
Dengan langkah gontai, Nara berlari keluar untuk memastikan. Itu benar-benar Ayahnya, ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Ambulance malah membawa Ayahnya ke sana, bukan ke rumah sakit.
"Ayah..? Apa yang terjadi dengan Ayah ku?!" tanya Nara menangis sesenggukan pada salah satu petugas.
"Bapak ini menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun." sahut si petugas.
Dada Nara seketika terasa sesak, sangat sesak. Hingga ia hampir tak bisa bersuara lagi.
"Lalu kenapa Kalian membawanya kesini? Cepat bawa Ayahku ke rumah sakit!" pekik Nara murka, ia bahkan menyeka wajah Ayah menggunakan ujung bajunya.
"Kami baru saja dari rumah sakit Bu,.. Dan Ayah Anda tidak tertolong."
Bagaikan di sambar petir, seluruh tubuh Nara kehilangan daya. Kakinya bergetar lemas, dadanya sangat sakit. Mimpi buruk apa lagi kali ini?
Ia terhuyung hampir jatuh, beruntung Ammar sigap menahan tubuhnya. "Nara..," lirih Ammar berusaha menjaga kesadaran sang istri.
Dua orang pengawal yang menemani Ayah Nara selamat, sebab mereka duduk di kursi bagian depan. Sementara sebuah truk menghantam mobil mereka dari arah belakang. Kebetulan posisi mereka sedang terjebak macet dengan mobil-mobil dari arah pelabuhan.
Pengawal itu pula yang menelpon Ammar dan menyampaikan kabar duka ini. Ammar pun meminta agar Jenazah Pak Arul di pulangkan lebih dulu, agar ia bisa mengantarkan jasad itu ke rumah duka menggunakan mobil pribadi sebagai bentuk penghormatan terakhir.
...~~~...
Proses panjang pemakaman telah di lewati, Nara masih dengan tatapan kosong hanya bisa memandangi taburan kelopak bunga yang masih harum semerbak. Ia memilihkan tempat tak jauh dari makam Ibunya.
"Nara... Kita pulang..."
"Kenapa...? Kenapa Tuhan tergesa-gesa mengambil kembali kebahagiaanku?" lirih Nara memotong perkataan Ammar. Suara nya terdengar bergetar.
Tiba-tiba saja Nara menodongkan pistol ke arah Ammar. "Kau yang melakukannya kan? Kau yang membunuh Ayahku!"
__ADS_1
"Nara..?" ucap Ammar tak mengerti, "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Untuk apa Aku membunuh Ayahmu?"
"Polisi mengatakan itu kecelakaan beruntun, lalu kenapa hanya Ayahku yang tewas? Kedua pengawal mu bahkan tidak terluka. Kau memang iblis yang menghalalkan segala cara Ammar!"
"Apa..? Apa yang ku kejar sampai Aku harus membunuh Ayah mu?" timpal Ammar. Sayang sekali wajah nya yang datar dan tak bisa berekspresi membuat Nara semakin salah paham.
"Kau tidak ingin latar belakangmu terbongkar kan? Kau tidak ingin Ayahku mencaritahu pembunuh Nenek ku! Aku juga mendengar Kau berbicara di telepon, Kau bilang ini mengurus seseorang. Itu Ayah ku kan!" teriak Nara sangat keras. Ia benar-benar tak bisa mempercayai Ammar kali ini. Pria yang akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai.
"Seharusnya Aku tau dari awal, bahwa Kau tidak akan pernah berubah! Aku membencimu! Aku akan membunuhmu..!!"
Ammar menggenggam kuat ujung pistol itu "Tembak Aku Nara! Bunuh Aku jika memang Kau percaya bahwa Aku yang membunuh Ayah mu!"
"Kau pantas mati Ammar..!" Nara menarik pelan pelatuknya. Namun tiba-tiba kontraksi yang sedari tadi ia tahan kini mengamuk hebat. Perutnya terasa sakit sekali, membuatnya tiba-tiba menjatuhkan pistol tersebut dan memegangi perutnya.
"aahwww..!" ia mengerang kesakitan, cairan bening mengalir di sekujur kaki nya.
...~~~~...
Tiga jam lebih 40 menit, Ammar mendampingi Nara di ruang persalinan.
Semua yang barusan terjadi seolah tak pernah terjadi. Nara memegangi tangan Ammar sekuat-kuatnya, seolah meminta kekuatan agar ia bisa melahirkan anak mereka dengan selamat.
Entah apa yang menyebabkan Nara harus bersalin lebih awal, di saat usia kandungannya baru memasuki minggu ke 37. Sejak pagi Nara sudah mengalami kontraksi ringan, namun tubuhnya tak begitu merespon karena ia sangat larut dalam duka atas kepergian sang Ayah.
"Kau kuat Nara, Kau pasti bisa..." bisik Ammar saat melihat wajah Nara sudah mulai lemas.
Nara pun kembali membuka matanya, ia mendorong sekali lagi dengan sisa tenaga yang ada. Hingga tangisan bayi menggelegar nyaring memenuhi ruang persalinan. Nara berhasil, ia tersenyum dalam rimang nya pandangan.
Begitu pula dengan Ammar yang menitikkan air mata, ia mengecup kening istrinya itu sambil berbisik haru "Terimakasih Nara..."
__ADS_1
"Dokter, Ibu nya tidak sadarkan diri..!" ucap salah satu perawat yang menangani Nara. Ia memeriksa detak jantung dan tekanan darah Nara yang semakin menurun.
Nara mengalami pendarahan hebat, seketika suasana menjadi riuh oleh langkah kaki para tenaga medis yang membantu Nara. Bahkan bayi merah yang masih terbalut kain itu di tinggalkan dalam inkubator.
Dokter memeriksa, ternyata rahim yang seharusnya berkontraksi setelah pelepasan plasenta tak merespon. Hingga pembuluh dinding rahim bekas pelepasan plasenta terus mengeluarkan darah. Dokter tersebut menekan perut Nara sekuat tenaga, agar rahim kembali berkontraksi. Namun pendarahan tak kunjung behenti.
"Tolong minggir sebentar Pak." Pinta salah satu suster, ia menambahkan tekanan oksigen untuk Nara dan menyuntikkan cairan ke dalam infus.
Ammar melepaskan genggamannya pada tangan Nara. Melihat Nara tak kunjung sadarkan diri, kedua tangan Ammar bergetar. Ia bahkan tak menghiraukan bayinya yang terus menangis.
"Sadarlah Nara.., ku mohon..." pinta nya menatap lirih.
"Ya Tuhan, selamatkanlah Nara. Biarkan dia hidup bahagia." tangis Ammar pecah saat mendengar grafik detak jantung di layar monitor semakin melambat.
Tidak adil. Ammar merasa sangat tidak adil jika Tuhan mengambil nyawa Nara. Wanita itu telah mengalami ketidakadilan selama hidupynya, ia bahkan harus mengandung dan mempertahanlan bayi yang tidak di harapkan.
Ammar berdoa, setidaknya biarkan Nara hidup bebas dan bahagia. Kini nyawanya dalam ambang kematian karena melahirkan anaknya. Ammar benar-benar merasakan sakit di dadanya karena seluruh ketidakadilan yang ia perbuat pada Nara.
"Ya Tuhan, Aku berjanji akan membiarkan Nara hidup bahagia, Aku berjanji akan melepaskannya, tolong selamatkan dia Tuhan, tolong....." lirih Ammar menangis sesenggukan.
"Pendarahannya berhenti... lanjutkan pemeriksaan pada organ vital nya." ucap sang Dokter, ia mundur perlahan dengan kedua tangan berlumuran darah. Hampir saja ia kehilangan pasiennya, kini ia bisa bernafas lega.
Wadah di bawah ranjang bersalin hampir penuh dengan darah, kini Nara siap untuk di pindahkan ke ruang rawat. Walaupun ia belum siuman, Dokter sudah menyatakan ia baik-baik saja. Mereka juga akan segera memberikan Nara tranfusi darah.
"Istri dan anak Anda telah melewati persalinan dengan selamat. Kami akan segera memindahkan istri Anda ke ruang rawat inap bersama bayi Anda." Ucap sang Dokter.
Mendengar itu Ammar sangat bersyukur, Ia mengucapkan banyak terimakasih pada Tuhan karena mendengar doanya. Sesak yang tadi menghimpit batinnya kini berangsur pulih. Ia menatapi wajah Nara yang masih terpejam. Wajah wanita dengan hati yang sangat lembut, wajah wanita yang mempunyai kesabaran seluas samudra. Sampai kapan pun ia takkan pernah bisa melupakan sosok Nara, sampai kapan pun ia akan tetap menaruh cinta terakhirnya untuk Nara.
...**************...
__ADS_1