
Suasana hening malah menyelimuti, padahal tadi mereka tengah berdebat soal nama Anak. Kini hanya suara monitor detak jantung yang terdengar menggema di ruangan itu.
Nara tak menyadari, bahwa wajah Ammar kini hanya berjarak 5 Centi dari matanya. Tak mendapat penolakan, membuat Ammar berani mengecup lembut kening Nara. Ia menahannya sejenak sembari memejamkan mata.
Baru lah Nara sadar, tentu saja ia sangat terkejut. Pikirannya langsung memberontak bahkan menyuruh agar ia memukul wajah Ammar sekuat tenaga. Namun tangannya menolak, kedua tangan itu hanya mengepal erat.
Sementara dari luar pintu, Ayah Nara dan Pengawal yang membawakan sup salmon menyaksikan mereka tengah tenggelam satu sama lain. Pak Arul menahan Pengawal itu agar tak merusak suasana. Sementara Pengawal itu malah meremas kuat lengan Pak Arul.
"Apa yang Kau lakukan?" bisik Pak Arul menepis kasar tangan Pengawal itu.
"Romantis ya Pak.." ujarnya tersenyum lebar, baru kali ini ia melihat wajah Ammar yang amat lembut. Biasanya seperti singa yang sedang lapar.
"Kenapa Kau memegang tanganku?" Pak Arul berusaha menyingkirkan tangan Pengawal itu.
"Saya jomblo soalnya Pak.. heheh.."
Pak Arul reflek membaca mantra yang ia pelajari untuk mengusir setan laut. Entah ketempelan apa Pengawal satu ini.
Beberapa detik berlalu, Ammar masih menempelkan kecupannya di kening sang istri. Tak ingin hanyut terlalu jauh, Nara mendorong dada Ammar pelan dengan tangan bergetar.
"Kau melanggar peraturan Ammar." ketusnya berbisik. Ia mengalihkan tatapannya dari sorot teduh Ammar.
"Iya..." sahut Ammar pula dengan ekpresi datar. Ia seperti baru terbangun dari tidur panjang, wajahnya bingung atas apa yang barusan ia lakukan. Lebih bingung lagi saat ia tak mendapat pukulan dari Nara. Padahal ia sudah bersiap tadi jika Nara hendak menampar wajahnya.
"Kau... tidak memukulku?"
"Kemarilah.." Nara sudah bersiap mengangkat tangannya. Namun Pak Arul keburu masuk bersama tiga porsi sup salmon.
"Sup nya datang..."
Dari kecepatan laju, Nara terpaksa mendaratkan telapak tangannya dengan lembut. Seolah ia sedang membelai Ammar.
...~~~~~...
__ADS_1
Hari ini Ammar tengah mengurus administrasi kepulangan Nara. Dua hari berlalu dengan cepat. Kondisi Nara benar-benar sudah stabil, dan bayi mereka juga sangat sehat.
Sementara Pak Arul, ia kembali lebih dulu ke hotel untuk membereskan pakaian Nara. Mereka akan kembali ke Indonesia sore ini. Sebenarnya Ammar ingin lebih lama, sembari menunggu Nara benar-benar pulih. Lagi pula ia belum sempat membawa Nara dan Ayahnya jalan-jalan.
Tapi setiap detik, ponselnya terus saja berdering. Perusahaan benar-benar sangat membutuhkannya. Setelah Damar, Irene dan Noah tak lagi di sana. Ammar benar-benar menjadi akar penting dari perusahaan itu.
[Lalu bagaimana Kau bicara pada Ayahmu soal serangan Bu Lila?] tanya Sam dari dalam telepon. Ia dan Nara sudah mengobrol selama 30 menit.
Nara menceritakan semuanya, bahwa Bu Lila adalah orang yang memiliki peran paling besar di balik permainan ini.
"Aku dan Ammar mengarang cerita, bahwa ada orang mabuk yang tiba-tiba menyerang ku."
[Ayahmu percaya itu?]
"hm.. Ayah bahkan hendak melaporkan ini. Tapi Ammar bilang bahwa dia sudah mengurusnya."
[Lalu bagaimana dengan jasad Bu Lila?]
[Mengerikan sekali, Pada akhirnya permainan ini selesai tanpa campur tangan Hukum.]
"Benar.., Kau pasti ingin menyelesaikan kasus pembunuhan itu kan? Sayang sekali kejadian ini terjadi di Singapura."
[Padahal Aku ingin mengungkapkan kejahatan tiruan yang di lakukan Bu Lila. Dia benar-benar wanita gila.]
Nara tak sepenuhnya menceritakan kejadian itu dengan detail. Ia menyembunyikan bahwa Ammar lah yang melempar Bu Lila ke dalam kobaran api. Ia hanya bilang bahwa Bu Lila terperangkap dengan rencananya sendiri.
"Asal Kau tau saja Sam, ada manusia yang lebih gila bersamaku di sini." ucapnya dalam hati.
"Maaf Aku tidak bisa membantumu memecahkan kasus itu."
[Kenapa Kau minta maaf? Ini bukan tugas mu. Jadi jangan merasa bersalah. Fokus lah pada kesehatanmu.]
"Apa itu berarti urusan Kita sudah selesai?" Nara menaruh harapan, semoga ada hal yang membuatnya bisa tetap bertemu dengan Sam dan yang lain. Karena mereka lah yang mengetahui latar belakang pernikahannya, ia berharap mereka masih mau menolongnya suatu saat nanti. Sampai saat ini, ia bahkan belum berani jujur kepada Ayahnya. Soal pernikahan, dan soal perceraian yang sudah terencana.
__ADS_1
[Kau bisa menemui ku kapan pun.] Ucap Sam memberi keyakinan, bahwa ia selalu terbuka kapanpun Nara membutuhkan tumpuan.
"Terimakasih..." balas Nara tersenyum, intonasi suara nya pun dapat terbaca oleh Sam bahwa ia merasa lega dan bahagia.
Sementara itu di depan ruang rawat Nara, Ammar duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk. Ia mengenakan earphone yang terhubung langsung dengan ponsel Nara. Sejak tadi, ia mendengar percakapan Nara dan Sam yang terdengar hangat.
Sedikit perih rasanya mendengar Nara tertawa lepas dan bercerita panjang lebar pada Sam. Terlebih saat Nara secara tidak langsung mengucapkan, bahwa ia masih ingin bertemu dengan Sam.
Tamparan kuat membuatnya tersadar, bahwa ia bukanlah Pria yang di harapkan oleh Nara. Dia bukanlah Pria yang pantas untuk di jadikan tumpuan oleh Nara.
Ammar menghela nafas panjang, kemudian mematikan earphone yang terhubung dengan ponsel Nara. Ia tak kuat mendengarkan obrolan Nara lebih lama lagi. Seharusnya sejak awal ia tak memantau urusan pribadi Nara. Ia pun beranjak dari sana, mengurungkan niat untuk menganggu pembicaraan hangat antara istrinya dan Sam.
...~~~~...
Pembicaraan panjang di tutup setelah 2 jam. Sam meletakkan ponselnya di atas meja sambil tersenyum kecil. Padahal sebagian besar pembahasan mereka tadi tentang Bu Lila dan kegilaannya.
"wauwww... Sepertinya Kau sangat bahagia, apa Nara sudah resmi bercerai?" celetuk Galih dengan wajah kepo nya.
"Hentikan omong kosong mu." tampik Sam membuang muka.
"Ayolah Sam, sampai kapan Kau mau menyembunyikan perasaan mu. Aku tau ini tidak pantas, mengingat Nara sudah bersuami. Tapi dia menikahi Ammar karena di jebak,dia mengandung anak nya juga karena kesalahan. Bahkan dia dan Ammar sepakat bercerai setelah anak mereka lahir. Dan yang lebih menjanjikan lagi, Ammar berjanji akan membiarkan Nara menempuh jalan hidupnya sendiri. Kau yakin tidak mau bertindak?"
"Bertindak apa? Kau kau Aku membawa kabur istri orang? Walaupun dia akan bercerai, fakta bahwa ia mengandung anak suaminya itu tak bisa di kesampingkan."
Galih tersenyum puas, akhirnya secara tidak langsung Sam berkata jujur. Bahwa ia memang menyimpan perasaan untuk Nara.
"Setidaknya Kau ungkapkan perasaan mu, Aku yakin Nara akan mempertimbangkannya. Dia pasti masih cukup waras untuk memilih Pria yang pantas untuk di cintai."
"Lalu Kau pikir suaminya tidak pantas mendapatkan cintanya? Ammar hanya boneka Irene dan Bu Lila. Melihat dia sangat melindungi Nara, ku pikir dia berhak mendapatkan cinta dari istrinya."
Sam sangat sadar, ia tak mau menjadi perusak rumah tangga orang. Walaupun jelas rumah tangga itu di dasari dengan kebencian. Ikatan pernikahan di dalamnya tetaplah suci. Meski berat untuk menahan bahwa ia memang sudah menyukai Nara sejak awal.
...************...
__ADS_1