia hanya ingin membuat Ammar menerima akibat dari perbuatannya.


"Kau punya bukti kalau Tuan Ammar ikut membunuh? Semua bukti yang di temukan rekaman CCTV, pisau dan lainnya. Tak ada yang menunjukkan bahwa Ammar terlibat dalam pembunuhan orang tua mu!"


"Tapi bukti kalau Kau menabrak dan menyekap Tuan Ammar, bahkan menodongkan pistol ke arahnya sangat jelas." Imbuh Galih dengan wajah emosi.


"Tapi dia benar-benar membantu wanita psikopat itu!"


"Kau punya bukti?!" Galih melempar wajah jengah, Noah terlihat sengaja mencari-cari kesalahan Ammar.


"Jawab saja pertanyaan ku, jangan menyebutkan kesalahan orang lain. Karena kita di sini untuk membahas kesalahan mu."


Noah terdiam, dua saudara itu saling menatap tajam bak dua ekor elang yang siap menyantap mangsanya.


...~~~...


Di rumah sakit...

__ADS_1


Ammar terbaring dengan perban melilit kepalanya. Beberapa jahitan juga terdapat di bahu akibat kecelakaan yang di buat Noah. Ia terbaring sambil terus menatap Nara yang tengah mengupas kan buah untuknya.


"Kau memikirkan sesuatu?" ia mendapati wajah sang istri seperti menyimpan banyak pertanyaan.


"Tidak..." sahut Nara, padahal memang benar banyak sekali yang di pikirannya.


"Jangan bohong, tanyakan saja. Aku tau kau penasaran akan sesuatu..."


"Aku penasaran kenapa Kau bisa bebas padahal ikut membereskan hal gila yang di lakukan Irene. Bagaimana caramu melakukannya tanpa meninggalkan jejak? Apa Kau sengaja bermain rapi agar suatu saat hanya Irene yang menanggung semua nya?" Nara mencecar pertanyaan itu hingga membuat Ammar ternganga.


"hhh..." Ammar tertawa kecil melihat wajah bingung Nara. Tadi bilang tak memikirkan apapun. Eh sesaat kemudian langsung menyerobot berbagai pertanyaan bahkan saat Ammar belum selesai bicara.


"wah.. Kau bisa tertawa?" jengah Nara merasa di ledek. Ia tau otaknya tak sebegitu pintar untuk menebak apa yang di lakukan Ammar hingga namanya bisa tetap bersih.


"Bukan Aku yang melakukannya tanpa jejak. Memang dari awal Irene lah yang selalu membuang semua bukti yang menyangkut tentang ku, dan dia sengaja meninggalkan beberapa bukti dirinya di beberapa kejadian. Seperti potongan rekaman, jejak, dan lainnya. Sisanya ia menyimpan semua barang bukti di ruangan bawah tanah."


"Dia begitu mencintaimu sampai menghapus semua jejak mu?" Nara masih tak mengerti.


Nara merinding seluruh badan mendengar pengakuan Ammar. Ternyata ia benar-benar hanya di jadikan alat untuk membalas dendam. Apalagi mendengar Neneknya di bunuh hanya sebagai umpan, membuat Nara sedikit menyesal karena telah menyelamatkan Ammar tadi.


"Sangat gila bukan? Kau pasti menyesal karena menyelamatkanku tadi." Ucap Ammar sambil terus mengunyah. Ia terasa sangat lapar karena kehilangan banyak tenaga.


"Kalian memang gila. Bahkan Kau bisa dengan tenang menceritakan motif mu di depan ku sebagai pelaku dan korban. Tanganku bahkan langsung dingin karena merinding, tapi Kau bisa-bisa nya makan dengan lahap." Umpat Nara geram. Andai ia memiliki keberanian, maka kulit Ammar juga akan ia kupas malam ini juga.


"Aku sudah sangat menyesal Nara, Aku berjanji akan melindungi mu mulai sekarang." Wajah Ammar tetap saja datar, tak ada tanda-tanda penyesalan. Padahal hatinya sangat tulus telah menyesali semuanya.


"Melindungi apanya! Justru Kau lah yang harus ku waspadai." gumam Nara pelan.


Sambil tetap mengupas buah apel, ia merutuk sendiri. "Malang sekali nasibmu Nara, di jebak dan di tipu lewat pernikahan. Bahkan kau menjadi istri kedua tanpa sepengetahuan mu."

__ADS_1


Ammar menarik kursi yang di duduki Nara ke hadapannya. Dengan posisi duduk di tepi ranjang, ia menatap lekat wajah Nara.


"Sekarang Kau satu-satunya..." bisik Ammar.


Kedua tangan Nara mematung dengan pisau dan buah. Ia terkurung oleh lengan Ammar yang menggenggam erat kursi tersebut.


"Jangan lupakan kesepakatan kita..." ujar Nara pelan, ia mengingatkan bahwa mereka akan tetap bercerai nanti.


"Kenapa Kau bersikeras menceraikan ku? Tidak ada niatkah Kau untuk memulai sesuatu denganku?" tanya Ammar berbisik, nafas beratnya membuat helaian rambut Nara bergoyang pelan.


"Aku sudah terlanjur memulainya Ammar, maka dari itu Aku harus mengakhirinya." Garis yang ada di jalan Nara dari awal sudah tidak wajar untuk di lanjutkan. Maka tidak ada alasan baginya untuk tetap di jalan itu sekalipun tujuannya sudah berbeda. Ia harus segera menyelesaikan garis di jalan ini, lalu memulai garis baru di jalan yang berbeda.


"Kita akan tetap sering bertemu kan?" Ammar mengamati wajah Nara yang memalingkan pandangannya.


"Pasti... Karena Aku ingin anak ini mendapatkan kasih sayang dari mu juga."


Tetap bertahan di pernikahan tak di inginkan ini, bukan lah suatu hal yang bagus sekalipun dengan alasan demi kebahagiaan anak. Justru kebahagiaan nya lah yang terpenting. Ia harus lebih dulu bahagia jika ingin anaknya tumbuh bahagia. Menerima kasih sayang utuh walaupun tidak tinggal bersama juga bisa. Mereka bisa bahagia dengan jalannya masing-masing.


"Aku sangat berterimakasih padamu..." Ammar mengusap pelan puncak kepala Nara. Dengan segala kejahatan yang telah ia lakukan, pasti tidak mudah untuk membuat keputusan untuk mempertahankan bayi mereka.


"Darahmu naik Ammar..." ucap Nara sambil menepiskan kepalanya. Ia melihat darah di selang infus mulai menjalar karena Ammar mengangkat tangannya.


"hah..?" Ammar terkejut saat tangannya di tepis oleh Nara.


"Bisa lepaskan kursi ku? Kau harus beristirahat yang benar agar infusnya berjalan dengan baik."


"Maaf.." Ammar langsung melepaskan kursi yang ia pegang sedari tadi. Wajahnya memerah saat di tatap balik oleh Nara. Ia menepis gemuruh di dada secepat mungkin.


"Efek obatnya sungguh buruk." keluh Ammar sambil mengipaskan telapak tangan ke wajah.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2