Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 58 : Jangan datang


__ADS_3

Ketiga Detektif yang menyaksikan berita itu pun langsung membuka berkas mereka kembali. Apa mereka melewatkan sesuatu yang mungkin meninggalkan jejak pelaku kedua?


"Kau yakin ini tidak ada hubungannya dengan Ammar?" ucap Sandra.


"Aku juga berpikir begitu, mungkin saja Ammar melempar semua perbuatannya pada Irene yang telah tewas agar nama nya bersih." Sahut Sam juga menyetujui pemikiran Sandra


Sementara Galih hanya diam, ia menggigit ibu jarinya dengan tatapan kosong. Apa yang ada di pikirannya sungguh membingungkan. Apakah mungkin seseorang yang ada dalam praduga nya benar-benar melakukan ini?


...~~...


Saat membuka mata, Nara mendapati Ammar sudah tidak ada di sana. Hanya selimut dan bantal yang terlipat rapi di atas sofa, menunjukkan bahwa Ammar sempat membereskan itu sebelum keluar kamar.


"Kemana dia..?" gumamnya seraya menggeliat.


"Nara... bangunlah, sudah jam 10. Kau melewatkan sarapan. Ibu hamil harus makan tepat waktu." Panggil Pak Arul mengetuk pintu kamar. Ia tak mau putrinya sampai melewatkan nutrisi penting pagi hari.


"IYA AYAH..." seru Nara.


"sssshhh.. Ayah tak pernah berubah." gumamnya tersenyum, membangunkannya adalah rutinitas yang tak pernah terlewat sejak dulu. Berbeda dengan sang Ibu yang akan membiarkannya tidur sepanjang hari.


Setelah mencuci muka, Nara langsung menuju ke meja makan. Pandangannya langsung terang benderang saat melihat beberapa sajian lezat di sana.


"wahh.. Ayah yang memasak semua ini?" ia duduk di kursi dengan wajah berbinar.


"Suami mu yang memasak, Ayah sangat kagum dengan keahliannya."


"HAHHH?" Ammar bisa memasak? Manusia batu itu bisa memasak? Nara benar-benar tak percaya.


"Dia sangat sempurna. Kaya, tampan dan pandai memasak. Kau sangat beruntung bisa mendapatkan suami seperti itu." Puji Ayah, ia melahap masakan bintang lima yang di buat oleh sang menantu. Sangat enak dan terasa amat mahal di lidah.


"Andai Ayah tau apa yang telah terjadi, pasti Ayah akan memaksa ku bercerai sekarang." rutuk Nara dalam hati. Dari luar Ammar memang sangat mengagumkan, namun jika teringat betapa kejam ia mempermainkan kehidupannya membuat Nara merasa terjebak di sarang harimau dan tak ada jalan keluar.


"Hanya saja wajahnya membuat Ayah merasa di intimidasi. Bukanlah seharusnya ia memasang wajah ramah kepada mertuanya?" imbuh Pak Arul menggerutu, ia merasa Ammar tidak menghormatinya.

__ADS_1


"Wajahnya memang begitu, jadi Ayah jangan tersinggung." ucap Nara mencoba membangun citra positif suaminya.


...~...


Di kantornya, Ammar sedang menelpon seseorang untuk menyelidiki siapa orang yang meniru perbuatan Irene semalam. Ia yakin orang itu pasti ingin menjebaknya.


"Aku mencurigai seseorang..." ujar Ammar. Telepon pun di tutup setelah ia menyebutkan nama orang yang di curigai.


Ammar mengambil jas nya lalu keluar dari ruangan itu dengan derap langkah yang kuat. Ternyata semua ini belum benar-benar berakhir. Sepertinya Ia harus menyingkirkan semua orang yang pernah terlibat. Ia menyesal karena pernah menyuruh Irene untuk berhenti setelah mendapatkan Damar.


Saat dalam perjalanan, tiba-tiba sebuah mobil truk berwarna putih menabrak mobil Ammar dari arah selatan. Kecepatannya tidak terlalu tinggi, namun mobil truk itu membuat mobil Ammar terseret sepanjang 30 meter.


Ammar berusaha menjaga kesadarannya di tengah wajah bersimbah darah. Ia berusaha kuat memegang setir agar dirinya tak terbentur lebih keras lagi karena mobilnya belum juga berhenti dari seretan truk.


Setelah mobil Ammar keluar jauh dari aspal, truk itu berhenti. Tiga orang turun dan langsung menyeret Ammar yang sudah tak berdaya ke dalam truk. Sedangkan dua orang lainnya membereskan mobil Ammar.


...~~~...


Nara berbaring di atas kasurnya dengan wajah gelisah. Sedari siang tadi ia merasakan sesuatu yang membuat perasaan nya tak menentu. Hingga sekarang, ia tak bisa menepis perasaan itu apalagi saat memikirkan Ammar yang tak kunjung pulang.


"Apa karena ada Ayah dia jadi leluasa meninggalkanku?" pikirnya mencoba positif, selama kehamilannya Ammar selalu protektif. Pulang kerja lebih cepat dan selalu memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Apa dia ada urusan penting? Atau lembur..?" Batin Nara menduga-duga. Ponsel sedari tadi sudah ia genggam. Namun rasa gengsi membuatnya terus mengurungkan niat untuk menelpon.


Sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung tersenyum lega saat melihat yang menelpon adalah Ammar.


"Hallo..." ucapnya pelan, padahal ingin sekali ia menanyakan sedang apa, kenapa belum pulang, dan kenapa tidak memberikan kabar sedari tadi.


[Hallo Nara....] sahut suara dari dalam telepon. Suara yang terdengar sangat asing di telinga Nara. Ia pun melihat kembali layar ponselnya, benar-benar Ammar yang menelpon. Tapi kenapa suaranya berbeda?


"Ammar..?" Panggil Nara,


[Bukan, Aku bukan Ammar. Suami mu tidak kuat untuk berbicara.] Penelpon itu tertawa di sela ucapannya.

__ADS_1


"Siapa Kau? Dimana Ammar?" Tanya Nara, ia merasa ada yang tidak beres di sana.


Dari panggilan suara, telepon di alihkan ke panggilan video oleh si penelpon. Nara pun menyetujui panggilan video itu karena penasaran apa yang terjadi.


Saat panggilan video tersambung, Nara di suguhkan dengan tampilan yang amat mengejutkan. Ammar tengah duduk di sebuah kursi dengan tubuh bersimbah darah. Tangan dan kakinya terikat. Ia di perlakukan persis seperti Irene memperlakukan Damar waktu itu.


[Hei..! Bangunlah, Kau tidak mau menyapa istrimu? Tampaknya dia sangat mengkhawatirkan mu.]


Tampak si penelpon menendang kaki Ammar agar dia terbangun. Ammar pun membuka matanya perlahan sambil merintih kesakitan.


"Noah..?" lirih Ammar saat melihat wajah iblis yang tak berbeda jauh dari Ayahnya itu.


"Ammar? Apa yang terjadi pada mu?" Nara tampak panik saat melihat kondisi Ammar.


Noah mengarahkan pistol ke kepala Ammar dan memamerkannya pada Nara. [Kalau Kau mau menyelamatkan suami mu, belum terlambat.]


"Jangan menyentuhnya!" Tekan Nara. Ia segera bersiap hendak mendatangi lokasi tersebut.


[Aku akan mengirimkan alamatnya, datanglah seorang diri jika Kau mau menemui suami mu dalam keadaan hidup.]


"Apa yang Kau inginkan?!" Jika uang, Nara akan membawakan semua uang yang ia punya dan mengambil Ammar dari sana.


[Kehancuran...]


"Jangan datang Nara! Tetaplah di sana. Jangan datang kesini..!" Ucap Ammar berusaha berteriak, namun ia tak bisa.


Telepon pun di tutup, Nara membulatkan tekad untuk mendatangi lokasi penyekapan itu. Entahlah, walaupun ia sangat membenci Pria itu. Entah kenapa ia tak mau sesuatu terjadi pada Ayah dari anaknya. Alasannya bertahan di pernikahan ini adalah agar kelak anaknya memiliki kasih sayang orang tua yang utuh. Lalu jika sesuatu terjadi pada Ammar, semua angan itu hanya akan sia-sia. Sia-sia pula ia mempertahankan pernikahannya.


Karena Noah meminta Nara untuk datang sendiri, ia pun keluar diam-diam dari rumah agar Ayahnya tak tau. Kalau sampai Ayahnya tau Ammar sedang di sekap, bisa saja semua tentang Ammar terungkap.


...***********...


Guys.. maaf ya Up nya telat. Vertigo otor dtg bertamu hari ini. ini di usahain ngetik sambil nderedek.😅 Jgn lupa jempol dan komen agar otor semangat 😘

__ADS_1


__ADS_2