
Para petinggi tampak menghadiri upacara pemakaman Direktur ED corporation. Damar sebagai orang yang paling dekat dengannya di percaya menjadi kepala penyambut para pelayat.
Demi membangun relasi dan pandangan publik. Ammar dan Irene pun datang ke upacara pemakaman itu. Tak seperti orang lain yang berpakaian hitam, Irene malah mengenakan setelan berwarna kuning terang yang membuat dirinya paling menonjol di antara pelayat. Di tambah riasan tebal serta warna lipstik merah terang. Penampilannya sungguh mencolok.
Ia dan Ammar bergandengan memasuki arena upacara pemakaman. Di sambut hangat oleh keluarga dan juga Damar di sana.
"Irene.. Kenapa pakaian mu begitu?" bisik Damar, ia bersikap santai karena usia nya sama dengan orang tua mereka.
"Kenapa? Apa ada larangan khusus?"
"Kau tidak menghormati keluarga yang sedang berduka." ketus Damar lagi..
"Memang tidak." Irene beranjak begitu saja.
Ammar mengambil setangkai bunga, kemudian meletakkannya di sebelah peti jenazah. Di susul Irene yang juga meletakkan bunga.
"Malang sekali nasibnya..." ujar Irene, namun ia tersenyum tak menunjukkan rasa prihatin.
...~~...
Sam dan yang lainnya menambahkan lagi satu daftar korban yakni Direktur ED corporation. Entah bagaimana semua korban berkaitan dengan Damar. Namun sampai sekarang mereka tak bisa menemukan titik terang bahwa Damar lah pembunuh berantai itu.
"Jika benar Kau yang melakukan nya. Aku tidak akan melepaskan mu!"
Sam merasa sangat kecewa, bagaimana bisa orang yang menjebak Ayah mereka malah hidup bebas menjadi monster mengerikan.
__ADS_1
Kejadian yang menewaskan orang tua Ammar, sepenuhnya di limpahkan kepada Pak Jasman (Ayah kandung Sam dan Sandra) selaku manajer yang memegang gedung pertemuan 20 tahun silam. Polisi menemukan penyebab kebakaran dari aliran listrik yang seharusnya belum bisa di pakai.
Pada hari kejadian, listrik di gedung pertemuan sedang dalam perbaikan, perbaikan itu sudah hampir selesai dan teknisi sendiri mengatakan listrik sudah bisa di pakai dengan syarat tidak membebani terlalu berat, seperti menggunakan alat yang membutuhkan tenaga lebih dari 5000 kWh.
Jasman yang tadinya berniat memakai tenaga bantu untuk listrik pun mengurungkan niatnya, lagi pula anggaran akan terlalu besar jika ia menggunakan alat bantu. toh acara hanya pertemuan antar pebisnis yang membagi relasi.
Untuk acara seperti itu, yang di butuhkan hanya lampu, AC dan microphone. Jasman meyakini betul itu takkan lebih dari 3000 kWh.
Namun saat acara baru berjalan setengah jam, ledakan besar tiba-tiba terjadi dari ruang kontrol listrik. Dan kebetulan dua pasangan yang tak lain Denias dan Erland beserta istri mereka tengah bersiap di ruang khusus. Ledakan dahsyat langsung menghancurkan ruangan itu karena jaraknya sangat dekat, selebihnya hanya kobaran api yang menyambar ke seluruh gedung hingga semua orang berhasil menyelamatkan diri kecuali Dua pasangan yang tewas yakni Pimpinan dan wakilnya beserta istri mereka.
Insiden tersebut pun akhirnya di tanggung Jasman dengan tuduhan kecerobohan. Karena menewaskan 4 orang, kelalaian, dan menyebabkan puluhan orang trauma akhirnya Jasman di vonis hukuman 30 tahun penjara.
Itu sebabnya Sam dan Sandra bersikeras mengulik kembali kasus ini untuk membersihkan nama baik Ayah nya. Mereka mengumpulkan bukti yang dulu tidak sempat di kumpulkan oleh pengacara. Membuka kasus yang sudah lama terkubur, itu lah tujuan utama Sam dan Sandra membuka kantor sendiri.
Namun tak di sangka mereka di pertemukan dengan Nara yang seolah membawa garis jelas antara pembunuhan dan tragedi 20 tahun silam.
...~~~...
"Kenapa dia..?" tanya Nara, ia menghampiri Irene yang sedang menengguk air dingin di dapur.
"Entah lah, suasana hatinya selalu seperti itu. Tak bisa di tebak." sahut Irene, ia tersenyum. Namun senyum nya juga tampak pahit.
"Tadi Aku melihat-lihat sekitar rumah.." Nara mencoba membuka obrolan.
"Rumah ini sangat membosankan bukan?" Ucap Irene menanggapi.
__ADS_1
"Aku melihat lukisan Micky mouse di lantai tiga, Anda yang melukisnya?" rasanya aneh, tidak ada anak kecil di rumah itu. Tapi kenapa ada lukisan karakter kartun?
Irene menarik kursi bar, kemudian duduk. Ia tersenyum sejenak karena bisa merasakan rasa ingin tahu Nara.
"Lukisan itu di buat oleh Ammar, mungkin sekitar 10 tahun yang lalu."
"hah..?" Mata Nara melebar, ia tak percaya mendengar itu.
"Dari kecil dia sangat menyukai Micky mouse. Tikus pintar, periang, serta mempunyai banyak teman. Ammar sangat menggemari kartun itu. Namun sekarang Ammar berubah. Ia tak lagi menyukai Micky mouse sejak beranjak dewasa."
Nara hening sesaat, lalu apakah sekarang Ammar membenci karakter Micky mouse? itu kah sebabnya Ammar memanggilnya tikus pengganggu.
"Itu sebabnya dia selalu memanggilku tikus..." lirih Nara monoton.
"Tapi melihat dia tak mau membuang lukisan itu, dalam hatinya pasti masih sangat menyukai Micky mouse. Mungkin saja ia memendam, atau dia sendiri tak menyadari."
Sikap Ammar yang amat tertutup membuat Irene juga tak bisa memahami. Ammar memang terbuka akan beberapa hal, namun soal bagaimana perasaan pribadinya, apakah dia bahagia atau tidak. Apakah ia nyaman atau tidak, Ammar tak pernah mengatakan itu. Hingga tanpa sadar itu membuat Irene melakukan semua hal atas kehendaknya, memperlakukan Ammar dengan baik menurut sudut pandang nya saja.
...~~~...
Setelah sekian lama mencari tahu, akhirnya Irene menemukan manajer gedung yang 20 tahun lalu di tuduh atas kelalaian yang menewaskan orang tua nya. Orang itu tak lain adalah Jasman yang sampai sekarang masih mendekam di penjara.
Sam lah yang menutupi identitas Ayah nya, itu sebabnya Irene kesulitan mencari tahu. Ia sangat yakin Jasman hanyalah kambing hitam yang sengaja di jebak oleh Damar.
Sementara Sam, ia berusaha menutupi identitas Ayahnya karena takut kasus ini diulik kembali, jika di pertimbangkan memakai hukum yang berlaku saat ini. Maka bisa saja Ayahnya di hukum mati. Ia takut jika suatu saat Anak para korban menuntut dan menyalahkan Ayahnya.
__ADS_1
...*************...