
Sepanjang perjalanan dari toko perhiasan, Ammar benar-benar mempraktikkan apa yang di ajarkan. Ia bahkan melatih gerak tangannya agar tidak kaku, dan melatih melenturkan wajahnya lewat gerakan bibir agar tampak tulus saat tersenyum. Susah memang jika memiliki wajah kaku seperti itu dari lahir.
Sesampainya di rumah, Ammar langsung mencari Nara. Terdengar dari suara nya, Nara sedang di dapur. Benar saja, wanita dengan perut besar itu sedang memotong buah untuk di jadikan jus.
Ammar berjalan pelan agar tidak ketahuan, dan saat sampai di belakang Nara. Ia menepuk pundak istrinya itu.
Nara yang terkejut langsung berbalik, dan bertambah terkejut lagi ia saat hampir tak mengenali Ammar. Ia mengenakan baju santai, rambut yang di biarkan berantakan serta setangkai mawar merah muda di sodorkan. Tak lupa senyum lembut dengan tatapan berbinar. Nara benar-benar hampir tak mengenali bahwa itu adalah suaminya.
"Ammar..?" lirih Nara tersipu, ia tak tahan mengadu netra dengan pria di hadapannya itu.
"Terimakasih..." ucap Ammar tanpa sadar, ia pula terpana akan pesona sang istri yang menatapnya tersipu-sipu.
"Apa..?" tanya Nara heran.
"e.. maksudku terimalah ini, Aku tau bunga ini tak seindah dirimu. Ku harap Kau menyukainya."
Nara menahan keras bibirnya untuk tersenyum, lucu sekali karena Ammar mendadak berubah seperti orang lain, tapi jujur saja. Ia menyukai penampilan Ammar kali ini. Kalem dan santai, jauh dari kata garang dan kaku.
"Kau tidak seperti dirimu.." ucap Nara sambil menerima bunga yang di berikan Ammar. Kedua telinganya bersemu merah, begitu pula dengan pipinya.
"Sudah ku duga Kau tidak suka hal-hal seperti ini. Penjaga toko perhiasan itu bicara omong kosong..." Ammar berbalik sambil menggerutu, malu sekali rasanya karena telah berperilaku konyol seperti ini.
Namun Nara menarik ujung baju Ammar, "Bisa bantu Aku memotong semangka?"
Ammar berbalik dan memandangi Nara yang mengalihkan pandangan. "Baiklah.." sahutnya tersenyum, sungguh hari ini untuk pertama kalinya Ammar terus tersenyum.
"Nara..," panggil Ammar, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak pipih berwarna hitam.
Nara menoleh, lagi-lagi hatinya berdebar mendapatkan tatapan dalam itu.
"Aku membelikan mu hadiah kecil.." Ammar membuka kotak pipih tersebut, dan tampaklah sepasang anting yang berkilauan. Manis dan terkesan mewah, membuat Nara terperangah.
"k..kenapa Kau hari ini sangat berbeda? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" tuduh Nara memicingkan mata.
"Aku memang merencanakan sesuatu, yaitu mendapatkan hatimu."
srrrrhhh.....
__ADS_1
Darah Nara benar-benar berdesir merinding kali ini, ia tidak yakin pria yang ada di hadapannya itu benar-benar Ammar. Dari mana ia mempelajari kata-kata seperti itu? Ammar yang biasanya bersikap kaku kemana? Kenapa hari ini Ammar berubah menjadi Pria... manis dan berkharisma.
"Kau berakting lagi kan? Apalagi yang Kau rencanakan kali ini hah? Kau mau Aku membatalkan perceraian kita?" hardik Nara membelalak, ia tak boleh masuk perangkap begitu mudah. Cukup sekali hidupnya hancur gara-gara Ammar, kecerobohan seperti itu takkan ia ulangi lagi.
"Iya.." sahut Ammar mengangguk, bahkan menunduk menatap wajah panik Nara dari dekat.
"Kenapa?" Nara tambah membelalakkan matanya.
"Karena Aku mencintaimu."
glekk...!
Suara liur yang di telan oleh Nara sampai terdengar. Di suhu AC minus 21 derajat pun ia mengeluarkan titik-titik keringat. Cuaca dan situasinya sepertinya benar-benar tidak normal, apalagi hatinya, benar-benar kacau karena di porak-poranda kan oleh Ammar.
Nara memalingkan wajahnya, ia mengambil sepotong semangka lalu mengunyahnya amat lahap. Sepertinya ia memang butuh sesuatu yang menyejukkan raga kali ini.
"Enak..?" tanya Ammar masih dengan tatapan nakal nya.
Nara menghentikan kunyahan nya, ia melirik tajam "Hentikan Ammar!"
"Kenapa..? Apa yang ku lakukan?" goda Ammar.
"Kau mulai merasakan debaran di hatimu hm...?" imbuh Ammar memotong ucapan Nara.
Nara terdiam, benarkah itu yang sedang ia rasakan? Ia sendiri pun masih belum yakin.
"Aku tidak bisa Ammar..." Nara menyangkal, ia berbalik lalu meninggalkan Ammar di sana.
Latar belakang yang ia sandang saat ini cukup pahit. Sampai kapan ia akan menyangkal semuanya? Benar memang ia merasakan sesuatu yang mendebarkan untuk Ammar. Benar memang ia mulai resah jika tidak melihat Ammar. Ia bahkan khawatir saat Ammar tidak pulang tepat waktu. Namun mau sampai kapan ia menutup diri? Sampai kapan pula ia harus menyembunyikan asal usul pernikahan ini?
Ia tak sanggup jika harus terus membohongi Ayah nya. Ia tak bisa menelan begitu saja fakta bahwa Ammar adalah seorang pembunuh. Ammar memang sudah mengambil separuh hati dan raganya, namun kenangan pahit itu masih menguasai seluruhnya.
...~~~...
Tengah malam datang, di bawah sinar bulan yang redup Ammar menghisap rokoknya dengan wajah bimbang. Ia menikmati angin malan di roof top itu sambil memejamkan mata.
Kemudian ia mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang. "Urus seseorang untukku."
__ADS_1
[Baik Pak..] sahut orang dari dalam telepon.
...~~~...
Nara baru terbangun dari tidurnya, ia keluar kamar dan mendapati Ammar sudah menyelesaikan sarapan.
"Kau sudah mau berangkat ke kantor?" tanya Nara celingukan, ia mencari sang Ayah yang sepertinya sedang tidak ada di rumah.
"hm..." sahut Ammar datar, Ammar sudah kembali ke setelan awal. Kaku dan dingin. Membuat Nara merasa aneh, hanya sebegitu usahanya untuk merayu? Cepat sekali ia berubah.
"Ayah kemana..?" tanya Nara lagi, ia duduk di meja makan bersiap menyantap sarapan.
"Pergi memancing, Aku sudah menyuruh orang ikut bersamanya jadi Kau jangan khawatir." Jawab Ammar sambil menurunkan lengan kemejanya.
Melihat itu Nara menunggu, biasanya Ammar akan mengambilkan nasi untuknya. Namun Ammar malah memakai Jas nya dan langsung berdiri.
"Aku pergi..." Pamit Ammar melempar senyum hambar, sangat berbeda dari dirinya yang kemarin.
"hmm.." Nara mengangguk kecil. Seharusnya ia tidak menaruh harapan pada Pria beku itu.
"Apa Ayah marah padaku?" gumam nya menghela nafas. Mungkin Ayah nya ingin menenangkan diri. Siapapun pasti akan terkejut mengetahui fakta pernikahan kontrak mereka.
Nara jadi tidak berselera, biasanya ia sarapan bersama Ayahnya dan Ammar. Pagi ini sungguh terasa janggal, melihat rumah besar itu kosong dan sunyi membuat perasaan Nara resah tak menentu.
Pak Arul memang berangkat sejak jam 6 pagi, ia mengatakan ikan akan banyak jika masih agak gelap. Ia pula yang meminta Ammar menyampaikan pada Nara bahwa dirinya tak sempat berpamitan karena rak tega membangunkan Nara.
"aissh.. Aku tidak betah di rumah tanpa Ayah." rutuknya, ia pun memutuskan untuk menelpon sang Ayah.
🔊Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Mohon tinggalkan pesan suara setelah ini.
Suara itu terus saja berulang saat Nara menelpon. "Kenapa Ayah mematikan ponselnya? Apa Ayah begitu marah padaku?"
Tak lama kemudian, terdengar suara ambulance. Suara itu sangat keras dan nyaring. Semakin lama semakin dekat. Nara pun melihat dari balik jendela, ia terkejut saat mobil ambulance itu memasuki pekarangan rumahnya.
Sebagai mantan perawat, Nara hapal betul suara sirine yang di nyalakan ambulance tersebut. Ia meneguk ludah sambil memandangi ponselnya, telepon tak kunjung terhubung dengan sang Ayah, membuat pikirannya berkecamuk.
Lalu saat petugas Ambulance menurunkan tandu, Nara hampir pingsan di tempat melihat wajah Ayahnya bersimbah darah.
__ADS_1
"Ayah.... tidak mungkin..."
...*************...