
"Lihatkan..? Aku benar-benar Ayahnya.." Pak Arul mengacungkan jari pada Ammar. Ia masih mengingat sikap ketus Ammar tadi.
"Dia pasti memarahi Ayah kan?" isak Nara, tidak mungkin Ammar menyambut baik orang asing.
"Dia bilang Ayah orang gila yang butuh uang.."
"Apa..?" Nara menatap sinis Ammar.
"Aku...Aku tidak tau, itu karena Kau bilang Ayahmu sudah mati. Siapa yang akan percaya orang mati hidup kembali." kilah Ammar gugup.
"Benar juga.. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah?" Nara mengusap air matanya, ia penasaran hal apa yang membuat Ayahnya tersangkut dan tidak pulang selama 15 tahun.
"Ceritanya panjang nak, sebelum itu boleh kah Ayah minta makan? Ayah lapar..." bisik nya, ia memang tidak makan dari pagi. Tak terasa lapar dan dahaga karena ia sangat ingin melepas rindu pada Nara. Kini rindunya terbayarkan, ia bisa lagi menggandeng tangan Nara.
"Ayo Kita pulang, sebaiknya Kita makan di rumah saja." ucap Ammar, dan Nara menyetujui. Ia tak melepaskan tangannya dari tangan sang Ayah sedetikpun. Ia masih tak percaya ada keajaiban setelah semua badai yang dilalui nya.
...~~...
Sesampainya di rumah, Pak Arul tak henti-hentinya tercengang. Rumah itu sangat luas dan mewah. Ia sangat bahagia karena putri nya bisa hidup sangat baik, berbeda dengan garis keluarga mereka yang seluruhnya berkutat di lautan.
Setelah makan malam dan membersihkan diri. Mereka bertiga kini duduk di ruang tamu sambil menceritakan kenapa Pak Arul tak bisa pulang selama 15 tahun. Nara sampai menangis sesenggukan saat mendengar perjuangan Ayahnya menerjang badai dan terombang-ambing di laut lepas.
"Jangan menangis... Ayah di sini sekarang." Ia menepuk pundak Nara sambil tersenyum.
"Sekarang giliran Ayah yang ingin bertanya, sejak kapan kalian menikah?"
"Minggu depan 4 bulan." sahut Ammar santai, Nara pun memelototi nya agar dia bersikap lebih sopan. Ammar langsung menurunkan kakinya, dan menundukkan kepala.
"Apa yang membuatmu menikahi putriku? Ku dengar Kau seorang duda apa benar? Dan dari mana kau bisa mengenal putriku?"
Ammar dan Nara langsung panik, wajah mereka amat kaku. Tak mungkin mereka bilang bahwa Nara sengaja di jebak. Terlebih dirinya lah yang membuat Nara masuk penjara, dan dia yang membereskan kematian Neneknya.
"Saya bukan duda, tapi sewaktu menikahi Nara Saya memang punya istri." sahut Ammar membuat Nara bertambah kikuk.
__ADS_1
"Apa..?! Jadi Kau menjadikan anakku istri kedua?" Siapa yang rela anaknya di jadikan selir oleh pria penuh kekuasaan itu.
"Nara..! Kenapa Kau mau di nikahi pria yang sudah beristri? Apa kalian ketahuan selingkuh? Atau dia mengancammu? Kau tidak hidup seperti ini karena ingin meninggalkan kehidupan miskin kita kan?" cecar nya membuat Nara dan Ammar kelimpungan.
"Ayah.. Bukan begitu, Ammar menikahi ku atas permintaan istri pertamanya."
Ammar meneguk ludah, apakah Nara akan menjelaskan kalau ia di jebak ke pernikahan ini?
"Istri pertama Ammar sakit keras waktu itu, dia tau umurnya sudah tidak panjang. Itu sebabnya dia memintaku menikah dengan Ammar." kilah Nara berusaha tetap tenang.
Sementara Ammar melirik tajam kearah istrinya itu. Ia tak menyangka Nara pandai mengarang cerita dengan eskpresi yang meyakinkan pula.
"Tapi kenapa harus seorang gadis pinggiran? Memangnya Kau tidak punya kenalan gadis kelas atas lainnya?" Kedua mata Pak Arul melebar, benar-benar mengalahkan seramnya tatapan Irene kalau sedang mengamuk. Ammar sampai berkeringat dingin di buatnya.
"Ayah... Maksud Ayah Aku tidak pantas menikahi Ammar? Apa putri Ayah ini terlalu mustahil untuk membuat seorang pria jatuh cinta?" keluh Nara memasang raut wajah manja.
Arul memindahkan pandangannya, dari tatapan sinis ia langsung berubah jadi lemah lembut saat menatap putrinya.
Nara mengurung tawa mendengar itu.
"Kau benar-benar mencintai putri ku?" tanya Pak Arul lagi.
"Iya.." jawab Ammar singkat.
"Setidaknya beri jawaban yang tampak meyakinkan. Buktikan kalau Kau mencintai putriku." kesal Pak Arul mengeratkan giginya.
"Lima bulan lagi cucu Anda lahir, itu cukup menjadi bukti kan?"
"Kau hamil Nara..?" Pak Arul tampak tak percaya.
Nara mengangguk sambil tersenyum lebar. Lelah sekali rasanya berpura-pura menjadi keluarga bahagia. Sementara Ammar merasakan sebaiknya, ia merasa bahagia bisa menjadi pasangan suami istri sesungguhnya. Walaupun hanya pura-pura, ia sangat bahagia. Hanya saja itu tak terlihat sebab tertutup ekpresi wajahnya yang kaku dan dingin.
Setelah bercerita panjang lebar, Nara mengantarkan Ayahnya tidur ke kamar tamu. Setelah itu ia menuju ke kamarnya hendak tidur pula. Namun Ammar mengikutinya dengan wajah kaku berseri.
__ADS_1
Merasa ada langkah yang mengikuti, Nara pun menoleh dengan tatapan tajam. "Kau mengikuti ku?" sinis nya.
"Aku... akan tidur denganmu malam ini." bisik Ammar.
"Jangan gila Ammar, kembali lah ke kamarmu."
"Kalau Ayah mu tau kita tidur terpisah bagaimana? Bukankah dia akan curiga?"
Nara hendak menjawab, namun bibirnya tertahan oleh logika yang di sampaikan Ammar barusan. Memang benar mereka berakting sebagai suami istri di depan Ayahnya, tapi tidak harus tidur satu kamar juga kan?
Tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka, "Kalian tidak tidur?" tanya Pak Arul, ia samar mendengar percakapan anaknya barusan.
"I..iya, tidur. Ayah mau kemana?" Nara kikuk serta bingung. Sementara Ammar sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.
"Ayah mau ke kemar mandi.."
"Di kamar ada toilet nya Ayah, pintu kaca.."
"aahh, itu kamar mandi? Ayah pikir hanya cermin besar saja."
Ayah nya Nara kembali masuk ke kamar, matanya sudah sangat berat karena kelelahan. Sementara Nara langsung masuk ke kamarnya dan didapati Ammar sudah berbaring di sofa.
"Kau bisa tidur di ranjang..." ucap Ammar, ia menarik selimut kemudian menyalakan TV.
Suara TV : Breaking news malam ini. Seorang pria di temukan tewas di rumahnya dengan tiga tusukan pisau. Polisi memastikan ciri-ciri nya sama seperti korban pembunuhan berantai sebelumnya. Pihak kepolisian masih menyelidiki siapa pelakunya, sementara publik menduga Psikopat yang sudah meninggal itu memalsukan kematiannya. Atau dia memiliki komplotan yang belum terungkap.
Ammar langsung duduk dan membuka telinga lebar-lebar. Nara juga sama terkejutnya, ia sampai mematung di tepi ranjang dengan sebelah kaki yang sudah naik ke kasur.
"Kau yang melakukannya?" tanya Nara berwajah datar, tidak mungkin Ammar kan?
"Aku seharian bersamamu." sahut Ammar, ia menduga ada yang sengaja meniru cara kerja Irene. Dengan begitu tuduhan pasti mengarah padanya karena dia adalah tangan kanan Irene selama ini.
...******************...
__ADS_1