
Irene sebenarnya Putri kandung Denias dan Gita. Saat mereka tengah merintis perusahaan, Denias dan Gita sedang dalam masa berkencan. Namun tak di sangka, Gita hamil di luar nikah saat perusahaan mereka tengah merangkak naik.
Karena tak mau publik tau, pula demi menjaga popularitas perusahaan. Gita dan Denias sepakat menikah namun menyembunyikan status dan anak mereka dari sorotan publik.
Dua tahun setelah Gita melahirkan Irene, Raline pula melahirkan putra setelah 5 tahun usia pernikahannya. Ia pula tak pernah mengekspos Ammar ke sorotan publik. Ia sangat menjaga privasi keluarganya.
Media dan masyarakat hanya tau mereka memiliki anak, namun tak ada yang tau pasti berapa jumlah anak dan usia nya.
Hingga saat kebakaran yang merenggut nyawa mereka. Ammar dan Irene kecil di asuh oleh pembantu yang sudah lama melayani keluarga Dawson, yaitu Bu Lila.
Mereka di bawa ke Amerika oleh Bu Lila untuk melanjutkan pendidikan. Sementara perusahaan di urus oleh Damar. Walaupun Bu Lila yang membesarkan mereka, ia tak mau terlalu dekat dengan Ammar dan Irene. Ia murni hanya melayani sebagai pembantu, karena ia tau terlibat dalam urusan orang kaya itu tidak lah mudah.
Namun siapa sangka, Irene tumbuh menjadi gadis psikopat yang tak segan menghabisi nyawa seseorang. Terlebih jika orang tersebut sangat menganggu bagi nya. Ia merasa dengan membunuh bisa mengatasi masalah.
Ammar dan Lila yang mengetahui itu pun berusaha menghentikan, namun Irene tak bisa berhenti. Akhirnya mereka selalu menjadi orang yang membereskan kegilaan Irene tersebut.
Di usia Ammar 22 tahun, ia selesai dengan pendidikannya. Dan di bawa pulang oleh Bu Lila. Irene dan Ammar masuk ke perusahaan sebagai pemula. Agar bisa menjalankan peninggalan orang tua mereka dengan layak. Namun lambat laun Irene dan Ammar mencurigai Damar.
Perlahan kecurigaan mereka terbukti, mereka berusaha keras mencari bukti kuat namun sangat susah. Hingga akhirnya Irene memakai kegilaannya, membunuh kaki tangan yang terlibat dengan kematian orang tua nya.
Ammar tak bisa menghentikan Irene, ia hanya membereskan apa yang telah Irene lakukan. Ia tau itu salah, namun ia tak sanggup melaporkan perbuatan Irene. Ia tak mau jika harus berpisah dengan Irene, dia lah satu-satunya yang Ammar punya.
Bertahun-tahun tinggal bersama membuat mereka saling melindungi, mengasihi, menaruh rasa sayang. Mereka saling melengkapi dan pada akhirnya saling jatuh cinta.
Saat usia Ammar 25 tahun, ia kembali terbang ke Amerika untuk menikahi Irene. Status mereka di Indonesia adalah Kakak beradik, namun saat di Amerika mereka hidup dengan identitas asli. Mereka hidup dengan dua identitas, yakni suami istri dan kakak adik. Itu sebabnya Ammar hanya bisa membuat dokumen pernikahan di luar Negeri. Itu pula sebab ia merahasiakan pernikahannya dan menikahi Nara agar bisa merebut perusahaan.
Namun tak di sangka rencana Irene bukan hanya itu. Ia akan membuat Nara menanggung perbuatannya, setelah Damar berhasil ia lenyap kan. ia akan membuat semua pembunuhan itu seolah perbuatan Nara. Membunuh orang yang melecehkannya, motif yang cukup masuk akal bukan?
Setelah semua itu beres, baru lah ia akan hidup sebagai diri sendiri. Sebagai istri Ammar, dan sebagai anak dari Denias. Ia akan mengungkapkan jati dirinya yang bukan anak Pimpinan Erland. Tentu saja setelah ia berhasil menyingkirkan Damar.
__ADS_1
...~~...
Pagi ini Irene dan Ammar sudah terlihat lebih tenang. Mereka tidur satu kamar setelah pertengkaran semalam. Walaupun suasana hati Irene sungguh berantakan, ia harus tetap berakting di depan Nara agar rencana nya tak sia-sia.
"Kalian mau berangkat?" tanya Nara, ia juga sudah berpenampilan rapi hendak menghadiri persidangan kasus Damar.
"Kau mau kemana?" tanya Irene, ia sepertinya lupa kalau hari ini ada sidang.
"Kau tidak menemaninya? Hari ini kan Damar dan Nara ada sidang." Ammar juga baru ingat, Irene harus hadir sebagai saksi. Karena dia lah yang mendapatkan rekaman waktu itu.
"aah.. benar! hampir saja Aku lupa. Kau urus pekerjaan Ku. Ayo Nara, kita pergi bersama saja." Ajak Irene bersiap.
"Tunggu, Aku mau mengembalikan ini..." Nara menyerahkan kemeja Ammar. Sudah di cuci bersih dan di setrika. Ya kemeja putih yang ia pakai malam itu saat keluar dari kamar Ammar.
Ammar mendesah berat, baru saja ia berdamai dengan Irene atas kejadian itu. Kenapa Nara malah mengungkit itu dengan cara yang intens. Sungguh waktunya belum tepat, tapi mau bagaimana.
"Apa itu..?" Irene berpura-pura tak tau. Padahal batinnya terasa mendidih lagi mengingat apa yang sudah terjadi di antara mereka.
Ammar mengambil kemeja itu dari tangan Nara. Ia bisa merasakan hawa panas yang meluap dari dalam kepala Irene.
"Cepat pergi, kalian bisa terlambat." ucap Ammar mengalihkan suasana canggung itu.
...~~...
Persidangan berjalan sangat panas, bukti yang di serahkan oleh Irene ternyata di singkirkan oleh Hakim karena pengacara Damar berhasil membuat alibi pada saat kejadian itu.
Karena wajah pelaku pun tak terekam jelas, dan alibi palsu Damar cukup kuat. Akhirnya Hakim mencabut tuduhan pelecehan tersebut dan menyatakan Damar tidak bersalah atas kurang nya bukti.
"Tunggu Yang Mulia! Kenapa Anda menyingkirkan bukti Saya dengan alasan wajahnya tak terlihat jelas?Bukan kah alibi yang di buat tersangka juga tidak valid?" Irene tampak tak terima dengan hasil putusan Hakim.
__ADS_1
Pengacara Damar hanya memanggil beberapa saksi palsu. Dia membayar orang-orang itu untuk bersaksi kalau mereka bertemu dengan Damar malam itu. Tidak ada bukti rekaman, Damar benar-benar mengimbangi keculasan Irene.
"Jika Anda memiliki bukti yang kuat, silahkan ajukan banding." ucap Sang Hakim kemudian berdiri meninggalkan ruang sidang.
Irene melirik tajam ke arah Damar, seolah ia sedang membidik Pria tua itu dengan tatapannya. Anak panah yang ia luncurkan berhasil di hindari oleh Damar dengan sangat mudah. Ia juga memanipulasi bukti penggelapan dana waktu itu, hingga bisa lolos dari penyelidikan dengan sangat mudah.
Meski gagal, keadaan tampaknya masih berpihak pada Irene. Karena tuduhan palsu itu tak sampai terungkap. Kini ia hanya perlu membuktikan bahwa alibi Damar palsu. Atau jika tak berhasil juga, ia dan Ammar terpaksa memakai cara lain untuk mengungkap kebusukan Damar di masalalu.
...~~...
Malam datang, seperti biasa Ammar pulang dengan keadaan rumah gelap gulita. Ia melihat ke arah kamar Nara, suara musik begitu keras hingga terdengar ke luar kamar.
"aiss..! Apa dia membuat ruang karaoke di sana?" rutuk Ammar menghampiri.
"Hei..!" Ammar menggedor pintu kamar Nara amat keras.
Nara yang sedang karaokean langsung mematikan musiknya. "Ada yang memanggil?" gumamnya, ia berjalan ke arah pintu.
"Apa yang Kau lakukan?" ketus Ammar sesaat setelah pintu terbuka.
"Aku merasa bosan, pergilah jika Kau hanya ingin menganggu!" balas Nara tak kalah ketus, ia masih kesal atas semua nya. Lagi pula suara itu takkan terdengar sampai ke kamar Ammar.
"Apa Irene belum pulang? Ku lihat mobilnya tidak ada.."
brrakkk!
Nara langsung mengunci pintu kamarnya. Irene tidak di rumah? Apakah Ammar akan mengambil kesempatan lagi kali ini?
"Aku tidak akan diam saja kali ini..!" rutuk Nara.
__ADS_1
...*************...