
Pagi datang, Nara membuka mata dan masih saja ia merasakan kantuk yang amat berat setelah 16 jam tertidur. Ia menggeliat sambil menguap lebar.
"hoaaaa... Kenapa Aku memimpikan hal menjijikan itu?" lirihnya, samar teringat kejadian Ammar dan Irene kemarin. Dan ia meyakini itu hanyalah mimpi.
"aahw,, punggungku rasanya kebas." Ia mencoba duduk, kepalanya terasa sangat berat.
Ia terheran saat melihat ada beberapa buah-buahan di atas nakas. Jus dan beberapa vitamin terletak di sebelah nampan berisi buah. Ada pula tulisan kertas di sampingnya Ini vitamin dari Dokter, Kau harus meminumnya.
"Ammar yang menyiapkan ini semua?" Mustahil sekali, tapi tidak mungkin pelayan. Sebab yang tau ia kemarin pingsan hanya Ammar.
"Pasti Irene, Ammar pasti cerita kan padanya kalau Aku pingsan." Ia mengambil satu buah pir dan menggigitnya. Tertidur dalam waktu yang lama membuat seisi perutnya kering kerontang.
Ponsel Nara berdering, ia mengangkat tanpa melihat nama si penelpon.
"hallo?"
"Kau sudah bangun? Jangan lupa minum vitaminnya."
Nara terdiam sejenak, ia melihat layar ponselnya. Tak salah, yang menelpon adalah Ammar. Tapi kenapa dia tiba-tiba menjadi sangat perhatian? Apa hanya perasaannya saja?
"Kau... Yang menyiapkan ini?"
"hm..." sahut Ammar, terdengar cuek seperti biasa. Membuat Nara merasa semakin aneh.
"Kenapa?"
"Kenapa..?" Ammar malah bertanya balik.
"Untuk apa Kau menyiapkan ini?" Benar-benar di luar nalar, apakah ia akan di jadikan tumbal hari ini. Makanya di perlakukan sangat spesial.
"Untuk Kau makan." Ketus Ammar, ia langsung menutup teleponnya.
Seketika Nara ingin memuntahkan semua yang sudah masuk dalam mulutnya. Namun sayang, apalagi dia sedang sangat lapar. Tapi kenapa? Kenapa Ammar tiba-tiba berbuat baik? Apa dia benar-benar Ammar?
Di tempat lain, setelah memutuskan sambungan teleponnya Ammar mengangguk pelan. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah keputusan yang tepat untuk sementara waktu. Menyembunyikan kehamilan Nara. Ia sudah bisa membayangkan kalau Nara mengetahui ini pasti akan sangat terpukul. Itu hal yang wajar dan mereka akan mencari solusi nanti.
__ADS_1
Tapi jika sampai Irene tau, maka bukan hanya janin yang ada di perut Nara. Bahkan Nara sekalipun bisa saja langsung di lenyap kan. Pernikahan ini di buat atas rencananya untuk merebut perusahaan. Tapi jika pada akhirnya dia harus kehilangan Ammar, maka semua sama saja sia-sia.
"Maaf membuat Anda menunggu." Ucap Sam, ia memberi salam kemudian duduk di depan Ammar.
Ammar membalas salam Sam dengan hanya mengangguk kecil. Ia ingin memberikan sesuatu kepada Sam.
"Ini milik Nara.." ia menyerahkan buku jaminan hari tua atas nama Neneknya Nara. Ia mengambilnya saat bermalam waktu itu.
Sam memandangi buku itu dengan alis dilipat. "Untuk apa Anda menyerahkan itu?"
"Ini sebagai bukti bahwa Nara sangat menyayangi Neneknya, dan dia bukan pembunuh."
Bertambah bingung Sam. "Aku tau, Kami juga sedang menyelidiki siapa pelakunya." Sepertinya ia tak perlu buku itu. Ia sangat mempercayai Nara.
"Simpan saja, mungkin Kau akan membutuhkannya nanti."
Jika tiba saatnya Irene berhasil melenyapkan Damar. Maka Nara yang akan menerima imbasnya. Dan Ammar ingin mempersiapkan itu, setidaknya buku itu menjadi salah satu bukti bahwa Nara bukan pembunuh.
Sam bisa merasakan bahwa Ammar ingin melindungi Nara. Sedikit pudar pula kecurigaannya terhadap Ammar. Namun di sisi lain rasa peduli itu entah kenapa terasa samar.
"Aku akan mengusahakan tidak ada, tapi Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Publik masih mengingatnya sebagai pembunuh, Aku hanya takut suatu saat berita itu menyeruak lagi."
"Baiklah Aku mengerti Anda berusaha melindunginya."
"Aku hanya berharap yang terbaik untuk istriku." ujar Ammar menyeruput kopi nya.
Sam berusaha membaca ekpresi Ammar, terlihat tulus kalau ia ingin melindungi istrinya. Namun kenapa Ia masih merasakan bahwa Ammar seperti sebuah ancaman untuk Nara. Kalimat dan ekpresi wajahnya tak menunjukkan bahwa ia benar-benar perduli, lalu untuk apa tindakannya ini?
Jika diamati pun Nara merasakan hal yang sama. Merasa tidak aman dan was-was kepada Ammar dan Irene. Sam jadi berpikir sangat keras, apa yang membuat Nara tak tenang saat memiliki suami yang ingin melindunginya.
...~~...
Matahari belum terbenam, cahaya senja masih tampak kuning menyilau. Untuk pertama kalinya Ammar pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Membuat seluruh pelayan kalang kabut menghindari Ammar. Untung mereka sudah menyiapkan segala keperluan Ammar.
Beberapa pelayan yang masih mengelap kaca, membersihkan halaman serta menyirami tanaman langsung bersembunyi dari pandangan Ammar. Mereka tak tau apa yang membuat Ammar pulang sangat cepat ini. Setidaknya kalau mau pulang cepat kasih aba-aba dulu, agar mereka tidak kalang kabut.
__ADS_1
Nara sampai bingung saat melihat beberapa pelayan buru-buru menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Loh, kalian mau kemana.... Ammar?" Ia mematung dengan penyedot debu di tangan kanan.
"Kenapa Kau mengerjakan itu? Memangnya kemana pelayan.."
"Aku bosan... Aku yang memaksa mereka memberikan ini." Potong Nara membuat Ammar langsung diam.
Jika dipikir pikir tidak baik juga ibu hamil merasa stress, menjalani hari yang sangat membosankan juga bisa menyebabkan stress. Ammar bahkan jadi merasa bersalah karena barusan bersikap ketus. Bagaimana kalau itu malah membuat Nara stress?
"Kau sudah pulang?" Nara menyipitkan matanya, ia tak salah menghitung jam. Dan matahari memang belum terbenam, berarti yang salah otak Ammar.
"Mulai hari ini Aku akan pulang lebih cepat."
"hah..?"
Bukan hanya Nara, beberapa pelayan yang mendengar itu pun sama terkejutnya. Itu berarti mulai sekarang mereka harus lebih cepat berberes sebelum jam pulang Ammar yang baru.
"Kau tidak senang?" Ammar berusaha lembut, namun susah. Ia tetap kaku dan terdengar ketus.
"b..bukan, Aku hanya terkejut. Kenapa Kau.."
"Kau merasa tidak bebas saat Aku di rumah?" Ammar menyela protes Nara.
"Tidak.."
"Kalau begitu diam saja." Seloroh Ammar, ia beranjak meninggalkan Nara yang masih mematung.
Mulai sekarang ia akan memastikan Irene tidak berbuat macam-macam pada Nara. Itu sebabnya ia memutuskan pulang kerumah sebelum Irene.
Ammar seperti mengesampingkan semua rencana Irene sekarang. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara menjaga Nara dan bayinya tetap aman. Soal Nara akan menerima kehamilan itu atau tidak, ia belum memikirkannya.
Tentang bagaimana ekpresi Irene saat mengetahui kehamilan itu pun belum ia pikirkan sejauh apa. Yang pasti jika Irene tau, bukan hanya hidup Nara yang akan terancam. Melainkan hidup Ammar juga. Bisa saja Irene tak segan menghunuskan pisaunya karena Ammar telah berkhianat.
...****************...
__ADS_1