Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 78 : Pernyataan


__ADS_3

Di kantornya, Ammar senyum-senyum sendiri padahal suasana ruang meeting sedang tegang. Ia membayangkan betapa menggemaskannya Nara saat menangis kemarin. Terlebih saat Nara menumpahkan semua tangis di pelukannya, momen itu melekat sangat syahdu di ingatan Ammar.


Sementara para jajaran dan karyawan di ruangan itu menatap aneh ke arah Ammar. Apa ini keajaiban dunia? Mereka tak pernah melihat Ammar tersenyum sebelumnya. Wajah sangar yang biasa mereka lihat itu kemana? Kenapa malah jadi wajah manis yang tengah tersenyum seperti anak remaja tengah jatuh cinta.


...-...


...-...


Di rumah, Nara tengah duduk di bangku taman sambil melamun. Ia menggigit jarinya sambil merenungi tingkahnya kemarin. Bisa-bisanya ia menumpahkan keluh dan tangis, bahkan bersikap manja pada Ammar. Mulut, otak dan hatinya benar-benar sudah tidak sejalan.


"Nara..." Panggil Pak Arul membuyarkan lamunannya.


"eh, Ayah... Mau kemana?" Nara mengamati Pak Arul yang mengenakan pakaian serba panjang.


"Ayah mau ke rumah Nenekmu untuk bebersih, walaupun tak di huni, Ayah tidak ingin rumah itu terbengkalai."


"Ikut..." pinta Nara girang, ia juga sudah lama tak menyambangi rumah dengan sejuta kenangan itu.


"eits.. Kau di rumah saja. Istirahat yang cukup, Ayah sudah meminta supir dan tukang kebun untuk menemani Ayah." Pak Arul tak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada putri dan cucunya.


"Baiklah.." sahut Nara lesu, ia merasa sangat bosan di rumah itu. Ammar pun sudah melarang untuk bepergian, selain dengannya.


Tak lama setelah Pak Arul pergi, telepon Nara berdering. Matanya langsung berbinar saat melihat siapa yang menelpon. Orang yang sangat asik jika di ajak ngobrol, siapa lagi kalau bukan Sam.


[Hai Nara, Kau sedang sibuk?] tanya Sam begitu telepon terhubung.


"Tidak, kenapa?" Nara merebahkan kepalanya di sandaran bangku taman.


[Ada yang ingin ku sampaikan..] ucap Sam terdengar ragu.


"Penting? Soal apa?"


[Tadinya Aku ingin memberitahumu secara langsung, tapi sepertinya sekarang Kita sudah tidak memiliki alasan untuk bertemu.]


Nara semakin penasaran, kepentingan macam apa hingga membuat seorang Detektif ingin menghubunginya sekarang. Apa jangan-jangan kasus kematian Bu Lila terungkap, dan namanya terseret?

__ADS_1


[Aku menyukaimu...] ucap Sam dengan jelas, setelah beberapa hari memikirkan, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan itu.


"Apa...?" Seluruh tubuh Nara langsung dingin, tangan yang tadinya kering menjadi lembab oleh keringat. Ia memegangi perutnya, seolah meyakinkan diri bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk ia mendapatkan ungkapan cinta.


"Kau bicara tentang apa Sam? Aku tidak mengerti..."


[Aku bicara tentang perasaan ku Nara, Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu.]


"Sam, Aku sudah menikah.." ujar Nara menampik.


[Aku tau, tapi pernikahan mu hanya kontrak bukan? Kau bahkan tidak mencintai suami mu.]


"Dan Aku sedang mengandung,"


[Aku tau, dan Aku sadar itu. Tadinya Aku hendak menunggumu bercerai, tapi Aku takut seseorang mendahuluiku.]


Butuh waktu 3 bulan lagi untuk Nara bercerai. Itu waktu yang cukup untuk seseorang mengisi hati Nara, maka itu Sam mengambil keputusan ini. Mengungkapkan perasaannya secepat mungkin, karana ia takut seseorang, atau bahkan orang yang sekarang menjadi suami Nara merebut hatinya.


Terlepas dari Nara sudah bersuami dan bahkan mengandung, itu semua hanyalah hasil jebakan yang tak dilandasi oleh cinta. Jadi ia rasa sangat pantas jika ia berharap Nara membalas perasaannya.


Tapi sungguh, ia tak mengharapkan ini terjadi. Perasaan nya yang remuk redam akibat jebakan yang di buat Ammar belum sepenuhnya pulih, ia masih belum siap menerima perasaan dari orang lain.


Sementara itu di ruangannya, Ammar yang tengah menyadap pembicaraan Sam dan Nara merasa terbakar oleh kecemburuan. Ia mengepalkan erat tangannya, lalu melepaskan earphone dari telinganya. Ia tak sanggup lagi mendengarkan obrolan itu lebih jauh. Sakit di tikam oleh pisau, ternyata tak sesakit menahan rasa cemburu. Dadanya terasa terhimpit oleh batu besar yang menyisakan rasa perih.


Yang lebih menyakitkan lagi, ia tak bisa mengutarakan kecemburuan itu. Selain anak yang ada di dalam rahim Nara, seujung kuku pun ia tidak memiliki hak untuk melarang Nara berbagi. Entah itu perasaan, tatapan, atau bahkan tubuhnya. Ia sendiri yang menyetujui perjanjian itu.


...-...


...-...


Kembali pada Nara yang masih mematung di bangku, mulutnya ingin berucap, namun hatinya bingung. Apakah ini saat yang tepat untuk menolak? Tapi bagaimana jika ternyata ini saat yang tepat untuk menerima. Sam seorang pria yang patut untuk di pertimbangkan.


"Sam... Aku.."


[Kau pasti sangat terkejut, Aku tidak akan mendesak mu untuk menjawabnya sekarang. Aku hanya berniat memberitahumu. Agar saat Kau bersedia membuka hati, Aku lah orang pertama yang Kau pertimbangkan.]

__ADS_1


"Akan ku pikirkan nanti, terimakasih telah memberiku waktu.."


Setelah beberapa perbincangan canggung, Nara pun menutup teleponnya. Ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum, tubuhnya terasa gersang akibat sangat terkejut.


"Sam.., Kau benar-benar membuat ku kacau." gumam nya sembari melepaskan batu es dari cetakan. ia bahkan menggenggam beberapa batu es lalu menempelkan telapak tangannya di pipi.


"Tapi jika di pikir pikir, di banding Ammar, Sam jauh lebih sempurna. Baik, ramah, sabar, bahkan pekerjaan nya sangat mulia. Apa ku suruh saja dia menungguku sampai bercerai?"


Di pandang dari sudut manapun, Sam memang tipe Pria ideal. Ia bahkan dengan gentle menyatakan perasaannya tanpa ragu. Wanita mana yang tidak meleleh dengan semua sikapnya?


Saat hendak mengembalikan cetakan es batu ke kulkas, ia melihat bayangan Ammar di sana. "Astaga, orang dan bayangannya benar-benar suka mengintimidasi." ia mengibaskan tangan, lalu bayangan Ammar pun hilang.


"Kenapa Aku membayangkannya? Pria itu bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa di banggakan kecuali Kau." ujarnya mengelus perut. Hanya itu jejak perbuatan Ammar yang patut di jaga.


klik..klik...


Suara pintu terkunci membuat Nara terkejut, ia tak mendengar pintu terbuka, tapi kenapa tiba-tiba pintu terkunci dari dalam?


"Ammar? Kau sudah pulang?" Nara mengerjapkan matanya untuk memastikan bahwa ini bukan bayangan.


Ammar tak menjawab, ia berjalan lurus dengan tatapan dalam ke arah Nara. Raut wajahnya menampakkan jelas rasa cemburu.


Nara mematung di tempat, ia merinding dengan raut wajah dan derap langkah Ammar. Saat Ammar sampai tepat di hadapannya, Ammar langsung menyusupkan kedua tangan di pinggang nya lalu mencIum bibirnya dengan penuh gairah.


Nara sampai gelagapan di buatnya, ia tak di beri ruang untuk menolak dan memberontak. Kedua tangan Ammar mencengkram tubuh mungilnya dengan sangat erat. Ia hanya bisa membelalak sambil berusaha mencari ruang untuk bernafas.


Kemudian dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Ammar, hingga Ammar melepaskan clumannya. Sepasang mata elang itu masih menatapnya dengan penuh keinginan. Nafasnya juga berderu berat, laju dan bergemuruh.


"Leherku sakit..." Ia melepaskan tangan Ammar dari lehernya. Perbedaan tinggi badan mereka membuat lehernya terasa nyeri karena ia terus mendongak.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ammar mengangkat tubuh Nara dan mendudukkannya di atas lemari kabinet. Tinggi mereka sejajar sekarang, kedua mata Nara yang tampak terkejut kini terlihat jelas.


Ammar melanjutkan gairahnya yang terpotong. Ia melampiaskan hasrat yang sudah tertahan lama itu. Kedua tangannya pun bergerak membelai lembut perut Nara, lalu perlahan naik ke atas menjajahi tempat yang selama ini hanya bisa ia perhatikan.


Nara berusaha menahan kedua tangan kekar itu, namun percuma, tangan itu bergerak sesuka hati tanpa menghiraukan ia yang berusaha mencegah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2