
Dinginnya angin laut malam membuat seluruh pori-pori Ammar tertutup rapat. Ia ingin sekali buang air kecil, padahal biasanya ia tak pernah terbangun malam untuk ke kamar mandi.
Ammar berjalan pelan menuruni anak tangga, memperhatikan sekeliling yang tak berubah seperti saat ia memasuki rumah ini untuk pertama kali. Yakni saat Nenek nya Nara di bunuh oleh Irene.
Nara curiga saat melihat Ammar jalan mengendap endap, sedari tadi ia hanya berpura-pura tidur karena was-was. Ini pertama kalinya ia tidur dengan seorang Pria, mana bisa ia menutup mata begitu saja. Ia pun bangun dan membuntuti Ammar diam-diam.
Setelah selesai dari kamar mandi, Ammar membuka kulkas. Hanya ada minuman kaleng beralkohol di sana, itu pun sudah dekat dengan tanggal kadaluarsa. Karena tenggorokannya kering, Ammar mau tak mau meminumnya. Ia berusaha membuka minuman itu, namun sulit. Mungkin karena bersoda dan sudah terlalu lama di simpan. Ia pun mengambil pisau yang letaknya agak jauh dari kulkas.
Di saat yang bersamaan Nara tiba di ujung tangga, ia langsung bersembunyi saat melihat Ammar mengambil pisau. Seluruh tubuhnya langsung gemetar ketakutan saat mengamati cara Ammar menggenggam gagang pisau. Terlihat ganas dan menakutkan.
Karena ketakutan, ia buru-buru naik ke atas secara perlahan. Tapi kaki nya malah terpeleset hingga kepalanya membentur pagar kayu di sisi kiri anak tangga.
"awwh..." rintih nya pelan, ia terbujur di anak tangga dengan kaki menjuntai.
Ammar langsung menoleh saat mendengar benturan itu. Seluruh tubuhnya tiba-tiba merinding. Apa mungkin itu Nenek Nara yang hendak membalas dendam pada nya?
Di lihatnya sekeliling, tak ada siapapun. Kemudian ia melihat kaki Nara yang terjuntai di ujung tangga.
"Kenapa dia di sana?" Ammar segera memeriksa, pikirnya Nara mengigau dan jatuh di sana. Ia menuju tangga masih dengan pisau dan minuman kaleng di tangannya.
Sementara Nara yang belum bisa bangun bertambah panik saat mendengar derap kaki Ammar mendekati nya.
Dan saat Nara berusaha bangun, ia sudah melihat Ammar tiba di sana dengan pisau di genggamannya.
"TOLONG JANGAN BUNUH AKU..!" teriak Nara bersujud di kaki Ammar.
__ADS_1
"Tolong, biarkan Aku hidup... jangan bunuh Aku.." pintanya terisak, sungguh ia tak menyangka hari ini akan mati di tangan Ammar.
"Kau kenapa?" tanya Ammar bingung.
Nara mendongak, ia melihat tangan kiri Ammar yang memegang minuman kaleng.
Seratus persen ia sudah berburuk sangka pada Ammar.
Ammar membantu Nara berdiri, ia membawanya duduk di sofa tua yang ada di depan TV. Ia memegang ujung baju Nara seperti sedang menjinjing anak kucing. Lalu ia mengambil beberapa minuman kaleng beralkohol lagi, hanya ada itu di sana. Mungkin itu bisa membantu menenangkan Nara.
"Apa yang membuat mu berpikiran begitu?" tanya Ammar, entah datang dari mana pikiran konyol Nara itu.
"Jujur saja ....Aku sedikit was-was dari tadi, dan melihatmu berjalan pelan keluar kamar membuatku semakin berpikir yang tidak-tidak." ujung tangan Nara masih bergetar, sisa rasa takut dan rasa malu membuat getaran itu terus berlangsung. Ia bahkan hanya menunduk tak berani menatap Pria yang duduk berjarak satu meter di sebelahnya.
"Itu karena Kau berjalan seperti maling, lalu Aku melihat Kau membawa pisau tadi. " Ammar selalu menjadi sosok paling misterius bagi nya, tidak salah jika ia menduga Ammar pelaku pembunuhan itu.
"Aku mau membuka minuman." sahut Ammar datar, ia sangat tenang di banding Nara yang panik.
"ck.. siapa yang membuka minuman kaleng pakai pisau!" rutuknya, ia menggigit penutup kaleng dan langsung terbuka.
Melihat itu gigi Ammar terasa ngilu, baginya yang selalu makan salad dan daging empuk pasti sangat kagum dengan gigi baja milik Nara.
Dalam sekali tegukan, satu kaleng minuman habis oleh Nara. Tak ada angin tak ada badai, tiba-tiba Nara menangis sesenggukan. Ammar sampai mengira dia mungkin kesurupan.
"Aku ingin kembali hidup normal... hiks..hiks..." ia membuka satu kaleng lagi, Ammar yang kehausan bahkan masih bingung bagaimana caranya agar ia bisa minum. Tapi Nara malah sudah menghabiskan dua kaleng.
__ADS_1
"Aku ingin kembali.... Aku ingin bekerja sebagai perawat lagi, pulang melewati pantai, bertengkar dengan Nenek. Tuhan.... kembalikan semua itu dari Ku." Isak tangis Nara semakin menjadi, ia menutup wajahnya dengan tangan dan menumpahkan tangis sejadi-jadinya.
"Dia mabuk... " gumam Ammar, ia membiarkan Nara menangis sepuasnya. Tak berniat menenangkan apalagi menghibur.
Ammar membuka satu kaleng dengan pisau, menenggaknya agar dahaga pergi. Malam itu ia mendengarkan Nara meracau sambil menangis.
Sedikit rasa iba muncul karena mereka menyeret gadis itu ke dalam jalan yang amat rumit. Namun ia tetap membatu, tak berniat menenangkan Nara karena ia pun sedang sama frustasinya.
Hingga malam yang di rasa amat panjang berlalu. Kicauan burung dan deburan ombak terdengar jelas. Beriringan dengan sinar matahari yang perlahan naik ke permukaan.
Entah bagaimana akhirnya Ammar dan Nara tertidur. Mereka masih tampak pulas, Ammar bersandar di sofa sambil melipat tangan di dada. Posisinya sama persis seperti semalam. Sementara Nara... Entah bagaimana ia mengakhiri tangisnya dan menumpang kan kepalanya di paha sebelah kanan Ammar,ia juga masih terlelap.
Ponsel di atas meja berdering, membuat mereka terbangun dari tidur lelap. Ponsel itu milik Nara, dengan separuh nyawa ia meraih ponsel di atas meja dan mengangkat teleponnya.
[Nara, bisa kah Kau kesini sekarang? Aku perlu memastikan sesuatu.] suara dari dalam telepon membuat Nara penasaran.
Nara melihat layar ponselnya, ternyata Sam yang menelpon.
"Iya.. Aku akan kesana sebentar lagi." ia menutup telepon. Menguap begitu lebar sambil menggeliat kecil.
Lalu sudut matanya tiba-tiba menangkap pemandangan yang janggal, ia bukan sedang tidur di atas bantal. Ia meneguk ludah, membayangkan apa yang terjadi tadi malam.
Nara mendongak perlahan, bersamaan dengan Ammar yang baru membuka mata.
...***********...
__ADS_1