
Di ruang bawah tanah, Irene yang sempat menggila karena dikhianati Ammar kini mulai tersenyum lagi. Bukan tanpa sebab ia tersenyum bahagia, melainkan karena ia mendapat mainan yang sangat menakjubkan. Yakni Damar dan Nara. Ia mengikat dua orang itu bersebelahan. Sembari menunggu mereka sadar dari pengaruh bius, Irene terus tersenyum sembari berlatih menembakkan peluru pada sebuah papan berwarna.
"Sekarang giliran Aku yang memegang kendali permainan ini." lirihnya tertawa licik.
Ia berhasil mendapatkan Nara setelah menyelidiki semua buku aset Ammar. Ada satu yang tak pernah Ammar ceritakan, yakni sebuah villa pribadi yang berdiri di tengah hutan lindung.
Kemudian setelah menangkap Nara, ia sengaja menyalakan ponsel Nara dan meninggalkannya di villa itu. Dengan tujuan untuk menjebak Ammar, agar Ammar tak punya waktu saat nyawa Nara di ujung tanduk nanti.
Mendengar suara tembakan, Damar terbangun. Ia berusaha mengangkat kepala dan mengamati sedang ada dimana sekarang ini.
"Irene..?" ia mencebik saat melihat Irene berdiri tegak di hadapannya. Ia mengamati sekeliling, bulu kuduknya berdiri ketika melihat beberapa pisau yang berjajar rapi berlumuran darah.
"Kau sudah bangun... Paman?" sapa Irene tersenyum palsu. Ia memasukkan beberapa peluru kedalam pistolnya di iringi tawa licik.
"Apa yang Kau lakukan? Kenapa Kau mengikatku disini hah?!" Damar memberontak, kursinya sampai bergoyang kesana-kemari hingga menimbulkan bunyi berdecit yang membuat Nara perlahan tersadar.
"Jika Kau menjawab pertanyaan ku, maka akan ku beritahu alasan ku melakukan ini padamu." ujar Irene..
Berbagai macam cara sudah dilakukan untuk membuka wajah asli Damar. Namun ternyata semuanya sia-sia. Damar dapat mengelak dengan mudah. Jadi Irene berpikir ini cara terakhir. Jika tau begini, ia takkan melibatkan Nara dan menimbulkan masalah dengan Ammar.
"Ini milikmu kan?" Irene mengeluarkan korek api berbahan stainless yang didapat dari tempat kejadian 20 tahun silam.
Damar menggeratkan giginya, bagaimana bisa Irene mendapatkan itu? Ia sangat yakin sudah menyuruh orang untuk membersihkan tempat kejadian.
"Kenapa Kau membunuh orang tua ku.. Kenapa..!" teriaknya histeris, ia hampir tak bisa menahan tangisnya.
"Seharusnya Aku membunuhmu juga waktu itu!" rutuk Damar menggeram, dari awal ia sudah menduga Irene pasti akan menimbulkan masalah.
__ADS_1
"ch..! Kau takkan bisa lepas dariku pria iblis..!" Irene mulai memutar tempat peluru, kemudian bersiap menarik pelatuk.
"Kau menyebutku iblis? Lalu Kau apa? Ratu iblis?" jengah Damar, ia tau semua perbuatan busuk Irene melalui isi ruangan itu.
"Kenapa tidak dari awal Kau membunuhku? Kau malah bermain-main dan membunuh orang-orang tidak bersalah. Kau bukan murni mengejar dendam Irene, Kau memang senang bermain dengan pisau mu karena Kau PSIKOPAT!"
Irene semakin meradang, ia mengurungkan todongan nya. Tampaknya akan lebih menyenangkan jika memakai benda tumpul. Pistol akan terlalu mudah.
"Lalu kenapa Kau membunuh orang tuaku? Kau sebut dirimu lebih baik saat melenyapkan empat orang yang tak bersalah sekaligus? Memangnya apa salah orang tua ku?"
"Setidaknya Aku sudah lebih baik saat ini." Ucap Damar berbangga diri.
"cuiih...! Ingatlah semua dosa mu sebelum Kau bertemu dengan Orang tua ku." Irene mengambil palu berukuran besar, dan mulai mengayunkannya. Target pertamanya adalah kedua bola mata Damar.
Nara yang masih berpura-pura tidak sadar merasa sangat ketakutan. Ia berdoa dalam hati semoga Tuhan menyelamatkannya. Masa bodoh dengan Damar yang akan dihabisi oleh Irene, yang penting ia berdoa untuk dirinya sendiri.
Kenapa? Padahal kemarin ia bersikeras ingin mati dan bahkan berharap Irene membunuhnya. Ternyata melihat adegan secara langsung itu membuat Nara sadar kembali bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya.
"Aaaaaaa....!!" Damar terjatuh bersama kursinya. Darah bercucuran mengaliri wajahnya. Meski begitu Ia berusaha melepaskan diri walau mata berkunang-kunang.
Nara merinding sekujur tubuh, ia melirik kearah Irene yang dengan brutal memukuli kepala Damar berulang kali. Ia menutup mulut serapat mungkin agar tak kelepasan bersuara sambil berusaha melepas ikatan di belakang kursi.
Selang beberapa pukulan Irene berhenti sejenak. Nafasnya tersengal karena ia terlalu antusias mengayunkan palu.
"Bagaimana rasanya? Kurasa ini tidak sebanding. Seharusnya Aku mengikatmu di sebuah tiang lalu menyalakan api. Agar Kau tau bagaimana sakitnya orang tua ku saat itu."
Damar masih berusaha menjaga kesadarannya. "Kau memberiku hukuman atas kejadian 20 tahun lalu, suatu saat akan ada orang yang memberimu hukuman atas perbuatan mu!"
__ADS_1
GUBRAKK..!
Nara yang tengah berusaha kabur malah menabrak sebuah rak. Kepalanya masih sempoyongan, rak berisi beberapa pajangan aneh itu jatuh berserakan.
Irene menoleh, ia berdiri dan dengan santainya berjalan menuju Nara yang tengah berdiri ketakutan.
"Kau mau kemana, madu ku..?" Irene tersenyum sambil menenteng palu berlumuran darah. Ia yakin Nara sudah mengetahui statusnya yang bukan saudari Ammar.
Nara mundur perlahan seiring langkah Irene, lalu dengan cepat mengambil pistol yang tergeletak di lantai. Itu pistol yang hendak di pakai Irene tadi. Dan tentu sudah ada peluru yang siap untuk di tembakkan.
"Berhenti..!" Ucap Nara menodongkan pistol itu dengan kedua tangannya.
"hahahahahah.... Memangnya Kau bisa memakai itu? Itu berbeda dengan jarum suntik yang biasa Kau pakai Nara.." ledeknya tertawa geli.
Nara menembakkan satu peluru tepat ketengah papan yang ada di sebelah Irene. "Memang sangat berbeda.." ia mengembalikan tawa geli di ujung bibir. Melihat Irene terdiam membuatnya sedikit lega.
"Kau tau Nara, jika ingin melenyapkan seseorang Aku cenderung memakai banyak cara." Irene mengeluarkan satu lagi pistol dari dalam tasnya.
"Mau bertaruh? Siapa yang lebih cekatan di antara Kita?" Irene mulai memasukan peluru.
Tak mau kehilangan kesempatan, Nara nekat menembakkan pelurunya tepat mengenai bahu Irene. Tak ayal Irene langsung terhuyung dan merintih kesakitan.
Dan saat Irene tengah berusaha memasukkan pelurunya, Nara cepat bergegas meninggalkan ruangan itu. Ia berlari secepat mungkin, walau kakinya terasa lemas. Ia tetap memaksakan diri berlari tak menghiraukan kondisinya yang hampir kehabisan tenaga.
Saat tiba di lorong bercabang, ia sedikit bingung. Entah jalan mana yang bisa membawanya keluar. Ia tak mengingat semua lorong itu. Tak mau kehilangan waktu, Nara asal saja memilih lorong sebelah kanan. Walau ia tak tau kemana arah lorong itu, entah bisa selamat atau tidak. Dengan langkah tertatih, ia berusaha lari sebisanya. Nafasnya tersengal dengan wajah pucat. Rasa nyeri di bagian perut pun tak terelakkan. Seperti sesuatu sedang meremas perutnya sekarang.
"Kau baik-baik saja kan?" Nara meraba perutnya sambil sesekali melihat kebelakang.
__ADS_1
"Tolong jangan menyusahkan ku." tambahnya menepuk pelan perut yang masih rata itu. Tak menghiraukan tubuhnya yang terasa remuk, Nara terus berlari tergopoh-gopoh sambil berpasrah diri. Jika memang takdirnya hari ini mati di tangan Irene maka ia harus menerima itu.
...**************...