Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)

Madu Dan Racun (Bukan Kontrak Biasa)
Bab 40 : Obat bius


__ADS_3

Tanpa memberitahu Ammar, Irene menemui Sam untuk menanyakan perkembangan penyelidikan mereka.


Kali ini Sandra yang menuliskan rantai bagaimana Ayah mereka bisa terjebak dan bagaimana Damar bisa membersihkan tangannya.


"Pak Tamrin mengatakan dengan sangat yakin, bahwa Instalasi listrik sudah normal saat itu. Ia menyerahkan kunci ruang kontrol kepada salah satu staff, dan menjelaskan jangan sampai ada sembarang orang yang masuk apalagi menyalakan api di sekitar induk Instalasi. Dia juga bilang tidak akan terjadi ledakan jika seseorang tidak menyalakan api. Sayangnya kami tak bisa menemukan staff itu. Keluarga mereka bahkan melaporkan dia sebagai orang hilang karena sudah Dua hari tidak ada kabar."


"Kalian harus mencarinya?" potong Irene penasaran. Sampai saat ini belum ada yang mengetahui kalau mantan staff itu sudah tewas di tangan Irene. Jika tau begitu ia takkan membunuh orang itu kemarin.


Sam berdiri dan mengambil spidol, lalu menjelaskan kemungkinan yang ada. "Bisa saja orang itu tewas di bunuh seperti orang-orang sebelumnya. Karena sejauh ini para korban dengan ciri tiga tusukan pisau mempunyai ikatan dengan Pak Damar di masalalu."


Sam sengaja mengarahkan asumsinya kesana, ia ingin tau. Apakah kecurigaan nya terhadap Ammar dan Irene itu benar. Jika memang Irene yang membunuh, maka sudah pasti ini balas dendam. Jika Damar pasti ia ingin menghilangkan bukti.


Namun jika ternyata bukan keduanya, maka mereka harus menyelidiki lebih keras lagi siapa pelaku sebenarnya. Dan alasan Nara terlibat dengan orang-orang ini cukup patut di curigai. Dugaan terhadap Nara pun masih mereka simpan.


...~~...


Di kamar mandi Nara tengah membersihkan diri, ia bermain di dalam bathub sambil menenangkan diri. Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya tentang kecurigaan Sam pada bekas luka di kaki Irene.


Sejauh ini Ammar dan Irene masih menjadi sosok misterius baginya. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui. Sampailah pikirannya pada pintu besar yang ada di ruang bawah tanah. Waktu itu Ammar tampak berusaha mencegahnya membuka pintu itu.


Rumah yang sangat besar itu masih memiliki ruang rahasia. Kira-kira rahasia seperti apa yang tersimpan di sana?


Berhubung di rumah sedang tidak ada orang, Nara pun bergegas untuk memeriksa ruangan itu. Masih dengan handuk terbalut di atas kepala ia mulai menyusuri anak tangga.


"Gelap sekali..." gumamnya, ia sedikit merinding. Apalagi lorong tangga itu sangat luas dan gelap.


Saat hendak menapakkan kaki di anak tangga berikutnya , ia mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Ia pun buru-buru keluar berlari kembali ke kamarnya.


Begitu memasuki rumah, terdengar Ammar dan Irene bertengkar soal pertemuan yang di tinggalkan Ammar kemarin.

__ADS_1


"Kau harus menunjukkan dirimu sebagai Pemimpin Ammar!"


Ammar tak menjawab, ia berjalan menuju lift tanpa suara. Ia tau Nara ada di rumah sekarang. Namun Irene benar-benar tak bisa mengontrol emosinya.


Irene ikut masuk ke dalam lift, pintu lift pun tertutup namun mereka tak ada yang menekan tombol naik.


"Aku khawatir dia kenapa-kenapa. Kau tau kan seberapa penting gadis itu untuk rencana kita." terang Ammar, ia tampak berusaha menenangkan Irene.


"Reputasi mu juga tidak kalah penting Ammar! Meninggalkan klien besar hanya karena panggilan darinya. Untung sekertaris mu cepat menelpon ku, jika tidak maka Damar akan menganggap Kau tidak kompeten dan para petinggi pasti akan membicarakan kinerja mu. Kontrak itu berpengaruh besar untuk perusahaan."


Ammar mengecup bibir Irene agar ia berhenti mencecar. Ia tau Irene sangat mengkhawatirkan posisinya, hanya saja cara Irene mengungkapkan kemarahan memang terlihat sangat keras.


Irene terdiam, ia bahkan memejamkan mata saat Ammar mulai bermain dengan lidahnya. Jujur saja ia memang merindukan Ammar, semenjak Nara hadir. Mereka jadi tidak punya banyak waktu untuk bersama.


Tiba-tiba pintu lift terbuka otomatis. Karena mereka tidak menekan tombol naik jadi mereka tetap ada di lantai satu, dimana Nara berdiri tepat di depan lift dan menyaksikan mereka berdua sedang berCyuman.


Ammar langsung melepaskan kecupannya begitu pintu lift terbuka lebar. Ia terkejut melihat Nara berdiri di sana. Irene pun sama, ia mematung sesaat. Ia mendekati Nara perlahan kemudian dengan cepat ia menancapkan suntik bius tepat di leher Nara. Dalam hitungan detik Nara langsung tak sadarkan diri.


"Irene? Apa yang Kau lakukan?" Ammar panik sekali mengingat ada janin di perut Nara.


Irene berusaha menopang tubuh Nara yang ambruk kearahnya. "Cepat bawa dia ke kamarnya." Ia menambahkan satu suntikan lagi. Agar saat terbangun nanti Nara akan linglung dengan apa yang di lihatnya barusan.


Ammar menggendong Nara dengan sangat hati-hati. Ia sangat khawatir, apakah obat bius yang di suntikkan Irene tidak berbahaya untuk janin Nara.


Irene membantu menidurkan Nara dengan posisi paling nyaman. Selimut ia balutkan, handuk di kepala Nara ia lepaskan perlahan dan di letakkan ke kamar mandi. Agar saat bangun Nara benar-benar yakin bahwa yang ia lihat tadi cuma mimpi.


"Apa bius itu tidak berbahaya?" tanya Ammar cemas.


"Entahlah.. Akan lebih berbahaya jika dia mencurigai kita."

__ADS_1


"Kau terdengar sangat mengkhawatirkannya." imbuh Irene sedikit cemburu. Tidak salah sih Ammar khawatir karena jika Nara sampai tewas mereka akan mengulang semua nya dari awal.


"Aku takut dia mengingat semuanya..." ucap Ammar menghela nafas. Ia membawa Irene pergi dari sana.


"Bagaimana kalau dia ingat?" tanya Ammar memastikan.


"Aku akan membunuhnya." tukas Irene tanpa ragu.


...~~~...


Polisi telah menemukan mantan staff yang di cari oleh Sam. Ia di temukan hampir membusuk di salah satu rumah susun tempatnya tinggal. Setelah di identifikasi mereka menetapkannya sebagai korban dari pembunuhan berantai.


Sam dan Galih ikut menyelediki sekitar, tak ada jejak dan bukti bahwa ada orang lain di sana. Kecurigaan Sam kini terpatri pada Irene ataupun Damar.


"Dia benar-benar teliti melakukan ini." Ujar Galih tak percaya. Bahkan sedikitpun tak ada DNA pelaku di sana.


"Beginilah caranya dia menjebak Nara." sahut Sam.


"Aku mulai khawatir dengan Nara, kecurigaan ku kuat mengatakan mereka sengaja menjebak Nara ke rumah itu dengan membunuh Neneknya."


Kecurigaan Galih cukup masuk di akal, namun Sam belum bisa menentukan siapa dalangnya hanya karena Ammar menikahi Nara untuk merebut jabatan. Itu tidak bisa di jadikan motif. Jika hanya untuk merebut jabatan, lalu apa gunanya dia membunuh seorang Nenek tua.


"Aku sangat frustasi memikirkannya!" rutuk Sam kesal. Entah berapa lama lagi mereka akan terus di permainkan oleh Psikopat gila itu.


...****************...


Guysss... maafkan otor karena telat Up nya🙏😭 Gara2 ujan angin kemarin tower di desa otor mati udah seharian ini. ini kebetulan otor lagi keluar di pusat daerah, otor sempet2 in Up. Kalo besok otor belum bisa up maafin ya🙃🙏 doain towernya cepat hidup😭 karena keluar ke pusat daerah lumayan jauh. jd otor gk bisa janji besok bisa up. nasib punya otor hidup di pelosok. jd kalian harus berbesar hati.🙃


See you next episode yaa😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2