
Satu hari berselang...
Setelah perjuangan panjang bertaruh nyawa, kini Nara mulai siuman. Ia membuka kelopak matanya perlahan. Mengamati sekitar ruangan, rasanya seperti ia baru terbangun dari mimpi buruk.
"Sekarang Kau seorang Ibu Nara..." ucapnya dalam hati. Entah rasa kecewa, atau bahagia, ia menitikkan air mata saat mengingat kini memiliki seorang anak.
Pandangan Nara mengedar ke seluruh ruangan VVIP tersebut. Ia hanya melihat ruangan kosong, Ammar atau pun bayi nya, ia tak melihat keduanya. Hingga mata nya menangkap seseorang yang tengah duduk di sofa, tepat di sebelah kanannya.
"Sam...?" lirih Nara heran.
"Nara..." sahut Sam, ia seperti tengah menyapa Nara, namun entah kenapa suaranya sangat sayu.
"Dimana bayi ku?" tanya Nara, ia berusaha duduk dan menggulung rambutnya. Pasti bayi nya belum mendapatkan asi dari kemarin, mengingat ia baru siuman.
Sam terdiam, ia menunduk dan merogoh sesuatu dari saku nya. Sebuah amplop putih yang terlipat, ia memberikan amplop itu kepada Nara.
Nara menerima amplop besar itu dengan tatapan bingung, ia menatap Sam sejenak, lalu membuka kertas putih tersebut. Ada dua lembar kertas di dalamnya, yang pertama surat persetujuan cerai yang telah di tanda tangani oleh Ammar.
"Dia menceraikanku secepat ini?" lirih Nara tak menyangka.
__ADS_1
Kemudian ia membuka lembaran surat yang kedua. Ada foto yang di sisipkan Ammar, di dalam foto itu tampak Ammar mengambil swafoto dengan posisi ia duduk di sebelah Nara, dan bayi mereka di letakkan di sebelah Nara yang masih terpejam.
Senyum tipis tersemat pada bibir Nara saat melihat foto tersebut. Kemudian Nara membaca tulisan yang di buat Ammar di atas kertas itu.
*Nara.., terimakasih telah berjuang untuk anak Kita. Kau pasti masih ingin membunuhku kan? Jujus saja Aku tidak keberatan mati di tangan mu.
Malam itu Aku menyuruh bawahan ku untuk mengurus seseorang, Kau tau siapa orang nya? Ternyata dia Direktur Rumah sakit tempat mu dulu bekerja. Sepertinya ia dendam dengan mu, karena berkat kasus yang Kau bawa, bisnis gelapnya jadi terungkap. Saat Kita pergi memancing bersama Ayah, dia bahkan menyuruh orang membuntuti Kita*.
Bukan Aku yang menyebabkan Ayah mu meninggal. Aku bersumpah atas nama anak Kita. Kau pasti tidak mempercayaiku juga sekarang. Tapi ketahuilah, Aku berkata yang sesungguhnya.
Saat melihatmu tak sadarkan diri dan meregang nyawa di ruang persalinan, seluruh tubuhku terasa hancur Nara, Aku tak sanggup melihatmu kesakitan seperti itu. Maafkan Aku, Kau harus mempertaruhkan nyawa demi anak yang bahkan tidak pernah Kau harapkan. Aku tau Kau menyayangi anak Kita, tapi Kau tetap belum bisa menerima nya.
Untuk itu Nara.., Aku memutuskan pergi dari hidup mu bersama anak Kita. Aku tau sangat egois karena telah memisahkanmu dengan anak Kita, tapi Aku ingin Kau melanjutkan hidupmu. Kau bilang ingin menjadi Dokter bukan? Kau juga memimpikan kuliah di luar Negeri, bagaimana bisa Kau melanjutkan mimpi mu dengan anak Kita? Kau harus meraihnya sendiri Nara.
Maaf karena telah menghancurkan hidupmu. Maaf karena telah mencintaimu. Dan maaf karena Aku gagal membuatmu jatuh cinta padaku, hingga pada akhirnya Kita tetap harus berpisah.
Perusahaan telah ku pindahkan atas nama mu. Sekarang Kau pemilik perusahaan itu. Kejar lah mimpimu Nara, pengacara ku akan membantumu mencairkan pendapatan tiap bulan nya, jadi Kau bisa tetap fokus. Anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maafku.
Aku akan menjaga dan membesarkan anak Kita, sebagaimana Aku menjagamu dari sini. Hiduplah bahagia bersama orang yang pantas mendampingimu.
__ADS_1
Daneen Andara Dawson. Aku memberi nama itu untuk anak Kita. Ku harap Kau menyukainya.
Sekali lagi, Aku mohon padamu hiduplah dengan bahagia. Tolong maafkan semua kesalahanku. Dan terimakasih karena Kau telah hadir di hidupku, sebagai bentuk anugrah paling indah.
I Love U Nara.....
Tangis Nara tumpah sejadi jadinya, ia memeluk erat surat itu sambil menyebut lirih nama Ammar.
Melanjutkan cita-cita memanglah impiannya, namun jika ia kehilangan segalanya, bagaimana bisa ia melanjutkan hidupnya.
Nara menangis sesenggukan sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Kini ia benar-benar tak memiliki siapapun. Dulu ia memang sangat ingin pergi jauh dari Ammar. Namun ia tak menyangka, berpisah dengan Ammar ternyata sangat menyakitkan.
Selaras keraguan yang dulu selalu timbul saat ia menatap Ammar, kini semua rasa itu bergumul menjadi rasa sesal yang begitu pedih. Sangat sakit hingga rasanya ia sulit untuk bernafas.
Sam yang menyaksikan itu pun menitikkan air mata. Ia benar-benar menganggap Ammar pria yang sangat bodoh. Wanita yang telah ia hancurkan hidupnya, kini ia tinggalkan begitu saja saat benih cinta baru mulai bersemi.
"Kenapa dia meninggalkan ku Sam..?" tanya Nara terbata-bata. Tangisnya sesenggukan membuat suaranya bergetar.
Sam tidak menjawab, ia tak tau harus dengan apa menenangkan Nara. Ia tak tau Ammar pergi kemana. Ia tak bisa membantu Nara,ia hanya bisa memberi rangkulan hangat, yang mungkin bisa membuat Nara sedikit tenang.
__ADS_1
......TAMAT......