
Dokter hanya tersenyum, ekspresi terkejut seperti itu memang lumrah terjadi terutama pada mereka yang sudah lama mendambakan kehadiran buah hati dan pasangan pengantin baru seperti mereka.
"Selamat ya.. Saya akan segera membuatkan resep vitamin dan jadwal kontrol." ujar sang Dokter dengan senyum merekah.
"Tapi Kami baru melakukan itu sekali..." Celetuk Ammar membuat sang Dokter mengurung tawa.
"Di usia segitu wanita memang sedang ideal dalam hal kesuburan. Walaupun kalian baru melakukan sekali, jika sedang masa subur maka pembuahan akan berhasil."
"Begitu ya.." gumam Ammar. Kini pikirannya bercampur aduk. Sampai sekarang Nara bahkan masih menyimpan dendam padanya akibat kesalahan itu. Bagaimana jika Nara mengetahui itu? Lalu jika Irene sampai tau ia menghamili Nara, apa yang akan terjadi?
Dari ruang Dokter spesialis, Nara di pindahkan ke ruang rawat. Kondisinya sudah stabil, tinggal menunggu siuman saja. Faktor pikiran dan kelelahan berpengaruh besar tampaknya. Apalagi di usia kandungan yang masih sangat muda. Terhitung masih rentan akan kegiatan yang mengandalkan fisik.
"Setelah dia siuman, kalian boleh pulang. Saya sudah menuliskan semua resep vitaminnya di sini. Panggil suster jika ingin menanyakan sesuatu, dan ini hasil USG nya. Saya tinggal dulu ya.." Dokter itu tampak sangat terburu-buru, mungkin sudah ada janji dengan pasien lain.
Sementara Ammar tak bisa mencerna satu patah katapun dari Dokter karena ia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Kepalanya terasa hampir pecah sekarang. Apa dia gugurkan saja diam-diam selagi Nara masih tak sadarkan diri? Tapi apa bisa begitu? Dan kalau pun bisa itu sama saja lagi-lagi Ammar bertindak sesuka hati atas hidup dan tubuh Nara.
"Bagaimana ini..." gumam Ammar memutar otak.
Setengah jam kemudian Nara pun siuman, ia mengerjapkan mata dan berusaha mengenali sekitarnya. Ia mendapati tiang infus yang sangat tidak asing.
"Ammar...?" lirihnya saat pertama kali menangkap wajah itu.
"Aku kenapa ...?" lanjutnya dengan suara pelan bergetar.
"Kau pingsan saat sedang berfoya-foya di Mall, Kau tidak ingat?" Ammar tetap terdengar ketus.
"ahh.. benar, Aku terlalu bersemangat tadi. Lalu apa kata Dokter? Aku tidak mengidap penyakit serius kan?" Ini kali pertama dalam hidupnya, se lelah apapun, sesibuk apapun ia belum pernah pingsan sebelumnya.
Ammar meraba saku bagian dalam jasnya, ia menyimpan hasil USG di sana. Ternyata ia tak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan itu. Ia pikir mungkin bisa mengulur waktu dan merangkai bagaimana caranya meminta maaf, setidaknya sampai Nara sadar bahwa dia sedang mengandung.
__ADS_1
"Kau kelelahan, Dokter bilang sebaiknya Kau beristirahat dulu beberapa hari."
"Benarkah..?" Nara terdengar tak yakin, apa dia menjadi selemah itu? Dulu ia bahkan sering berlari seperti atlet saat ada pasien darurat.
"Aku benar-benar tidak mengidap penyakit serius kan? Beberapa hari terakhir Aku merasakan sesuatu di perutku." Ia takut kalau sampai tumor rahim tumbuh di perutnya, apalagi siklus menstruasi nya terbilang langka yakni hanya 3 atau 4 kali dalam setahun.
"Tidak ada apa-apa..." Ammar meyakinkan, Wajahnya terlihat agak tulus kali ini.
Nara mengangguk mengiyakan jawaban singkat Ammar. Ia juga yakin tidak ada apa-apa dengan dirinya, apalagi mengenai siklus menstruasi itu sebab mendiang Ibunya dulu juga mengalami hal yang sama dan tidak ada masalah dengan itu. Itu hanyalah gen langka yang ia dapatkan dari garis keturunan sang Ibu.
...~~...
Karena Ammar mendadak pergi. Sekertaris Ammar terpaksa menelpon Irene untuk mengambil alih. Kalau tidak mereka bisa kehilangan kesempatan emas ini.
"huuhh.. Hampir saja Kita kehilangan kontrak berharga ini." rutuk Irene kesal, entah hal apa yang membuat Ammar sampai pergi begitu saja dari sana. Wajah Irene terlihat menahan kekesalan yang amat besar.
"Apa Kau tau kemana Ammar pergi?" tanya Irene pada sekertaris itu.
"Kau tidak salah dengar?"
"Saya dengar dengan jelas Bu." sahut Sekertaris itu yakin.
Timbul berbagai pertanyaan di benak Irene sekarang. Apa Nara sudah menjadi sangat penting bagi Ammar sehingga ia rela meninggalkan urusan bisnisnya? Kontrak bernilai miliaran itu hampir saja batal gara-gara Ammar. Dan kalau sampai benar penyebabnya Nara maka sangat wajar ia menaruh rasa curiga.
...~~~...
Ammar sedang dalam perjalanan pulang kerumah bersama Nara. Tak seperti biasanya, ia mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan. Membuat Nara tak sabar dan hampir mual karena terlalu lama berada di dalam mobil itu.
"Bukankah Anda harus kembali ke kantor. Jika begini bisa-bisa malam kita akan sampai ke rumah." Protes Nara tak sabar.
__ADS_1
"Aku masih trauma dengan kecelakaan kemarin."
Yap, alasan yang sangat tepat kan? Luka di pipi Ammar belum kering, jadi alasan itu cukup masuk akal untuk Nara.
"Benarkah? Tapi Aku melihatmu melajukan mobil saat keluar rumah tadi pagi."
"Itu pasti Irene, bukan Aku." elak Ammar masih berbohong. Padahal ia takut terjadi apa-apa dengan Nara dan si jabang bayi.
"Kenapa Kau tidak konsisten saat memanggil ku, terkadang sopan, kadang tidak. Jika dengan Irene Kau selalu sopan." Gantian Ammar memprotes, Nara selalu memanggil sesuka hatinya. Anda, Kau, setidaknya tetapkan salah satu.
"Karena Irene terlihat lebih baik padaku."
"Lalu Aku..? Seperti apa Aku di matamu?" tanya Ammar.
"Misterius... Terkadang Kau ramah, terkadang ketus, terkadang menyebalkan, terkadang juga menyenangkan. Tapi Kau lebih sering menyebalkan!"
Ammar tersenyum kecil, walaupun sebagian besar ucapan Nara barusan seperti merutuki. Namun itu membuat hatinya senang, karena ternyata ia meninggalkan sebuah kesan di benak Nara.
"Di saat seperti apa Aku menyenangkan?"
Nara menoleh, apa yang barusan ia katakan? Ia bukan sengaja memancing Ammar dengan kata-kata itu. Ia juga tidak sadar, entah kapan merasa kalau Ammar itu menyenangkan.
"Entahlah.. Memangnya Aku bilang begitu?" ia terlihat gugup bahkan menghindari kontak mata dengan Ammar.
Semua momen bersama Ammar sungguh menyebalkan, tapi kenapa dia bilang ada yang menyenangkan? Apa mungkin di saat Ammar bertingkah menyebalkan itu membuat Nara merasa nyaman hingga terasa menyenangkan? Siapa pula yang akan senang jika hidup bersama dua orang aneh itu.
...~~~...
Di kantor Damar menertawai Irene habis-habisan. Barusan ia menyombongkan bahwa mereka bisa berdiri tegak tanpa Damar. Namun apa yang terjadi? Ammar sebagai Pimpinan malah bersikap labil dan tak kompeten hingga mereka hampir kehilangan kontrak besar.
__ADS_1
"Sesuatu terjadi pada istrinya, wajar dia bersikap begitu. Seorang pemimpin justru terlihat sangat kompeten saat ia tak bisa mengabaikan nyawa seseorang demi uang." Pukas Irene menatap tajam Damar. Ia tampak membela dan membenarkan sikap Damar. Namun kedua tangannya mengepal erat di bawah meja.
...****************...