
Berhubung ini akhir pekan, Ammar ingin mengajak Nara dan mertuanya rekreasi. Hitung-hitung menepati janji pada sang Ayah mertua yang tidak jadi jalan-jalan karena ia harus menemani Nara membeli pakaian kemarin.
"Memangnya Kau tidak sibuk?" tanya Nara sambil bersiap. Ia sedang memilih baju luar untuk melapisi dress-nya.
"Tidak." sahut Ammar datar. Dengan santainya ia membuka baju di sebelah Nara. Ia juga hendak mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.
"Hei..! Kenapa Kau membuka bajumu di sini..!" pekik Nara, ia membuka pintu lemari untuk menghalangi penampakan di sebelahnya. Entah kenapa dia menyetujui untuk memakai lemari yang sama.
"Lalu di mana? Balkon?" sahut Ammar cuek. Ia tak menyadari sifatnya itu membuat Nara berpikiran negatif. Nara menyangka ia sengaja melakukan itu untuk menggoda. Padahal aktifitas seperti itu sudah lumrah untuk suami istri.
"Tidak bisakah Kau bawa baju mu ke kamar atas juga?" rutuk Nara, ia masih menyembunyikan wajahnya di balik pintu lemari.
Brakk!! Ammar menutup paksa pintu lemari yang di tahan Nara. Reflek Nara memejamkan matanya serapat mungkin.
Padahal Ammar sudah memakai baju, namun ia diam saja dan malah memperhatikan wajah Nara. Lesung pipinya samar terlihat, alis yang begitu indah membingkai. Serta jajaran lentik yang memayungi kelopak mata. Indah sekali... membuat Ammar ingin menghentikan waktu saat ini.
Karena hening, Nara berpikir Ammar sudah pergi. Ia pun membuka matanya, seketika Ammar langsung menarik mundur tubuhnya dengan cepat.
"Kau masih di sini? Ku pikir Kau sudah pergi tadi.." ucapnya terbata, seraya menghindari kontak mata dengan suaminya itu.
"Aku terkurung tadi..." lirih Ammar sambil mengusap tengkuknya pelan.
...~~~...
Sampailah mereka di salah satu danau wisata. Air berwarna biru muda begitu menyejukkan mata. Tatanan pohon cemara serta hamparan rumput luas membuat kesejukan begitu sempurna.
"Dimana umpannya?" tanya Pak Arul. Ia sudah siap dengan joran dan kursi lipat nya.
"Sebentar.." sahut Ammar, ia tengah mengambil beberapa joran dan tikar untuk Nara.
Sementara Nara sudah berjalan lebih dulu dengan makanan serta camilan yang mereka beli di perjalanan tadi. Untung saja ini akhir bulan, jadi tak terlalu ramai. Dulu saat bersama Irene, Ammar selalu tidak kebagian spot memancing karena banyak wisatawan yang datang di awal bulan.
Tak berselang lama, sebuah mobil berwarna hitam parkir di jalur belakang. Pengemudi mobil itu pun turun dan melangkah pelan.
"Duduklah.. " Ammar membentangkan tikar. Angin sepoi-sepoi menyapa mereka menambah suasana damai.
"Ternyata Kau juga tau tempat-tempat seperti ini. Pasti Kau pernah ke sini sebelumnya kan?" tanya Nara dengan nada sedikit protes.
__ADS_1
"mm.., Kau cemburu karena tak mau Aku mengenang masalalu?" bisik Ammar.
"chh..! Pikiranmu tidak masuk akal." bantah Nara dengan bibir terangkat. Untuk apa dia cemburu pada masalalu yang menurutnya kelam itu?
"Kau yakin di sini banyak ikannya?" tanya Pak Arul mulai jenuh. Umpan yang ia lemparkan hening saja sedari tadi.
"Yakin, Aku selalu mendapatkan banyak." Ammar ikut melempar kail. Ia duduk di tikar sementara si Ayah mertua duduk di sebelahnya menggunakan kursi.
"Benarkah? Ternyata Kau pernah kesini. Apa bersama istri pertamamu?"
Ammar hendak menjawab, namun ia mengurungkan niat saat melihat wajah Nara. Wajah yang tampak tenang namun seperti siap menghanyutkan.
"Apa Kau kesini untuk mengenang istri pertamamu?" tambah Pak Arul lagi, ia tak tau kalau menantunya sedang panas dingin mendengar pertanyaan itu.
"Ayah.. Berhentilah menanyakan soal istri pertama ku. Kau tidak lihat wajah putrimu itu?"
"Kenapa? Ada apa dengan wajahku?!" ketus Nara, ia mengunyah camilan dengan amat ganas. Bukannya cemburu, ia hanya merasa kesal. Bukankah tidak sopan terus membahas istri pertama sementara dirinya bisa mendengar dengan jelas.
"sss.. benar, dia seperti hendak memakan mu." ledek Pak Arul malah membuat bibir Nara semakin mengerucut.
"Lihat matanya, Aku yakin dia memiliki raut itu darimu." bisik Ammar. Dia tidak sadar kalau wajahnya bahkan lebih menyeramkan.
"Berhentilah membicarakan ku..!" sewot Nara membelalakkan matanya.
"Yang anak Ayah Aku atau dia? kenapa Ayah terus menggunjing ku?" seloroh Nara tak terima. Cemburu dong, Ayahnya malah lebih berpihak pada Ammar.
"Kalian berdua anak Ayah sekarang."
"Kau kan sudah punya Aku, biarkan Ayahmu memberi perhatiannya untukku. Kau tau sendiri Aku anak sebatang kara." tambah Ammar. Ia melempar tatapan meledek pada Nara. Alhasil Nara semakin memajukan bibirnya.
"Lihatlah kakek mu nak, dia sangat berpihak pada Pria kaku itu." gerutu Nara pelan, Ammar dapat mendengar walau tak terlalu jelas.
"Pria kaku ini Papanya..." balas Ammar berbisik pula.
"Kau tak pantas di sebut begitu." Nara tak mau kalah. Ia sudah terlanjur kesal, entahlah hari ini mood nya sedang tidak baik.
"Kenapa? Karena Aku membuatnya dengan cara paksa?"
__ADS_1
"Wah.. Kau bahkan membicarakan itu seolah-olah itu prestasi. Aku korbannya disini, korban penipuan, korban jebakan dan korban rud4paksa. Kau malah membicarakan itu dengan santainya, dasar Pria tak berperasaan." rutuk Nara bertambah jengah.
"Maaf.. Kalau begitu Aku akan mencoba menggunakan perasaan lain kali." sahut Ammar. Ia malah gemas melihat Nara mengoceh seperti itu. Selama ini dia hanya mendebatkan soal pembunuhan dan harta warisan. Ternyata berdebat untuk hal seperti ini cukup menyenangkan.
"Jangan coba-coba menggunakan perasaanmu, Aku tidak punya tempat untuk itu." lirih Nara melempar tatapan tajam.
Dari kejauhan, sepasang mata dari balik topi hitam tengah memperhatikan mereka lewat teropong. "Kau hidup sangat tenang sekarang?" lirih orang tersebut dengan suara berat.
...~~~...
Setelah dua jam berkutat di komputer, Sandra berhasil meretas sistem keamanan CCTV di rumah duka, gedung tempat jasad Irene bersinggah sebelum ke pemakaman.
Sam memperhatikan detail setiap detik yang terekam saat hari pertama jasad Irene memasuki gedung tersebut. Tak ada yang aneh, semua berjalan dengan semestinya.
"Tidak ada apa-apa di sini." ucap Sandra mengutak-atik segala arah yang terekam.
Sam mengepalkan tangannya di atas meja. Itu semakin membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang janggal. "Tentu saja, semua yang Kita cari ada di rekaman yang di hapus itu."
"Bagaimana ini? Kita berhadapan dengan jalan buntu." ucap Sandra.
"Temukan siapa perias mayat di gedung itu, dan cari siapa yang bertugas saat jasad Irene datang ke sana."
Sandra menuruti perintah sang kakak.
"Kita akan melakukan pembongkaran makam jika di perlukan."
...~~~...
"Aku akan melakukan pembongkaran makam." ucap Ammar pada Nara, kerisauannya akhir-akhir ini membuatnya mengambil keputusan tersebut.
"Untuk apa? Kau mau melakukan autopsi?" Tentu saja Nara terkejut, alasan macam apa yang membuat Ammar mengambil tindakan itu? Kematian Irene sudah sangat jelas karena tembakan. Jadi ia pikir tak perlu lagi membongkar makam.
"Aku hanya ingin memastikan."
"Memastikan apa?" Nara semakin tak mengerti.
"Yang terkubur di sana, benar-benar Irene atau bukan."
__ADS_1
Seluruh tubuh Nara langsung merinding, baru kemarin ia dan para Detektif membahas kematian Irene. Apa jangan-jangan kecurigaan para Detektif tentang Kematian yang di palsukan itu benar? Lalu siapa yang ia lihat di peti mati itu? Kembaran Irene? Tidak masuk akal sekali.
...~~~...