
tit.. tit.. tit.. tit...
Layar monitor berbunyi tenang, menandakan detak jantung Ammar sudah kembali stabil. Dua hari berlalu sejak kejadian menegangkan yang hampir merenggut nyawanya. Berbagai macam selang dan kabel menempel di tubuhnya. Setelah Dua hari berada di ambang kematian, akhirnya Ammar bisa menggerakkan kelopak matanya.
Sementara itu di sebuah gedung putih yang akrab di sebut rumah duka, Nara duduk terdiam di depan peti mati. Ya, ia tengah mendampingi tubuh Irene yang kini terbujur kaku di dalam sana. Irene sempat dilarikan kerumah sakit, namun sayang ia hanya bertahan 4 jam karena mengalami gagal jantung akibat peluru yang belum berhasil dikeluarkan.
Pengurus di sana menyarankan agar Nara segera menyetujui surat pemakaman. Namun Nara ingin menunggu sampai Ammar sadar. Mereka suami istri dan saling mencintai sejak lama, Nara khawatir Ammar akan sangat terpukul bila tak melihat wajah istrinya itu untuk yang terakhir kalinya.
Sedangkan Damar, ia sudah lebih dulu di kebumikan. Ia meninggal di tempat, ya di lorong bawah tanah itu. Sam mengangkat kasus tersebut sebagai pembunuhan berencana. Karena pelaku utama sudah tewas, maka bukti yang ada pun tidak berguna dan akhirnya kasus di tutup dengan Ammar dan Nara sebagai korban. Ya, selain Ammar tak pernah melakukan pembunuhan itu. Bersekongkol karena telah menyembunyikan kejahatan Irene tak bisa menjeratnya karena tidak ada bukti langsung bahwa Ammar yang melakukannya.
Motif dari Irene melakukan pembunuhan itu pun di perjelas bahwa dia berencana membongkar kasus kematian orang tuanya. Nama Damar pun menyeruak sebagai akar utama dari kasus ini. Dan lagi-lagi karena tersangka sudah tewas, Kejaksaan pun hanya menyelidiki ulang kasus ini dan membebaskan Jasman atas tuduhan 20 tahun silam. Tak hanya itu, ahli waris Damar juga di tuntut memberikan kompensasi atas 20 tahun yang telah dihabiskan Jasman di balik jeruji besi.
Tak sampai di situ, Direktur rumah sakit pun turut mendapatkan penyelidikan atas kaitannya dengan Damar. Kematian akibat obat tak layak edar pun menjadi sorotan publik. Penggeledahan besar-besaran di lakukan oleh pihak kepolisian dan tak ayal Bu Mina sebagai kaki tangan pencucian uang ikut terseret.
"Nyonya.. Tuan Ammar sudah sadar. " Panggil salah satu pengawal yang baru mendapat kabar dari rumah sakit.
Pandangan Nara pada berita Televisi pun langsung buyar, ia bangkit dan memerintahkan pengawal mengantarnya ke sana.
"Ini hari pemakaman mu..." lirihnya pada foto Irene yang terpajang di antara bunga-bunga.
...~~~...
"Ayah...!" Seru Sandra dari kejauhan, ia langsung melompat ke pelukan sang Ayah yang sudah lama ia rindukan.
__ADS_1
Jasman menyambut hangat pelukan gadis bungsunya, ia terharu sampai tak bisa menyembunyikan air mata. Setelah 20 tahun berdoa siang dan malam, akhirnya Tuhan mengabulkan permintaannya untuk kembali hidup bersama anak-anaknya.
Sam juga turut menyambut kebebasan sang Ayah. Ia memeluk Sandra dan Ayahnya bersamaan. Tak disangka mereka berhasil mengungkapkan kebenaran. Kerja keras mereka selama bertahun-tahun kini terbayar lunas oleh hangatnya pelukan sang Ayah.
"Kalian hebat anak-anak ku..." ujar Jasman menangis haru. Ia sangat bangga memiliki putra dan putri yang sangat pintar dan berani.
"khmm.. hmm..!" Galih melerai suasana haru mereka. Ia memegang karangan bunga untuk menyambut, tapi kenapa ia tak di peluk juga?
"hahaha.. Kemarilah, Kau juga pasti bekerja sangat keras." panggil Jasman merentangkan tangan kearahnya.
"Selamat Paman... Aku senang melihat wajahmu lagi.." bisik nya, mereka pun berpelukan hangat berempat. Tak perduli polisi yang tengah berlalu lalang memperhatikan mereka.
...~~...
Ammar yang terbaring menyamping masih tampak lemas, wajahnya pucat serta pandangannya masih sedikit buram.
"Nara...." lirihnya saat pertama kali menangkap bayang wajah Nara. Ia merasa bahagia, ternyata ia masih bisa melihat wajah itu.
"Kau baik-baik saja..?" tanya Ammar dengan suara serak. Tentu saja Nara sangat baik dan sehat, ia bisa berdiri tegak di sana. Justru dirinya lah yang tidak baik-baik saja.
"Irene... meninggal," Bibir Nara bergetar saat mengatakan itu, ia tak menyangka akan berakhir seperti ini. Padahal ia sudah menyusun kalimat sekena mungkin agar terdengar sopan. Namun ia hanya bisa mengucapkan itu.
Ammar langsung duduk, ia merintih kesakitan namun tak menghiraukan rasa sakit itu. Tentu saja ia terkejut mendengar itu. Sedih pun tak di pungkiri. Semua yang dilakukan Irene dengan susah payah ternyata memiliki akhir yang tidak terduga.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja kan..?" ia bertanya dengan tatapan kosong. Bagaimana kondisi hatinya saat ini, seberapa kacau pikirannya saat ini. Hanya dia yang tau. Rasa bersalah juga belum luput untuk Irene.
"Kenapa Kau terus bertanya tentang ku? Istrimu tewas, Kau bahkan sekarat. Kalian yang lebih memprihatinkan. Bukan Aku..," rutuk Nara kesal, jujur saja ia masih sangat dendam pada Ammar. Pada Irene? masih juga. Tapi kan Irene sudah meninggal. Jadi dia hanya bisa melampiaskan pada Ammar.
"Aku masih punya satu istri lagi..." sahut Ammar masih dengan tatapan kosong, rasa sedih dan pengaruh obat sepertinya berperan besar hingga mengguncang kewarasan Ammar.
"a..apa katamu? wahh.. Kau benar-benar Pria tak punya hati. Istrimu meninggal Kau malah pamer kalau Kau punya istri lain...."
"Jadi Aku harus apa? Menyusulnya?" sangkal Ammar membuat Nara terdiam.
Sesaat mereka sama-sama diam, melempar tatapan satu sama lain hingga beberapa detik.
"Aku belum menyetujui formulir pemakamannya, Kupikir Kau pasti ingin melihatnya." Nara lebih dulu membuang tatapannya, ia memecah suasana hening dan canggung itu.
"Bisa kah Aku keluar sekarang?" Ia ingin mengantarkan Irene ke peristirahatan terakhir.
"Aku akan bertanya pada Dokter.." Nara berbalik meninggalkan ruangan mewah itu.
Sejujurnya ia juga masih sangat syok atas apa yang telah terjadi. Tak di sangka dari awal Irene lah yang menjebaknya kedalam pembunuhan Nenek. Selama tiga bulan lebih hidup bersama, ia bahkan sangat percaya bahwa Irene dan Ammar bisa membantunya menyelesaikan masalah.
Ternyata justru mereka lah biang masalah di kehidupan Nara. Kini bisa di bilang penderitaan Nara sudah hilang bersama hilangnya nyawa Irene. Tapi entah kenapa, ia tetap merasakan kehampaan. Kini ia tak punya tujuan hidup lagi. Kasus Nenek, orang yang menjebaknya, dan rasa penasaran kenapa Ammar memilihnya kini sudah terjawab semua. Rasa penasaran yang hilang serempak itu membawa jiwa Nara pada kekosongan yang tak berujung.
...*****************...
__ADS_1