
Di bantu dengan kursi roda, Nara memasuki rumah. Satu minggu mereka di Singapura berlalu begitu saja, tanpa ada shopping, jalan-jalan, apalagi icip-icip hidangan khas sana. Yang mereka dapat hanya kenangan menyeramkan yang hampir menghilangkan nyawa Nara.
"Maaf Karena tak sempat mengajak mu berkeliling." lirih Ammar menarik nafas, padahal ada banyak wacana yang hendak ia lakukan bersama Nara. Namun semuanya malah tak kesampaian.
"Aku kan ikut denganmu atas perintah mu, jadi tidak usah merasa bersalah karena tak bisa mengajakku berkeliling, Aku tak mengharapkannya juga."
"Kau ketus sekali.." balas Ammar, ia membalikkan kursi roda Nara ke hadapannya.
Nara mendongak, melemparkan tatapan kesal.
"Kau tidak sadar seberapa ketus saat pertama kali bertemu denganku? Kau bahkan lebih parah dariku."
"Jadi Kau sedang balas dendam?"
"Iya..!" sahut Nara bertambah ketus.
Ammar melipat dahinya, tak biasanya Nara bertingkah seperti itu. Dari aroma-aroma nya sih pasti ada sesuatu yang di inginkan Nara, namun tak kesampaian.
"Kau mau makan sesuatu?"
"Tidak..!" Nara membalikkan kursi roda itu sendiri, dan mengayun rodanya ke arah lift.
"Kenapa dia..?" Gumam Ammar berkacak pinggang, kenapa tikus kecil itu tiba-tiba berubah jadi sangat ganas? Apa ini pengaruh hantu laut selat malaka?
Di dalam lift Nara terus memajukan bibirnya, bagaimana tidak kesal. Ia sudah berharap Ammar menepati janjinya untuk mengunjungi Disneyland. Itu tempat impiannya sejak dulu, tapi Ammar melupakan janji itu begitu dapat telepon dari kantor.
Memang sih kondisinya pun tak memungkinkan untuk ke sana. Tapi ia kecewa saja, karena ia sudah sangat berharap, bahkan menghayal akan memamerkan hasil foto di Disneyland ke sosial medianya.
Begitu pintu lift terbuka, Nara keluar dan mendorong kursi rodanya sendiri. Tangan Ammar yang hendak membantu malah mematung seketika.
"Apa yang terjadi padanya..?"
...~~~...
Setelah selesai mandi, Nara duduk di atas ranjang sembari mengganti perban di paha nya. Kemudian ia salah fokus oleh gerakan halus yang di buat sang bayi di dalam perutnya. Perut yang sudah semakin membesar itu seperti sedang di dorong-dorong dari dalam.
__ADS_1
Nara kemudian menghitung usia janinnya, tak terasa sudah memasuki minggu ke 30. Terakhir periksa, jenis kelamin belum terlihat.
"Apapun jenis kelamin mu, lahir lah dengan sehat." bisik nya sembari mengusap-usap perut.
Terasa sedikit pilu batinnya, mengingat ia belum siap menerima anak itu sepenuhnya. Ia tak menyangka akan menjadi seorang Ibu di usia yang masih terbilang muda. Padahal dulu ia berencana, di usia ini akan melanjutkan pendidikan untuk mengambil gelar Dokter.
Bukan ia tak mau mengakui anak itu, hanya saja ia merasa sedih atas perasaannya sendiri yang masih menolak keberadaan anak itu. Perasaan bersalah pun tak luput, ia selalu meminta maaf pada bayinya.
"Maafkan Ibu, karena tak bisa memilihkan mu Ayah yang baik." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah rasa sedihnya, Ammar memasuki kamar. Nara pun langsung menyeka buliran yang menitik dari sudut matanya.
"Kau tidak mau ke rumah sakit?" tanya Ammar, ia duduk di sebelah Nara yang sudah selesai mengganti perbannya.
"Tidak perlu.." jawab Nara dengan suara parau, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan tangisnya barusan.
"Kau menangis?"
"Tidak..."
Ammar memandangi istrinya itu, walau tak terdengar suara tangis. Ia tau Nara tengah berbohong.
"Kau kenapa hm..?"
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah. Tubuhku sakit semua. Aku hanya ingin istirahat.." sahut Nara lirih.
Ammar menunduk, ia berusaha mencari wajah sang istri yang bersembunyi di balik selimut.
"Apa yang sakit? Tangan mu? Kaki mu?"
"Semuanya." Nara memegangi dadanya yang terasa sesak. Dari sana lah sumber sakitnya, dari perasaan yang terus di hantui rasa bersalah dan penyesalan.
"Kita ke rumah sakit ya.."
"Tidak usah. Aku mau istirahat."
__ADS_1
Ammar menghela nafas, ia tak tau seperti apa rasa sakit yang di tanggung oleh istrinya itu. Yang pasti sakit sekali. Semakin ke sini, ia pun semakin merasa bersalah. Andai saja ia bisa menahan diri malam itu, pasti Nara akan baik-baik saja sekarang.
Ammar membuka sandalnya, kemudian menaikkan kaki ke atas ranjang. Ia berbaring tepat di belakang punggung Nara, lalu memberikan pelukan hangat untuknya. Mungkin saja sakit yang di rasakan Nara tak akan ada obatnya. Namun ia berharap bisa memberikan Nara penenang.
"Maafkan Aku..." ucapnya berbisik, deru nafas nya pun bisa di rasakan oleh tengkuk Nara.
Nara tak menjawab, ia masih terisak pelan di balik selimut. Rasanya sangat lelah, ia hanya ingin tidur dengan nyaman dan tenang, seperti saat ini. Tanpa sadar ia menerima pelukan Ammar dengan sangat nyaman.
"Kenapa Kau melakukan ini padaku.." lirih Nara sesenggukan.
Ammar langsung membuka matanya yang tengah terpejam. "Tidak boleh?" ia mengangkat tangannya, melepaskan tubuh Nara dari kungkungan nya.
"Malam itu.., kenapa Kau melakukannya padaku?"
Kejadian itu ternyata masih tersimpan di memori Nara sebagai sebuah luka. Meski Ammar menyimpannya sebagai kenangan indah. Terlebih saat kenangan itu membuahkan hasil yang tak terduga.
"Karena Kau selalu mengusikku. Apa Kau tau, bertahun-tahun Aku tak pernah goyah dari cinta Irene. Tak ada wanita yang menandingi dirinya di pikiranku. Namun pertama kali melihatmu di hari pernikahan kita, Kau langsung mematahkan pendirian ku. Kau selalu mengusikku dengan tingkah konyol mu. Aku tak menyangka, terjerat oleh seorang gadis asing yang rela menyusuri lorong gelap hanya untuk menyelamatkan seekor tikus..."
GGRRRRRHHHH.....
Suara dengkuran tiba-tiba memutus penuturan Ammar. Seketika momen hangat itu buyar.
"Nara...?"
Ammar mendongak, membuka selimut yang menutupi wajah Nara. Wajah itu basah oleh keringat dan air mata. Ammar pun meniup wajah itu perlahan.
"Egois kah Aku jika berharap Kau tetap menjadi milikku?" Ia memeluk erat tubuh Nara sembari mengecup keningnya.
Kesabaran dan rasa kasih sayang Nara, membuat Ammar menjadi Pria paling egois. Di saat hidupnya sedang hancur, di saat semua yang tak di harapkan terjadi Nara tetap mempertahankan semuanya, dengan harapan akhir yang bahagia. Siapa yang tidak tersentuh dengan itu? Ia rela membuang semua kesempatan emas dan mempertahankan anak yang tak di inginkan itu.
Bahkan dengan sangat tidak tahu diri, Ammar berharap kasih sayang itu tertuju juga untuknya. Dengan lancang ia berharap, Nara mau membuka hatinya. Dengan sangat egois, ia berharap Nara akan tetap menjadi miliknya. Lalu dengan munafik nya, ia berjanji akan merelakan Nara melanjutkan jalan hidupnya.
Ucapan dan harapannya sangat bertolak belakang. Pelukan yang ia berikan malam ini, dengan sangat tidak tau diri ia berharap Nara menginginkan pelukan itu lain kali.
...**************...
__ADS_1
Guys.. sori yaa baru bisa Up, baru balik soalnya😅 kasih jempol yg banyak, komen dan penyemangat lainnya dong... biar stamina otor pulih😍😘😅