
Kamar suite 1003, Pria hidung belang itu terjerat oleh jebakan Irene. Ia membunyikan bel, tak lama Irene membukakan pintu.
"Aku membuatmu menunggu?" ucap Pria itu, ia langsung masuk dan mendekati Irene.
Irene membuka jubahnya, meninggalkan gaun berwarna merah terang yang menonjolkan keseksian tubuh moleknya.
"Aku ingin memastikan satu hal sebelum Kita bermain." Goda Irene dengan kedipan matanya.
"Apa itu..?" sahut si Pria hidung belang.
"Kenapa Kau kesini padahal Kau memiliki istri dan anak? Apa istrimu tidak menarik lagi?"
"Apa..?" Pria itu tampak terkejut, dari mana Irene tau kalau dia sudah berkeluarga? Selama ini ia selalu main-main dengan wanita menggunakan status pria lajang.
Irene tersenyum, ia memainkan pisaunya di balik punggung. Entah ke surga atau neraka, yang pasti ia sangat ingin melenyapkan pria seperti itu dari muka bumi.
...~~~...
Saat Ammar pergi ke kantor, Nara menjalankan misinya. Yakni mengetahui isi ruangan dengan pintu besar yang ada di bawah tanah. Ia sudah memegang kunci duplikat yang di buatkan oleh Sam.
Untuk mengambil sampel kunci saja kemarin ia deg-degan setengah mati. Sekarang rasanya jantung Nara seperti memberontak dari balik tulang rusuk.
"Apa yang kalian sembunyikan disini..." gumam nya. Ia meraih gembok besar yang melingkar di tuas pintu. Membuka nya perlahan.
Setelah gembok terbuka, Nara mendorong pintu besar itu dengan sekuat tenaga. Bau basah dan anyir menyergap hidungnya, bau itu sangat kuat dari dalam sana.
Nara menyalakan senter di ponselnya, ia tak tau di mana letak saklar lampu. Tangan sebelah kanannya sudah berjaga-jaga dengan alat kejut listrik.
Langkah Nara terhenti saat melihat beberapa baju tergantung dengan percikan darah. Pisau juga berjajar di sana. Seluruh tubuh Nara langsung gemetar panas dingin. Apa yang ia lihat itu?
Ia merekam keseluruhan ruangan itu, dengan tangan gemetar ia meraih salah satu pisau dan mencium darah yang ada di sana. Bau darah asli.
"Siapa kalian sebenarnya..?" bisik Nara ketakutan.
Saat berbalik, tanpa di sadari kamera Nara menangkap gunting yang tergantung di sebuah dinding. Ia sampai menjatuhkan ponselnya saat mengenali gunting itu sangat tidak asing.
__ADS_1
"Tidak.. tidak mungkin." ia mencoba mengambil ponselnya yang terjatuh. Kemudian mengamati lagi gunting itu. Tergantung tepat di atas foto pernikahannya dengan Ammar.
Nara menangis sejadi-jadinya, nafas nya terasa sesak sampai hampir kehilangan kesadaran. Ia mematung ketakutan. Ia membenarkan kecurigaan Sam terhadap Ammar dan Irene. Bagaimana bisa ia ditipu, di jebak dan di peralat habis-habisan oleh dua iblis yang memakai topeng malaikat penolong.
"Jadi ini rencana kalian..? Kalian sengaja membunuh Nenek dan menjebak ku?" isak nya tak henti-henti. Tangisnya menggema di ruangan itu.
Setelah menenangkan diri, ia menguatkan kaki untuk melangkah keluar dari sana. Ia harus memberitahu ini pada Sam. Hanya para Detektif itu yang mungkin mampu menyelamatkannya dari jebakan iblis ini.
...~~...
Brakk...!
Nara membuka pintu kantor Sam amat kuat. Ia berlari langsung menuju meja Sam dengan mata merah penuh ketakutan yang menjalari sekujur tubuhnya.
"Nara..? Ada apa?" Sam berdiri dan menghampiri Nara. Melihat kondisi Nara yang berantakan membuatnya sangat khawatir.
"Ajari Aku memakai pistol..." Ia menatap penuh harap, seolah meminta Sam untuk melindunginya.
Sam menunduk, mengamati wajah wanita yang amat malang itu.
"Ada apa? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?"
Sam mengambil ponsel Nara, kemudian memanggil Sandra dan Galih untuk melihat rekaman itu melalui komputer.
Sementara Nara duduk di kursi sambil menangis memeluk kedua lututnya. Kenapa harus dia? Kenapa harus Neneknya?
Disela-sela mereka tengah mengamati video itu dengan seksama, tiba-tiba berita tentang pembunuhan muncul kembali di televisi.
"Berita siang ini, pembunuhan kembali terjadi di hotel Mutiara . Korban memiliki tiga luka tusuk dan dipastikan pelakunya adalah si pembunuh berantai. Kali ini CCTV hotel berhasil menangkap seorang wanita yang keluar dari kamar 1003 pada pukul 00:30 malam. Polisi masih menyelidiki pelaku dan....."
Berita sela itu membuat kepala mereka bertiga langsung berpindah ke arah televisi. Termasuk Nara yang menghentikan tangisnya.
"Irene...?" gumam Nara saat melihat potongan rekaman CCTV hotel yang ditayangkan. Walaupun hanya beberapa detik dan tidak terlalu jelas, Nara yakin itu Irene. Ia mengenali mantel kulit berwarna cokelat itu. Ia melihat Irene mengenakannya semalam saat pergi dari rumah. Tinggi badan dan gaya nya berjalan juga sangat melekat di ingatan Nara.
"Kau yakin itu Irene?" Sam mendekati Nara yang mematung. Ia bahkan tak bisa melihat jelas wajah pelaku, bagaimana bisa Nara langsung mengenali si pelaku dari potongan video 3 detik.
__ADS_1
"Dia membelikan ku mantel yang sama saat pulang dari jepang." Nara mulai berpikir, apakah Irene sengaja menampakkan dirinya di CCTV dan mengkambing hitamkan dirinya lagi?
Nara langsung membuka sosial media nya. Ia pernah mengunggah foto saat mengenakan mantel itu.
"Apa yang Kau lakukan?" tanya Sam saat melihat Nara hendak menghapus foto itu.
"Mereka pasti hendak menjebak ku lagi Sam, Aku harus segera menghapus ini."
"Jangan..! Beberapa orang pasti mengingatnya, kalau Kau menghapus foto ini sekarang publik hanya akan semakin curiga." Sebagai istri konglomerat, pengikut media sosial Nara melonjak drastis terutama saat ia pernah di beritakan sebagai pembunuh lalu di bebaskan. Sam tak mau tindakan Nara menjadi bumerang nantinya.
Terbesit pula di ingatan Sam, mungkin inilah yang dimaksud oleh Ammar kemarin saat menyerahkan buku jaminan hari tua milik Neneknya Nara. Jika begitu, artinya secara tidak langsung Ammar benar-benar ingin melindungi Nara. Lalu apa semua ini? Sam di buat kehabisan akal memikirkan semua ini.
"Lalu Aku harus bagaimana...?" Segudang gelisah jelas tergambar di mata Nara.
"Mau ku ajari memakai pistol sekarang?" Sam mengajak Nara untuk kursus dadakan. Ia menyusun rencana bagaimana cara agar Nara tetap bisa aman. Walau bukti sudah ada, mereka tidak boleh gegabah.
Bertahun-tahun pembunuh itu bisa meloloskan diri dengan mudah. Mereka butuh taktik yang kuat untuk melumpuhkan Psikopat itu.
...-...
...-...
Di rumah pukul 16:00....
Setelah seharian mencari, akhirnya Ammar berhasil membawa pulang Irene. Ia melihat berita hari ini. Dan sangat menyayangkan perbuatan Irene.
"Sudah berapa kali ku katakan, jangan ceroboh! Kau lihat? Sekarang publik sedang gempar karena Kau tertangkap CCTV..."
"Melakukan sesuatu tanpa rencana, Kau pikir Aku orang seperti itu?" sahut Irene memangkas perkataan Ammar. Ia mengangkat satu alisnya dengan senyum licik yang sangat khas.
Ammar geram, ia meremas kedua bahu Irene sambil mengeraskan rahangnya. "Apa lagi yang Kau rencanakan kali ini?"
Irene tetap tersenyum, bukannya menampik ia malah merangkul leher Ammar dengan amat lembut. "Aku akan membunuh Damar malam ini." bisik nya. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi bersembunyi sebagai anak sulung Pimpinan. Ia ingin segera menunjukkan diri bahwa dialah istri Ammar.
Di waktu yang bersamaan, Sandra mengantarkan Nara pulang ke rumah untuk mengambil surat kontrak pernikahan. Itu akan sangat berguna sebagai barang bukti bahwa Nara hanya diperalat.
__ADS_1
Sandra berjaga di mobil, ia akan menelpon Nara saat Ammar atau Irene pulang. Sementara Nara masuk ke rumah dengan pistol di saku dress-nya. Ia melihat tak ada mobil Ammar di depan, ia pun sangat yakin bahwa Ammar ataupun Irene belum pulang.
...*********...