
Mendengar pertanyaan Ammar, Nara hanya diam. Ia menatap lurus ubin marmer kamar itu dengan banyak pikiran di kepalanya.
Ammar berdiri hendak mendatangi kamar Ayah mertuanya, namun lengannya di tahan oleh Nara. "Tidak sekarang Ammar..."
"Aku baru saja tenang beberapa bulan, menurutmu keadaan tidak akan berantakan dengan Kau mengungkapkan itu? Aku masih ingin hidup tenang, setidaknya sampai anak ini lahir."
Ammar termenung sejenak, ada benarnya usulan Nara barusan. Dokter juga mengatakan agar Nara sebaiknya tidak stress demi kesehatan dirinya dan bayi mereka.
"Apa menurutmu Ayah tidak akan menyelidiki ini?"
"Akan ku pastikan tidak..." ucap Nara, ia akan meyakinkan Ayah nya agar tak mencaritahu kasus kematian sang Nenek.
Ammar kembali duduk di atas ranjang, tepat bersebelahan dengan Nara. Mereka berdua sama-sama terdiam. Bukan karena memikirkan keingintahuan Pak Arul, melainkan mereka sama-sama teringat akan momen panas yang terjadi tadi siang.
"Tentang yang terjadi tadi siang..." ucap Ammar membuka topik, namun ia masih ragu hingga kalimatnya terputus.
Kedua telinga Nara langsung memerah, sudah pasti Ammar akan membahas itu. Tapi entah kenapa ia ingin menghindar. Terlalu malu rasanya untuk marah, mengingat ia tak memberikan penolakan. Tapi untuk menerima itu sepenuhnya pun Nara belum bisa. Ia diam sepanjang aksi Ammar karena syok dan jantungnya berdebar kencang.
"Aku... tidak ingin Kau di miliki orang lain." sambung Ammar dengan kedua mata yang menatap legam wajah Nara.
Nara kembali mematung, ia berkedip beberapa kali untuk memastikan Ammar tak salah bicara. "Kau pun tidak berhak memiliki ku Ammar, perjanjian yang kita buat. Jangan lupa kan itu."
Tatapan dalam Ammar langsung buyar, berganti dengan rasa kecewa dan kesal. "Apa..? Jika Aku tidak berhak merasa seperti itu lalu kenapa Kau diam saja tadi? Kau hanya menikmatinya karena penasaran?" cecar Ammar tak percaya.
Nara sendiri pun tak percaya ia mengatakan itu, bukankah sekarang dirinya seperti mencampakkan Ammar?
"Aku terkejut tadi, lagipula Kau mengekang ku hingga Aku tak bisa menolak..."
"wahh.. Kau benar-benar..! Kita bercIuman selama itu, dan Kau menganggap itu tidak berarti? Apa Kau biasa melakukan itu semasa lajang? BercIuman dengan siapa saja lalu menganggap itu bukan apa-apa?" Ammar protes tak terima. Baginya sebuah kecupan saja sangat berarti, apalagi mereka bukan orang asing melainkan suami istri.
__ADS_1
Nara menodongkan jari telunjuknya ke wajah Ammar. "hei.., Aku tidak membalas cIuman mu, jadi itu bukan cIuman melainkan Kau mencIumku secara paksa!"
Ammar hendak menjawab, namun percuma. Salah nya sendiri karena ia mau menyetujui perjanjian cerai itu. Ia harus memutar otak lebih dalam lagi untuk menjerat Nara agar tidak meninggalkannya.
"Apa..?" Nara menyentak sambil membelalakkan mata, ia tau Ammar ingin mengatakan sesuatu tapi di tahan.
"Aku ingin membesarkan anak kita bersama, tidak bisakah kita tetap mempertahankan pernikahan ini?" pinta Ammar, wajahnya sendu terselimuti sejuta keinginan untuk tetap bersama.
Nara mengalihkan wajahnya, jujur saja ia tidak kuat di tatap seperti itu oleh Ammar. Sangat mengusik batinnya. "Bercerai ataupun tidak, kita tetap akan membesarkannya bersama."
"Bukan tentang anak kita saja, ini tentang mu. Aku tidak ingin menceraikan mu. Aku mencintaimu..."
gleek....
Tenggorokan Nara meneguk ludah amat susah payah. Kenapa ungkapan cinta Ammar sangat mendebarkan? Berbeda dengan ungkapan Sam yang terasa tak ada gairah. Apakah ia pula sudah menaruh rasa yang sama untuk suaminya itu?
"Tidak mungkin..." lirih Nara sembari meraba dadanya yang bergetar hebat.
Namun ia sadar, Nara sangat wajar menolak perasaan Pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia sadar akan itu. Setidaknya ia sudah mengambil kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, daripada tidak mencoba sama sekali. Setidaknya ia akan kehilangan setelah memperjuangkan.
"Nara..? Kenapa Kau tidak menjawab ku? Dada mu sakit lagi?" Ammar menjadi khawatir melihat istrinya mematung, sambil memegangi dadanya. Di tambah tatapan kosong di kedua bola mata itu.
"Aku... ingin istirahat." ujar Nara pelan, tanpa mengganti pakaiannya ia berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Kedua tangan Ammar mengepal, ia sudah berdebar menantikan jawaban. Tapi Nara malah menghindar. Mungkin Nara membutuhkan waktu untuk memikirkan ini.
"Baiklah.., selamat tidur." ucap Ammar lalu beranjak dari sana. Ia mematikan lampu lalu naik ke kamarnya.
...~~...
__ADS_1
"Ayah.....! Tolong...!" Pekik Nara dari taman samping.
Ia tengah menyirami bunga, namun malah terpeleset hingga ia jatuh terduduk. Beruntung ia terjatuh di atas kerumunan bunga daisy, jadi punggungnya tak membentur bebatuan. Namun seluruh tubuhnya basah kuyup karena guyuran air selang.
"Astaga Nara..!" Pak Arul langsung berlari saat melihat putrinya terjerembab di atas bunga-bungaan.
Ia memapah tubuh Nara untuk berdiri. "Apa yang Kau lakukan Nara? Kenapa Kau tidak duduk saja di kamar mu."
"Aku bosan Ayah, bisa tolong ambilkan baju di lemari ku? Aku akan mandi di bawah." pintanya pada sang Ayah. Kamarnya akan basah kalau ia masuk dengan keadaan itu.
"Baiklah, ayo Ayah bantu ke kamar mandi dulu."
Pak Arul menuntun Nara pelan-pelan, ia lega karena Nara tidak merasakan sakit di perutnya. Melihat perut Nara yang semakin membesar membuat ia ingin sekali merantai kaki putrinya itu agar tidak melakukan hal-hal berbahaya.
Setelah mengantarkan Nara di kamar mandi dapur. Pak Arul langsung ke kamar Nara di lantai dua. Ia masuk dan langsung membuka pintu lemari kedua sesuai instruksi Nara tadi. Ia mengambilkan satu set baju tidur beserta pakaian dalam. Agak malu sebenarnya, tapi mau bagaimana. Toh Nara putri kandungnya dan kondisinya terdesak.
Sementara itu, Nara yang hendak membuka bajunya teringat sesuatu. Surat kontrak pernikahan yang ia selipkan di antara baju. Sudah pasti Ayahnya akan melihat itu.
"Gawat..!" Nara langsung keluar kamar mandi, ia berharap Ayahnya belum melihat surat kontrak tersebut.
Namun sayang, saat ia keluar dari kamar mandi Ayah nya sudah tiba di sana dengan selembar kertas di tangan kanan.
"Ayah..," lirih Nara menatap nanar.
"Mandi lah, lalu kita bicarakan ini." ucap sang Ayah dengan suara berat. Ia meremas ujung surat kontrak itu.
Semua jelas tertulis di sana, bahwa Nara menikah hanya untuk di bebaskan dari penjara. Bukan karena cinta seperti yang di katakan Ammar dan Nara sebelumnya. Yang lebih menyakitkan lagi, ia membaca bahwa Nara dan Ammar akan bercerai setelah anak mereka lahir. Sebagai seorang Ayah, ia merasa sangat gagal karena putrinya harus menjual masa gadisnya pada Pria yang menulis surat kontrak.
"Ayah itu..," lirih Nara dengan mata berkaca-kaca, ia bisa merasakan segudang kecewa yang di alami Ayahnya. Kecewa karena ia membohongi sang Ayah.
__ADS_1
...***************...