Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 70 : Melindungi.


__ADS_3

"Kau pikir dirimu berhak untuk cemburu? Kau tidak ingat perjanjian Kita? Pernikahan kita hanya perjanjian tanpa perasaan. Jadi jangan sesekali Kau berusaha mengubah nya." gerutu Nara dalam hatinya. Namun entah kenapa ia tak memiliki kekuatan untuk mengucap itu.


Bibirnya bahkan kelu oleh tatapan Ammar yang seolah membungkamnya. Ini salah, ia bahkan memiliki getaran di sudut hatinya. Ini sungguh salah.


"k..kau tidak berhak bersikap begitu Ammar." ucapnya pelan seraya menghindari kontak mata Ammar.


Lalu ia masuk ke dalam rumah lebih dulu. Meninggalkan Ammar yang hendak memberikan jawaban.


"Untuk sekarang, ku rasa Aku berhak bersikap begitu." gumamnya memandangi punggung Nara yang berlalu.


...~~...


Pagi ini, Pak Arul di buat terkejut karena banyak orang berjaga di sekeliling rumah. Ammar memerintahkan para bodyguard dari perusahaan keamanan ternama. Ia tak ingin ada penyusup lagi di rumah itu.


"Nara, apa terjadi sesuatu?" tanya Pak Arul sedikit takut.


Nara malah balik melempar raut wajah heran. "Kenapa Ayah?"


"Orang-orang berbadan kekar mengelilingi rumah ini. Apa Kita sedang di awasi oleh mata-mata mafia? Atau Ammar terlibat masalah serius?"


Nara yang tengah meminum susu mengintip dari balik tirai jendela. Ia bahkan tidak tau kalau Ammar memperketat keamanan. Sudah pasti karena insiden kemarin.


"Ku rasa Ammar hanya ingin menjaga kita, karena sudah pasti dalam berbisnis ada pro dan kontra yang mungkin bisa memancing masalah."


"Tapi Ayah jadi merinding, seperti bersiap untuk menyambut serangan musuh."


"Ayah tidak usah khawatir, selagi Ammar bersama kita. Maka kita akan baik-baik saja." Nara meyakinkan Ayahnya, seolah ia sangat mempercayai Ammar. Padahal di matanya Ammar masih pria dengan latar belakang yang amat samar. Ia hanya percaya karena Ammar adalah Ayah dari janin nya. Selebihnya hanya rasa cemas dan curiga.


Setelah sarapan, Nara melihat kamar Bu Lila. Saat selesai dengan pekerjaannya di rumah ini, Bu Lila akan kembali ke rumah lama. Ammar tak ingin rumah lamanya terbengkalai, biar bagaimanapun itu peninggalan orang tuanya. Oleh karena itu lah Ammar meminta Bu Lila tetap melakukan perawatan di sana.


"Apa dia menyimpan rahasia besar?" gumam Nara sambil melihat sekeliling kamar. Ia punya firasat, bahwa Bu Lila menyimpan sesuatu tentang Ammar yang sampai saat ini masih sangat misterius baginya.


Nara merekam semua yang ada di kamar itu. Lalu mengirimkannya pada Sam. Siapa tau Sam bisa melihat hal aneh yang tak di sadari oleh nya.

__ADS_1


"Sedang apa Kau di sini?" celetuk Ammar membuat Nara terkejut.


Ia langsung menutup ponselnya, lalu berpura-pura tersenyum. "Kau sudah pulang?" Nara terheran, sebab belum sampai jam sebelas siang.


"Kau bisa menjahit?" Ammar menunjukkan lengannya yang terluka.


...-...


Ammar duduk di atas ranjang, sementara Nara membantunya melepaskan pakaian. Luka sayat selebar 17 centi itu tampak menganga hingga mengeluarkan banyak darah. Beruntung tak terlalu dalam.


"Apa yang sebenarnya Kau lakukan hah? Ini masih sangat pagi. Apa Kau tidak berangkat ke kantor?" oceh Nara sambil membersihkan luka Ammar.


"Aku mendatangi lokasi dalang penyusupan kemarin. Namun saat baru tiba malah seseorang menyerang ku." sahutnya meringis perih karena Nara mensterilkan lukanya dengan alkohol.


"Kau mendatangi tempat itu sendiri?"


"Dengan beberapa orang..." jawab Ammar terbata. Sejujurnya bukan itu yang terjadi.


Setelah membersihkan lukanya, Nara menyuntikkan bius ringan. Kemudian mulai menjahit kulit Ammar.


"ssshh..., Kau yakin sudah di bius? Kenapa masih terasa sakit?" Protes Ammar.


"Itu bukan bius total, setidaknya rasa sakit akan berkurang." sewot Nara. Ia tak menyangka Ammar sangat lemah jika berhubungan dengan peralatan medis. Tak sebanding dengan tubuh dan wajahnya yang sangar.


"Beruntung Aku menikahi perawat." puji Ammar tersenyum. Walau lengannya nyeri bukan kepalang, ia sangat bahagia karena bisa merasakan perhatian Nara.


"Aku sial karena menikah denganmu." balas Nara merutuk.


"Kau takkan bisa menemukan Pria sehebat Aku Nara."


Nara tak menanggapi sikap narsis suaminya itu. Namun tiba-tiba pikiran tentang seperti apa sosok Ammar sebenarnya muncul. Sampai detik ini, ia bahkan tak mengenal Ammar lebih jauh lagi.


"Aku penasaran, seperti apa sikap mu di luar sana. Seperti apa Kau sebenarnya. Aku selalu was-was padahal Kau berusaha bersikap baik padaku. Perasaanku mengatakan Aku hanya mengetahui tak sampai 5 persen dari dirimu." ujar Nara sambil mulai menjahit luka di tangan Ammar. Walau pernikahan mereka takkan bertahan lama lagi, ia ingin tau. Pria macam apa yang akan menjadi Ayah dari anaknya itu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu membuat dada Ammar berdesir. Memang benar, masih banyak yang belum di ketahui oleh Nara.


"Aku.., seorang Pria yang memiliki dosa melimpah."


"Dosa seperti apa yang Kau lakukan?" tanya Nara lebih dalam lagi.


"Membuatmu menjalani kehidupan ini, itu salah satunya."


Dan mengkhianati Irene, itu juga salah satunya.


"Aku akan ada perjalanan bisnis besok, Kau mau ikut?" Ammar sudah menentukan jam keberangkatan ke Singapura. Ada urusan penting yang harus ia selesaikan di sana. Ia berniat mengajak Nara agar sekalian bisa berlibur.


Nara menyipitkan matanya "Kau tidak mengajakku bulan madu kan?"


Pergi keluar Negeri memang impiannya, namun bersama Ammar? Pria dengan seribu siasat dan tipu daya itu? Mana bisa ia percaya. Ia bahkan menduga ini salah satu siasat Ammar untuk mengelabuinya lagi.


"Kau menginginkan itu? Haruskah Ku pesan hotel mewah agar Kau nyaman melakukannya?" Ammar malah sengaja menggiring jawaban nakal.


Nara sampai menelan ludahnya, tatapan Pria itu benar-benar berubah. Nakal dan tak bisa di tebak. Entah apa maunya.


"me..lakukan apa? Aku akan ikut jika Kita memesan kamar berbeda."


"mmm.., sepertinya tidak bisa begitu. Karena Aku akan mengajak Ayah mertuaku juga." bisik Ammar dengan suara berat yang terdengar sensual.


"Kalau begitu Aku tidak ikut." tegas Nara menjauhkan wajahnya. Ingin sekali ia menjahit bibir Ammar juga agar ia berhenti bicara aneh-aneh.


"Kau harus ikut, kalau Kau di sini. Orang yang menyerang ku akan mempunyai kesempatan besar untuk menyerang mu juga. Kau akan minta perlindungan pada siapa? Sam?"


"Kenapa banyak sekali orang yang menyerang mu, memangnya Kau ketua mafia atau apa? Hidupku dan Ayah benar-benar tidak aman karena mu." ujarnya separuh protes. Ia menyimpulkan jahitan terakhir. Luka itu cukup menjelaskan bahwa musuh yang di hadapi Ammar bukan main-main.


Ammar tersenyum kecil, ia tau seberapa besar rasa takut Nara karena hal yang terjadi akhir-akhir ini. Ia pun mengusap pelan puncak kepala Nara. "Maka itu, tetap berada di sisiku adalah pilihan terbaik. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang berbahaya terjadi padamu, Ayah, dan anak kita."


...***********...

__ADS_1


__ADS_2